Universitas Airlangga Official Website

Penggunaan Telemedicine di Fasilitas Kesehatan Selama Pandemi Covid-19

IL by KlikDokter

Dampak pandemi COVID-19 menyebabkan kebutuhan akan telemedicine meningkat. Pengembangan konsultasi online dapat membantu memantau kondisi pasien dan mengetahui kebutuhan akan emergency room. Namun, pengembangan telemedicine di negara berkembang masih belum efektif disebabkan keterbatasan akses teknologi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penggunaan telemedicine di penyedia layanan kesehatan selama pandemi COVID-19, membandingkan perbedaan dan kemiripan terkait penggunaan layanan tersebut, dan menentukan hambatan dan dukungan dari penggunaan telemedicine.

Penelitian ini merupakan literature review dengan penentuan kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan population, intervention, comparation, outcome, and theory (PICOT). Artikel yang dianalisis adalah artikel terindeks Scopus. Pengumpulan data dilakukan dari 10 Januari – 5 Juli 2020. Kata kunci yang digunakan adalah “telemedicine” AND “COVID-19” AND “health facilities”. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah artikel yang dipublikasikan tahun 2020-2021, ditulis dalam Bahasa Inggris, dan sesuai dengan tujuan penelitian. Penelitian ini tidak dibatasi berdasarkan negara atau metode. Proses pengumpulan data menggunakan diagram PRISMA (preferred reporting items for systematic reviews and meta analysis). Terdapat 7 artikel yang dianalisis dalam penelitian ini.

Pandemi COVID-19 menyebabkan penggunaan telemedicine sebesar 44% untuk pertama kali. Setelah pandemi COVID-19, penggunaan telemedicine meningkat hingga 78,8%. Penggunaan telemedicine sebagai salah satu upaya untuk mencegah penyebaran COVID-19 dan peningkatan efisiensi biaya operasional dan sumber daya manusia. Metode telemedicine beragam meliputi audio, video, fax, email, telepon, dan pesan elektronik.

Penggunaan telemedicine selama pandemi COVID-19 menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi. Hasil penelitian di United Kingdom menunjukkan bahwa 99% pasien merasa puas dan sangat puas terhadap penggunaan telemedicine.

Hasil penelitian ini menjelaskan tentang kemungkinan penggunaan telemedicine di era setelah pandemi, baik untuk layanan klinis maupun non-klinis. Telemedicine dapat mengoptimalkan reliabilitas dan privasi antara pasien dengan dokter. Telemedicine juga dapat disediakan dengan pengawasan digital dan konferensi video untuk memudahkan pasien yang memiliki kesulitan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Selama pandemi COVID-19 menunjukkan adanya penggunaan telemedicine secara besar-besaran. Telemedicine berhasil memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi kesehatan di banyak platform, seperti whatsApp, email, messanger, dan lain sebagainya. Telemedicine juga menyediakan layanan tindak lanjut untuk pasien. Terdapat penggunaan layanan yang terintegrasi dengan sistem kesehatan.

Mayoritas studi menunjukkan penggunaan telepon lebih banyak dibandingkan video. Studi lain menunjukkan kebutuhan untuk menyediakan pendidikan bagi pasien dalam mendukung layanan kesehatan seperti rekomendasi latihan fisik, pengukuran dan pemantauan kadar gula darah, dan jumlah konsumsi karbohidrat.

Pemanfaatan telemedicine terbukti efektif dan sebagai cara untuk menyediakan pelayanan kesehatan selama pandemi COVID-19 dan meningkatkan efisiensi biaya dan sumber daya lainnya. Pengguna telemedicine juga menunjukkan umpan balik yang positif. Namun, terdapat beberapa hambatan dalam pelayanan telemedicine.

Hambatan tersebut meliputi penggunaan telemedicine yang belum dapat mengenali mekanisme yang berdampak pada kondisi mental pasien maupun pengasuh pasien. Kurangnya multidisiplin penerapan telemedicine yang mungkin disebabkan tidak adanya regulasi terkait telemedicine yang berlaku secara global. Perbedaan peraturan penggunaan telemedicine di seluruh negara, perbedaan norma budaya dan sosial, dan kebijakan yang mungkin kontras dengan praktik telemedicine. Selain itu, kesan pertama penggunaan telemedicine yang tidak cukup baik disebabkan hubungan antara pasien dengan tenaga kesehatan tidak dapat dibangun secara langsung. Kurangnya pengetahuan dan kemampuan untuk mengakses teknologi juga menjadi hambatan bagi masyarakat di daerah pedesaan. Sehingga masih diperlukan upaya perbaikan baik secara teknis maupun kebijakan terkait.

Faktor pendukung penggunaan telemedicine antara lain terdapat rekomendasi dari WHO tentang penggunaan telemedicine selama pandemi COVID-19, terdapat respon positif dari pengguna telemedicine, dan proporsi tingkat kepuasan pasien terhadap telemedicine >70%. Terdapat kemungkinan mengembangkan layanan telemedicine untuk penggunaan setelah pandemi dan terdapat dukungan pemerintah berupa kebijakan tertulis terkait telemedicine. Selain itu, beragam fitur telemedicine seperti layanan konsultasi, penilaian rekam medis pasien, dan adanya rekomendasi/rujukan ke klinik terdekat. Telemedicine diharapkan menyediakan bantuan psikologis pada pasien individu maupun kelompok. Penggunaan telemedicine menunjukkan tidak kalah handal dengan pelayanan konvensional, sehingga memungkinkan penggunaan telemedicine sebagai alternatif perawatan kesehatan. 

Penulis: Widya Hapsari Murima, Ahmad Rido’I Yuda Prayogi, Aisyah Putri Rahvy, Nuranisah Djunaedi, Inge Dhamanti

Artikel lengkap dapat diakses di https://e-journal.unair.ac.id/JAKI/article/view/30199/23560