Pengukuran antropometri merupakan salah satu metode yang telah digunakan secara luas untuk membedakan antara jenis kelamin pada studi forensik. Tulang kranium pada laki-laki dan perempuan memiliki ukuran yang berbeda, dan hal ini dapat melengkapi parameter dimorfisme seksual lainnya, utamanya pada sampel populasi dewasa.
Tulang kranium memiliki dua komponen utama, yaitu kalvaria dan basis kranium. Keduanya saling melengkapi dan panjang tulang kranium dapat menjadi salah satu parameter penentu dalam kalkulasi volume kepala dan otak. Tulang kranium, panjangnya ditentukan dari titik depan bagian atas hidung sampai titik belakang yang paling menonjol dari tulang kepala bagian oksipital belakang. Meskipun demikian, data yang dilaporkan dari Indonesia masih belum banyak dilaporkan dan yang bersumber dari radiografi foto Rontgen kepala posisi depan belum banyak dianalisis. Hal inilah yang mendorong im peneliti dari Departemen Anatomi, Histologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia dan Universitas Teknologi Mara, Malaysia untuk melaksanakan studi tentang perbedaan antara panjang tulang kranium dewasa laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan basis data yang dapat digunakan bagi studi berikutnya. Studi ini dilaksanakan melalui sefalometri Rontgen kepala posisi antero-posterior terhadap 50 kasus sehat tanpa kelainan, dengan menggunakan piranti lunak yang terstandar oleh tim yang terlatih.
Kami menemukan bahwa ukuran rerata panjang tulang kranium pada kelompok laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan yang bermakna. Pada laki-laki panjangnya lebih besar dibandingkan perempuan, dan hal ini dapat dijadikan salah satu tolok ukur antropometri dimorfisme seks. Studi kali ini memiliki keterbatasan jumlah sampel namun menunjukkan adanya keunggulan sefalometri radiografi karena lebih praktis dan tidak invasif bila dibandingkan dengan penelitian serupa yang menggunakan metode ukur dari tulang maupun manusia. Penelitian ini telah diterbitkan pada jurnal internasional bereputasi dan terindeks Scopus dengan detil yang ada di bagian akhir artikel.
Penulis: Prof. Viskasari P. Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K)., Ph.D.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Ksatria AB., Kalanjati VP., Prasetyowati L., Woon CK. Malaysian Journal ofMedicine and Health Sciences (2026)22(SUPP6):48-54.doi:10.47836/mjmhs.22.s6.8





