Kanker payudara hingga saat ini masih menjadi ancaman kesehatan utama dan penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada wanita di seluruh dunia. Salah satu tantangan terbesar dalam pengobatannya adalah keberadaan sel induk kanker payudara atau Breast Cancer Stem Cells (BCSCs). Sel-sel ini sangat licin karena mampu memperbarui diri dan memiliki kekebalan bawaan terhadap kemoterapi maupun radioterapi konvensional. Akibatnya, sel induk inilah yang sering kali menjadi biang keladi kegagalan pengobatan, memicu penyebaran (metastasis), dan menyebabkan kekambuhan di masa depan.
Menghadapi tantangan tersebut, sebuah studi kolaboratif dari Universitas Sumatera Utara, Universitas Diponegoro dan Universitas Airlangga berhasil mengungkap strategi baru yang sangat menjanjikan. Penelitian ini tidak hanya mengandalkan obat kimia, tetapi juga berinovasi memanfaatkan kekuatan sistem kekebalan tubuh pasien sendiri. Terobosan ini difokuskan pada penggunaan sel punca mesenkimal (MSCs) yang telah “dipancing” menggunakan obat kemoterapi paclitaxel untuk mengaktifkan sel imun spesifik pembunuh kanker, yaitu sel T.
Melalui pendekatan komputasi bioinformatika yang canggih (in silico), tim peneliti membedah profil genetik dari sel induk kanker, sel yang diberi paclitaxel, sel T yang aktif, dan sel punca mesenkimal. Hasilnya, ditemukan 158 gen yang saling tumpang tindih dan membentuk jaringan komunikasi antar-sel yang sangat kompleks. Dari ratusan gen tersebut, peneliti berhasil mengidentifikasi tiga gen utama, yaitu TP53, AKT1, dan STAT3, yang bertindak sebagai pengendali sentral dalam jaringan sel kanker tersebut. Gen TP53, yang di dunia medis sering dijuluki sebagai “penjaga genom”, ditemukan paling banyak mengalami mutasi (77,5%) pada sel kanker payudara, sehingga sel kanker mampu menghindari kematian.
Kabar baiknya, ketika diuji secara langsung di laboratorium (in vitro), terapi kombinasi antara paclitaxel dan sel T yang telah diaktifkan menunjukkan hasil yang luar biasa. Kombinasi ini mampu menekan dan membunuh hingga 75% sel induk kanker payudara metastasis yang biasanya sangat kebal terhadap pengobatan standar. Tidak hanya itu, pengujian ini terbukti mampu “membangunkan” kembali gen TP53 hingga 6 kali lipat untuk melawan tumor, sekaligus menekan gen PIK3CA (gen pendukung kelangsungan hidup kanker) hingga 85%.
Penemuan ini membuka babak baru dalam pengembangan obat dan terapi kanker payudara di masa depan. Sinergi antara pendekatan komputasi molekuler dan pengujian laboratorium ini membuktikan bahwa sel induk kanker payudara bisa ditaklukkan jika kita menyerangnya dari dua arah sekaligus: merusak selnya dengan kemoterapi dan memberantas sisanya menggunakan “tentara” imun tubuh sendiri.
Sumber:
Prajoko, Y. W., Hermansyah, D., Widiandani, T., & Amalina, N. D. (2026). Integrated Transcriptomic Analysis Identifies Overlapping Gene Networks Between Breast Cancer Stem Cells and Paclitaxel-Primed Mesenchymal Stem Cell-Activated T Cells as Potential Immunotherapeutic Targets. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, 27(7), 2601-2614.
Penulis:
Dr. apt. Tri Widiandani, S.Si., Sp.FRS.
Departemen Ilmu Kafarmasian
Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga
Phone. +62 81803022660
E-mail: tri-w@ff.unair.ac.id





