UNAIR NEWS – Menutup rangkaian konferensi internasional SDGs CONNECT 2026, Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar sesi paralel Satellite Garda Ksatria Airlangga Mahagana IKA Airlangga pada Jumat (16/10/2026). Sesi bertema penanggulangan bencana tersebut berlangsung di Hall Amerta, Lantai 4 Gedung Rektorat Kampus MERR-C UNAIR.
Hadir sebagai pembicara, Ketua Garda Ksatria Airlangga, Dr Bambang Pujo Semedi dr SpAn-TI SubspTI(K), memaparkan materinya bertajuk Disaster emergency response: What it is and how it works. Dalam pemaparannya, ia menyoroti kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari belasan ribu pulau sehingga memiliki tingkat kerentanan bencana yang sangat kompleks sepanjang tahun.
Respon Terintegrasi dan Sistem Klaster
Menurut Dr Bambang, penanganan darurat bencana di Indonesia tidak dapat diselesaikan secara konvensional, melainkan harus berpijak pada sistem kesehatan yang terkoordinasi secara terpadu. Selain itu, operasi kemanusiaan wajib memegang teguh empat prinsip utama, yakni humanity, impartiality, neutrality, dan independence.
“Penanganan darurat bencana intinya adalah respon sistem kesehatan yang terkoordinasi. Kita harus memegang teguh prinsip kemanusiaan dan netralitas, di mana kelompok yang paling membutuhkan wajib menjadi prioritas utama tanpa membedakan latar belakang,” tegas Dr Bambang.
Ia menambahkan bahwa Indonesia telah menerapkan sistem klaster nasional dalam penanggulangan bencana. Mulai dari klaster pencarian dan pertolongan (search and rescue), pengungsian dan protection, logistik, hingga klaster kesehatan yang mencakup layanan medis, sanitasi, dan manajemen data.
Pentingnya Asesmen Lapangan
Lebih lanjut, Dr Bambang mengungkapkan bahwa hambatan terbesar dalam respon darurat sering kali bukan terletak pada ketersediaan personel ahli, melainkan pada tata kelola dan distribusi sumber daya. Penumpukan bantuan logistik tanpa koordinasi yang jelas di lokasi bencana kerap memicu krisis baru.
Oleh karena itu, ia menekankan tiga pertanyaan krusial yang harus dijawab oleh tim relawan sebelum menerjunkan bantuan ke lokasi bencana, apa yang terjadi (what happened), apa fasilitas yang masih berfungsi (what is still working), dan apa kebutuhan riil masyarakat (what is needed).
“Memiliki personel ahli saja tidak cukup jika tidak didukung kesiapan alat dan alokasi sumber daya yang presisi. Tim penolong harus melakukan asesmen cepat terlebih dahulu sebelum bertindak agar bantuan yang disalurkan tepat sasaran,” jelasnya.
Di akhir, ia menekankan bahwa selain kemampuan teknis, para relawan bencana harus menguasai empat kompetensi dasar. Yaitu komunikasi, pengambilan keputusan, berpikir kritis, dan pemecahan masalah. Ia juga mengajak seluruh elemen alumni dan komunitas untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
“Sinergi antar-aktor melalui pendekatan pentaheliks, termasuk peran aktif alumni dalam komunitas, menjadi kunci utama untuk membangun kapasitas respon bencana yang tangguh dan berkelanjutan,” pungkas Dr Bambang.
Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy
Editor: Khefti Al Mawalia
