Universitas Airlangga Official Website

Perbandingan Beberapa Paramater Hatchery 3 Spesies Ikan Kerapu

Foto by Melek Perikanan

Kerapu adalah ikan budidaya laut yang bernilai tinggi, terutama jika dijual dalam keadaan hidup. Industri budidaya kerapu telah meroket dalam dekade terakhir, dan banyak spesies kerapu telah dibudidayakan secara luas di Cina dan negara-negara Asia Tenggara. Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), kerapu bebek (Cromileptes altivelis), dan kerapu sunu (Plectropomus leopardus) merupakan beberapa jenis kerapu yang memiliki permintaan dan harga yang tinggi di pasaran, dan termasuk dalam 11 jenis ikan kerapu yang sering diperdagangkan. Benih dari ketiga jenis kerapu tersebut telah berhasil diproduksi massal di Indonesia.

Produksi benih yang handal masih menjadi kendala dalam mengembangkan industri budidaya kerapu. Larvikultur kerapu umumnya dibatasi oleh kelangsungan hidup yang buruk dan tidak konsisten. Keterbatasan utama untuk keberhasilan larvikultur adalah bukaan mulut larva yang kecil sehingga butuh pakan yang berukuran kecil pada saat pertama kali makan, dan adanya kematian yang tinggi pada berbagai tahap selama proses pemeliharaan larva. Meskipun ketiga jenis ikan kerapu tersebut (sunu, bebek, dan macan) telah berhasil dibudidayakan, namun kendala dalam budidaya larva yang telah dijelaskan tersebut masih muncul di hatchery (pembenihan). Penelitian ini membandingkan beberapa parameter pembenihan pada ketiga spesies kerapu yang mewakili tiga genus yang berbeda (Epinephelus, Cromileptes, dan Plectropomus).

Inkubasi telur dan pemeliharaan larva dilakukan dalam bak beton (3 x 3 x 1,2 m3) yang diisi air laut 6-7 m3. Telur ditebar dengan kepadatan 100.000 butir/tangki. Larva kerapu dipelihara sampai menjadi juvenil. Telur-telur tersebut diinkubasi hingga menetas dalam wadah dan media yang sama dengan tempat pemeliharaan larva. Larva dipelihara sampai 60 hari (hari setelah menetas), dan data diambil dari pemeliharaan untuk kultur larva tiga siklus. Pengelolaan pemeliharaan larva kerapu mengikuti Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Parameter percobaan yang diamati adalah diameter telur, daya tetas, lebar bukaan mulut larva, indeks aktivitas kelangsungan hidup, perkembangan larva, dan pertumbuhan panjang tubuh total.

Berdasarkan data yang diamati, diameter telur, panjang total larva yang menetas, dan lebar bukaan mulut larva terbesar diamati pada kerapu macan. Hubungan antara diameter telur, ukuran larva, dan bukaan mulut larva adalah proporsional. Nilai daya tetas pada ketiga jenis kerapu hampir sama. Waktu kelangsungan hidup tertinggi, indeks aktivitas kelangsungan hidup, dan tingkat kelangsungan hidup; dihasilkan pada kerapu macan.

Jumlah rotifera tertinggi terdapat pada perut larva ikan kerapu macan. Kepadatan rotifer dalam media kultur cenderung menurun seiring dengan lamanya masa pemeliharaan. Jumlah rotifera terendah terlihat pada media kultur larva kerapu macan. Panjang total tiga jenis kerapu meningkat sebanding dengan panjang masa pemeliharaan. Panjang total tertinggi diamati pada kerapu macan. Beberapa parameter pembenihan pada ketiga jenis ikan kerapu memiliki perbedaan. Kerapu macan memiliki performa larva terbaik dibandingkan dengan kerapu bebek dan kerapu sunu.

Penulis: Darmawan Setia Budi, S.Pi., M.Si.

Informasi lebih lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://journal.ipb.ac.id/index.php/hayati/article/view/39329/23677

(Ismi, and Budi, 2022)

Ismi, S., & Budi, D. S. (2022). Some Hatchery Parameters of Three Species of Groupers: Tiger Grouper (Epinephelus fuscoguttatus), Humpback Grouper (Cromileptes altivelis), and Leopard Coral Grouper (Plectropomus leopardus). HAYATI Journal of Biosciences29(6), 762-770.