Universitas Airlangga Official Website

Peran Energi Terbarukan di Asia Selatan

Peran Energi Terbarukan di Asia Selatan
Sumber: Rheem

Pencemaran lingkungan tetap menjadi masalah mendesak di seluruh dunia dengan CO2 yang diakui sebagai faktor utama pemanasan global yang mengancam kehidupan manusia.  Sementara itu, ekonomi global terus berkembang seiring dengan peningkatan penggunaan energi. Secara global, penggunaan energi diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,3% pada tahun 2023 akibat pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2030, kebutuhan energi diproyeksikan akan meningkat sebesar 60% dengan peningkatan emisi CO2 yang menyertainya (World Energy Outlook, 2023). Melestarikan sumber daya alam dan mengurangi pencemaran ekologi sangat penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak membahayakan keberlanjutan lingkungan.

Pencemaran lingkungan menciptakan tantangan besar bagi pembangunan berkelanjutan dan keseimbangan ekologi di negara-negara Asia Selatan seperti India, Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka, dan Nepal. Negara-negara ini memiliki sektor keuangan yang berkembang dan semakin menekankan pada energi hijau, namun menghadapi dilema antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di Asia Selatan telah mendorong perluasan industrialisasi, urbanisasi, dan penggunaan energi. Meskipun kemajuan ekonomi penting untuk kesejahteraan, hal ini seringkali menghasilkan lebih banyak pencemaran lingkungan. Tantangan terbesar bagi negara-negara ini adalah bagaimana menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Sebuah studi terbaru yang berjudul “Interactions among the primary causes of carbon dioxide emissions in selected south Asian countries: Does renewable energy mitigate carbon dioxide emissions?” yang merupakan kolaborasi dari peneliti Bangladesh dan Dr. Miguel Angel Esquivias Padilla, M.SE, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Ekonomi Pembangunan, mengkaji bagaimana konsumsi energi terbarukan dapat membantu mengurangi emisi CO2 di negara-negara Asia Selatan dengan menggunakan data CO2 sebagai variabel dependen dan tingkat pertumbuhan GDP, perkembangan sektor keuangan, konsumsi energi terbarukan, ekspor, dan juga tingkat pertumbuhan populasi sebagai variabel independen. Penelitian ini menggunakan model “Autoregressive Distributed Lag (ARDL)” untuk menganalisis data dari tahun 1990 hingga 2021. Hasil dari penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat untuk menemukan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi energi terbarukan mempengaruhi secara signifikan dalam mengurangi emisi karbondioksida di negara-negara Asia Selatan.  Hasil estimasi menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1% dalam penggunaan energi terbarukan dapat menurunkan emisi karbon sebesar 0,58%. Ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi energi terbarukan, seperti panel surya dan turbin angin, berperan penting dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang merusak lingkungan. Negara-negara di Asia Selatan telah mulai berinvestasi dalam energi bersih, tetapi masih ada banyak ruang untuk meningkatkan skala penggunaan energi terbarukan. Namun, ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi. Meskipun energi terbarukan terbukti efektif dalam mengurangi emisi, integrasi teknologi ini ke dalam sistem energi nasional masih memerlukan biaya besar dan dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah. Investasi dalam riset dan pengembangan energi terbarukan sangat penting untuk memastikan transisi yang berkelanjutan menuju energi bersih.

Berbeda dengan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi dan ekspor memiliki dampak yang berbeda-beda di tiap negara. Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi dapat membawa dampak yang serius terhadap kerusakan lingkungan. Peningkatan aktivitas industri, urbanisasi, dan penggunaan energi yang tinggi menjadi penyebab utama kenaikan emisi karbon. Namun, dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa pertumbuhan ekonomi bisa menjadi peluang bagi negara-negara untuk mengadopsi teknologi yang lebih bersih dan ramah lingkungan dengan banyak berinvestasi dalam energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan biomassa sehingga dapat membantu menekan emisi karbon di masa depan.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa financial development berpengaruh pada tingkat emisi karbon di Asia Selatan. Ketika sektor keuangan berkembang dan akses ke kredit meningkat, industri semakin mudah memperluas operasi mereka. Hal ini berpotensi meningkatkan emisi karbon, terutama jika perusahaan tidak mengadopsi teknologi yang ramah lingkungan.

Selain faktor ekonomi dan energi, pertumbuhan penduduk juga menjadi penyumbang besar terhadap peningkatan emisi karbon. Dengan populasi yang terus bertambah, kebutuhan energi dan sumber daya pun meningkat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1% dalam pertumbuhan penduduk akan meningkatkan emisi karbon sebesar 0,22%.

Penelitian ini menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan di Asia Selatan. Energi terbarukan muncul sebagai solusi utama untuk mengurangi emisi karbon dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Negara-negara di Asia Selatan harus meningkatkan investasi dalam energi bersih dan memperkuat regulasi yang mendukung penggunaan energi terbarukan. Selain itu, sektor keuangan harus diarahkan untuk mendukung investasi dalam teknologi ramah lingkungan dan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak terjadi dengan mengorbankan kualitas lingkungan. Dengan strategi yang tepat, Asia Selatan bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tanpa memperparah krisis iklim global.

Pebulis: Dr. Miguel Angel Esquivias Padilla, M.SE.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/interactions-among-the-primary-causes-of-carbon-dioxide-emissions

Baca juga: Dampak Bencana Alam terhadap Energi Terbarukan di Asia