Tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan primer seringkali gagal mengenali atresia bilier karena sangat mirip dengan penyakit kuning fisiologis. Deteksi dini merupakan hal yang penting dalam memastikan penanganan atresia bilier yang optimal. Penundaan dalam merujuk kasus atresia yang masih menjadi masalah di seluruh dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengetahuan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan primer mengenai ikterus yang berkepanjangan sebagai tanda awal atresia bilier. Sebuah studi potong lintang dilakukan di fasilitas kesehatan primer dengan menggunakan kuesioner. Sebanyak 271 responden berpartisipasi dalam penelitian ini, antara lain bidan (63,8%), perawat (24,4%), dan dokter (8,5%).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 73,8% responden setuju bahwa bayi dengan ikterus berkepanjangan perlu dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin serum. Namun, 40,2% responden menunjukkan bahwa tinja pucat dan urin berwarna gelap pada bayi kuning adalah gejala penyakit kuning fisiologis. Mengenai definisi penyakit kuning yang berkepanjangan, 209 (77,1%) responden memberikan jawaban yang menunjukkan durasi lebih dari dua minggu. Sebanyak 137 (50,6%) responden menyatakan bahwa atresia bilier adalah penyakit yang harus disingkirkan terlebih dahulu pada kasus ikterus yang berkepanjangan. Namun demikian, 86 (31,7%) dan 87 (32,1%) responden juga menyebutkan bahwa ikterus yang disebabkan karena kurang menyusui dan ikterus akibat konsumsi ASI harus dipertimbangkan sebagai penyebab potensial yang harus disingkirkan. Studi ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan primer masih memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai kolestasis. Edukasi mengenai ikterus berkepanjangan di fasilitas kesehatan primer perlu ditingkatkan untuk meningkatkan keberhasilan deteksi dini atresia bilier.
Penulis: Dr. Bagus Setyoboedi, dr.,Sp.A(K), Prihaningtyas RA, Nesa NNM
Primary Healthcare Providers’ Knowledge on the Early Detection of Biliary Atresia. Folia Medica Indonesiana 60 (1), 85-93. doi: https://doi.org/10.20473/fmi.v60i1.48446
Baca Juga: Profil Pasien Dermatitis Atopik di RSUD Dr Soetomo





