UNAIR NEWS – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) terus mendampingi kader SMART Posyandu di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari. Setelah menghadirkan sejumlah peralatan untuk mendukung kegiatan produksi dan pelayanan kesehatan, TEP UNAIR mengajak kader mencoba langsung cara pemanfaatannya dalam kegiatan rapat koordinasi (rakor) pada Kamis (24/9/2026).
Uji coba tersebut menjadi bagian dari pendampingan Tim yang diketuai oleh Dr Muthmainnah SKM MKes. Kegiatan ini tidak semata-mata memperkenalkan fungsi alat, tetapi juga membantu kader memahami cara penggunaan, perawatan, dan pengelolaan peralatan secara bersama.
Menguji Kesiapan Kader
Pada kegiatan produksi, kader mencoba vacuum sealer, spinner, steamer, dan automatic slicer. Setiap alat mendukung tahapan berbeda, mulai dari mengiris bahan, mengurangi minyak setelah penggorengan, mengukus bahan, hingga menutup kemasan.
Pengalaman mencoba alat secara langsung membantu kader melihat perubahan alur kerja produksi. Automatic slicer, misalnya, memungkinkan kader menghasilkan irisan bahan secara lebih seragam, sementara vacuum sealer membantu mereka menyiapkan kemasan dengan lebih rapat.
Bagi Muthmainnah, proses tersebut penting karena keberadaan alat perlu berjalan bersama kemampuan kader dalam mengelolanya. Kader tidak cukup hanya dengan mengetahui fungsi setiap peralatan, tetapi perlu memahami cara merawat dan mengatur penggunaannya agar alat dapat mereka manfaatkan secara berkelanjutan.
“Sesudah ini, pekerjaan kami adalah mendampingi kader sampai mereka terbiasa menggunakannya. Kader perlu bisa mengoperasikan dan merawat alat agar manfaatnya dapat terus mereka rasakan,” jelasnya.
Perkuat Layanan Kesehatan
Selain peralatan produksi, Tim menguji pemanfaatan timbangan analisis komposisi tubuh dan quantum analyzer dalam kegiatan SMART Posyandu. Timbangan tersebut dapat memberikan perkiraan sejumlah indikator tubuh sesuai kemampuan perangkat dan membantu kader dalam memahami pola makan serta aktivitas.
Pada penggunaan quantum analyzer, kader perlu memahami fungsi dan batas perangkat. Tim menekankan agar kader tidak menjadikan hasil pengukuran sebagai diagnosis atau pengganti pemeriksaan tenaga kesehatan.
Menurut Muthmainnah, pemanfaatan peralatan kesehatan membutuhkan ketelitian yang berbeda dari peralatan produksi.
“Untuk alat kesehatan, penggunaannya harus mengikuti arahan tenaga kesehatan dan hasilnya tidak boleh ditafsirkan sembarangan,” tuturnya.
Pendampingan selanjutnya akan membantu kader membangun kebiasaan penggunaan dan perawatan alat, pencatatan kegiatan, serta koordinasi ketika membutuhkan dukungan tenaga kesehatan. Melalui langkah tersebut, TEP UNAR mendorong SMART Posyandu Prafi memiliki kapasitas untuk mengelolanya dan menjaga manfaatnya dalam jangka panjang.
Upaya ini selaras dengan SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) SDGs 9 (Industri, Inovasi dan Infrastruktur), serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Khefti Al Mawalia
