Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pengaruh Pijat Olahraga Dibandingkan Pemulihan Aktif terhadap Kecemasan dan Kadar Glukosa Darah pada Perempuan Pascamenopause dengan Diabetes Tipe 2: Studi Percontohan Acak

19 Views•4 minutes read

Wanita pascamenopause mewakili populasi dengan kerentanan fisiologis dan psikologis yang khas, dan kesejahteraan mereka menjadi perhatian kesehatan global yang terus meningkat dengan implikasi sosial dan ekonomi yang luas (Elsayed et al., 2022). Di antara wanita pascamenopause, mereka yang hidup dengan diabetes melitus tipe 2 (DMT2) menghadapi tantangan tambahan dalam mempertahankan kontrol glikemik yang optimal dan kualitas hidup secara keseluruhan (Huynh et al., 2024). Penuaan fisiologis dan transisi menuju menopause berkontribusi pada perubahan di berbagai sistem organ (Li & Guo, 2024; Nontakhod et al., 2022), termasuk penurunan sel beta pankreas (Esefeld et al., 2021), yang dapat mengakibatkan gangguan sekresi insulin dan peningkatan kadar glukosa darah (Ezzo et al., 2001; Scott et al., 2021; Veseta et al., 2023; Wang et al., 2021).

Pada individu dengan diabetes, status glikemik merupakan indikator utama fungsi fisiologis (Mohammadi & Zare, 2020), sementara secara psikologis dapat dinilai melalui tingkat kecemasan (Veseta et al., 2023). Diabetes dan gejala kecemasan kini diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di seluruh dunia (Basiri et al., 2023; Tripathi et al., 2024). Kecemasan dapat menyebabkan stres yang memengaruhi sistem sympatho-adreno-medullary, yang menghasilkan gejala-gejala seperti berkeringat, hiperventilasi, serta peningkatan denyut nadi dan tekanan darah. Selain itu, kecemasan dapat menimbulkan masalah mental, emosional, perilaku, dan kesehatan (Subramaniam et al., 2019). Hal ini menunjukkan bahwa mengelola kecemasan dan kadar glukosa darah sangat krusial, khususnya bagi wanita pascamenopause penderita DMT2.

Olahraga merupakan komponen inti dalam pengelolaan diabetes dan direkomendasikan sebagai strategi lini pertama bagi individu penderita DMT2 (Kirwan et al., 2017). Aktivitas fisik secara teratur meningkatkan kesehatan umum dan kapasitas fungsional pada lansia (Nontakhod et al., 2022), serta kepatuhan terhadap rutinitas olahraga yang tepat dapat berkontribusi pada kontrol glikemik yang lebih baik pada penderita diabetes (Kasmad et al., 2022; Li & Guo, 2024; Rosdiana et al., 2024). Namun, terlepas dari manfaat olahraga yang telah terdokumentasi dengan baik, fase pemulihan (recovery) pasca-olahraga masih belum banyak diteliti, terutama di kalangan wanita pascamenopause penderita DMT2. Pendekatan seperti pemulihan aktif (active recovery) telah disarankan untuk mendukung pemulihan fisiologis setelah berolahraga (Patra et al., 2023), sementara masase olahraga (sports massage) diusulkan untuk meningkatkan proses pemulihan (Davis et al., 2020). Terlepas dari potensi manfaatnya, penerapan terapi masase pada pasien diabetes, khususnya mengenai dampaknya terhadap glukosa darah dan kecemasan, masih terbatas.

Terapi masase telah diakui secara luas dalam ilmu keolahragaan atas potensi efeknya terhadap pemulihan fisik dan kesejahteraan psikoemosional (Alauddin et al., 2023; Veseta et al., 2023). Bukti menunjukkan bahwa masase dapat meningkatkan aliran darah lokal di ekstremitas bawah dan meningkatkan rentang gerak sendi (range of motion/ROM) pada individu dengan neuropati perifer diabetik (Chatchawan et al., 2020), serta dapat membantu meredakan gejala kecemasan (Subramaniam et al., 2019). Meskipun temuan-temuan ini menjanjikan, sebagian besar penelitian yang ada berfokus pada atlet atau populasi yang lebih muda, sehingga membatasi penerapannya secara langsung pada wanita pascamenopause penderita DMT2. Selain itu, mekanisme yang diusulkan masih bersifat hipotetis, karena mediator fisiologis seperti Heart Rate Variability (HRV) atau kortisol tidak dinilai dalam sebagian besar penelitian dan tidak diukur dalam penelitian ini.

Penelitian terdahulu telah menunjukkan bahwa wanita setelah menopause mengalami penurunan kualitas hidup, yang didukung oleh peningkatan tingkat depresi (Elsayed et al., 2022). Latihan kekuatan meningkatkan kemampuan fungsional, kualitas hidup terkait kesehatan, dan kesejahteraan secara keseluruhan pada lansia (Sánchez-Roa et al., 2024). Studi sebelumnya menunjukkan bahwa wanita pascamenopause dengan DMT2 memerlukan penanganan yang tepat, termasuk olahraga, untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup mereka (Huynh et al., 2024). Intervensi komplementer seperti kombinasi aktivitas fisik dan terapi masase dapat lebih meningkatkan kesejahteraan mental pada wanita lansia (Nontakhod et al., 2022). Namun, sejauh mana masase pasca-olahraga atau pemulihan aktif secara spesifik memberikan manfaat bagi wanita pascamenopause penderita DMT2 belum diselidiki secara mendalam.

Meskipun terdapat bukti baru mengenai olahraga dan masase pada berbagai populasi, masih terdapat kekurangan penelitian berfokus yang menilai strategi pemulihan pasca-olahraga pada wanita pascamenopause penderita DMT2. Penelitian yang membandingkan pengaruh sports massage dan active recovery terhadap hasil glikemik maupun kecemasan pada populasi ini masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek sports massage dibandingkan active recovery yang dilakukan setelah senam aerobik low-impact terhadap kadar glukosa darah dan tingkat kecemasan pada wanita pascamenopause penderita DMT2.

Penulis: Prof. Dr. Ah. Yusuf S., S.Kp., M.Kes.

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://scholar.unair.ac.id/en/publications/the-effects-of-sports-massage-versus-active-recovery-on-anxiety-a

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
If loading takes to long, go back to home by click here .