Angka kejadian defek tulang semakin meningkat pada satu dekade terakhir ini. Prevalensi tersebut pada negara maju maupun berkembang mempunyai proporsi yang linear dengan tingkat kepadatan dan aktivitas penduduk. Tercatat sekitar 41,8% laki-laki dan 90% wanita di Indonesia terkena penyakit osteopenia. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia didapatkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi kejadian cedera dari tahun 2007 sebesar 7,5% menjadi 9,2% pada tahun 2018. Bahkan pada tahun 2050, diperkirakan akan adanya peningkatan jumlah penderita defek tulang pelvis pada 50% populasi Asia.
Berbagai strategi terapi diterapkan untuk mengatasi fraktur tulang dengan tujuan mencegah infeksi infeksi tulang, penyembuhan fraktur yang lebih cepat dan mengembalikan fungsi tulang berfungsi secara fisiologi. Prosedur penggantian tulang yang biasa disebut sebagai bone grafting atau cangkok tulang adalah prosedur operasi dengan menggunakan material tertentu. Cangkok tulang merupakan teknik terapeutik yang umum digunakan untuk rekonstruksi dan fasilitasi regenerasi tulang akibat patah tulang. Ada beberapa jenis metode cangkok tulang, yaitu autografting, allografting, xenografting, dan alloplastic. Autograft yang merupakan gold standard dalam cangkok tulang merupakan teknik cangkok tulang yang berasal dari bagian tulang sehat pasien yang ditransplantasikan ke bagian yang mengalami defek tulang pasien itu sendiri.
Implan pelet BHA-GEL (bovine hydroxyapatite – gelatin) terbukti mampu mempercepat proses perbaikan tulang dengan melihat persentase pembentukkan tulang baru dan kontak antara komposit dan tulang. Berdasarkan hasil dari tersebut, maka dilakukan penelitian yang dilakukan dengan cara menempatkan implan pelet BHA-GEL (9:1) pada defek tulang femoralis pada kelinci dan disertai dengan 500 mg suplemen oral BHA atau kalsium laktat untuk menentukan efektivitas penambahan suplemen.
Model penelitian yang digunakan adalah model burr hole defect dengan diameter in 4,2 mm pada bagian kortikal femur kelinci. Pada hari ke 7, 14 dan 28 setelah pengobatan, total 48 kelinci New Zealand dibagi menjadi empat kelompok yaitu defek (kontrol), implan, implan + BHA oral, dan implan + kalsium laktat oral. Hewan uji selanjutnya di-sacrifice dan dievaluasi melalui hasil radiologi, pengamatan histologis dengan penggunaan pewarnaan Hematoxylin-Eosin, gambaran vascular endothelial growth Factor (VEGF) dan osteokalsin menggunakan imunohistokimia, serta konsentrasi bone alkaline phosphatase (BALP) dan kalsium menggunakan ELISA.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi BHA oral dengan implan pelet BHA-GEL menunjukkan penyembuhan cacat tulang yang lebih cepat dibandingkan dengan kalsium laktat oral dengan implan pelet BHA-GEL. Penelitian ini mampu melengkapi hasil penelitian – penelitian sebelumnya sehingga menambah bukti positif yang diberikan dari diproduksinya Bovine Hydroxyapatite.
Penulis: Aniek Setiya Budiatin, Junaidi Khotib, Samirah Samirah, Chrismawan Ardianto,
Maria Apriliani Gani, Bulan Rhea Kaulika Hadinar Putri, Huzaifah Arofik, Rizka Nanda Sadiwa, Indri Lestari, Yusuf Alif Pratama, Erreza Rahadiansyah, dan Imam Susilo
Link Jurnal: https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/15495





