Universitas Airlangga Official Website

Perbandingan Kadar Protein Pengikat Asam Lemak Usus pada Pasien Bedah Otorinolaringologi Mikroskopis

Foto by Alodokter

Protein pengikat asam lemak usus atau yang dikenal dengan intestinal-fatty acid binding protein (I-FABP) diduga dapat digunakan sebagai prediktor hipoperfusi jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat I-FABP antara sebelum dan sesudah operasi serta faktor penentunya yang berhubungan dengan pasien yang mendapat tindakan bedah otorinolaringologi menggunakan anestesi umum dengan teknik hipotensi terkontrol.

Penelitian ini merupakan studi crosssectional yang dilakukan pada pasien yang menjalani operasi elektif di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Subjek penelitian adalah pasien yang mendapat tindakan anestesi umum dengan teknik hipotensi terkontrol. Sampel penelitian diambil melalui pengukuran kadar I-FABP dengan menggunakan metode ELISA pada 1 jam sebelum operasi dan 30 menit setelah anestesi umum berakhir. Uji Fisher dan Mann-Whitney digunakan dalam menganalisis data yang diperoleh. Anestesi umum diinduksi dengan pemberian fentanyl 1–2 mcg/kg IV, propofol 1–2 mg/kg IV, rokuronium 0,6–1,2 mg/kg IV, dan praoksigenasi 100% FiO2 selama lima menit. Selama tindakan anestesi, pasien diberikan analgesik intraoperatif fentanyl 1 mcg/kgBB intravena intermiten. Inhalasi gas isofluran 1.2 Vol% FiO2 40% flow 3 lpm, volume tidal 8 ml/kg, frekuensi 16 x/menit dengan target EtCO2 35 dan target SpO2>95%. Indeks mean arterial pressure (MAP) dan bispektral dicatat setiap 15 menit setelah induksi anestesi.

Anestesi umum merupakan teknik anestesi yang sering digunakan untuk mempermudah operasi bagi operator, memberikan kenyamanan pasien, dan mencegah pasien tersadarkan diri

selama prosedur pembedahan dilakukan. Pada pembedahan otorinolaringologi mikroskopis, ahli anestesi harus mengelola hemostasis karena perdarahan yang rumit cenderung mempersulit visualisasi. Beberapa metode digunakan untuk mengurangi jumlah perdarahan, termasuk posisi elevasi kepala 15 derajat, infiltrasi adrenalin dengan dosis 1:50.000-1:200.000, dan hipotensi terkontrol.

Hipotensi terkontrol adalah salah satu teknik yang diterapkan dalam bedah otorinolaringologi mikroskopis yang bermanfaat dalam meminimalisir jumlah perdarahan, meningkatkan visualisasi area operasi, mempersingkat durasi operasi, dan mengurangi risiko timbulnya komplikasi. Teknik ini dilakukan dengan menurunkan tekanan darah sistolik ke kisaran 80-90 mmHg dengan MAP 50–65 mmHg, atau dengan mengurangi MAP 20–30% dari baseline.

Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat 31 pasien yang mendapatkan tindakan bedah dengan anestesi umum dan teknik hipotensi terkontrol. Nilai median yang didapatkan sebelum dan sesudah pembedahan adalah 0,639 ng/mL dan 0,779 ng/mL. Ditemukan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan setelah tindakan hipotensi terkontrol dilakukan (p<0.001). Perubahan kadar I-FABP pada sebelum dan sesudah pembedahan tidak berhubungan dengan jenis kelamin (p=0,333) dan skor ASA (p=0,060). Begitu juga dengan durasi pembedahan, durasi anestesi, tekanan darah sistolik dan diastolik, serta MAP yang tidak menunjukkan adanya perubahan kadar I-FABP (p>0,05).

Nilai rata-rata I-FABP yang diperoleh pada penelitian ini masih berada dalam kisaran normal. I-FABP tidak ditemukan dalam plasma individu sehat. Konsentrasi normal I-FABP pada individu normal adalah kurang dari 2,0 ng/mL yang bermakna bahwa I-FABP dirilis sebagai akibat hipoperfusi, namun kadarnya masih dalam batas normal. I-FABP sangat sensitif terhadap perfusi darah. ketika iskemia usus terbatas kurang dari dua jam, vili terpengaruh sementara sel crypt tidak terpengaruh, dan fungsinya dapat dipulihkan dengan cepat. Karena I-FABP diekspresikan utamanya dalam vili, bukan dalam selcrypt, yang mana merupakan organ usus pertama yang terdampak hipoperfusi.

Penurunan oksigenasi epitel usus dapat menyebabkan kerusakan pada ujung vili usus. Saat menilai I-FABP sebagai penanda cedera jaringan klinis, protein berdifusi lebih cepat di ruang interstisial, kemudian celah endotel, dan berakhir ke ruang vaskular. Celah endotel bervariasi dalam berbagai ukuran, mulai dari celah besar di hati hingga pori-pori yang lebih kecil seperti penghalang darah-otak. Akibatnya, tingkat difusi protein ke dalam sirkulasi bervariasi. Oleh karena itu, kemunculan penanda protein ini dalam plasma tidak hanya dipengaruhi oleh waktu perkembangan penyakit tetapi juga oleh ukuran dan distribusinya. Peningkatan I-FABP lebih tinggi pada kondisi akut seperti multitrauma dengan dan tanpa trauma abdomen dibandingkan pada populasi umum. Dalam penelitian ini, kami menemukan penurunan kadar I-FABP dalam lima kasus. Hal ini dapat terjadi pada pasien yang memiliki masalah dengan penyerapan lemak.

Penulis: Maulydia, dr., SpAn., KIC

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/3893

Atmajaya Y, Wibowo MS, Airlangga PS, Maulydia, Kriswidyatmo P, Yusuf M, Utomo, B. Comparation of intestinal fatty acid binding protein (I-FABP) level between per- and post-surgery and its associated determinants in patients with microscopic otorhinolaryngology surgeries. Bali Medical Journal. 2022; 11 (3): 1855-1859;  https://doi.org/10.15562/
bmj.v11i3.3893
.