Universitas Airlangga Official Website

PIPTP di AUN-SAN: Kecepatan AI Jangan Sampai Mengikis Ketajaman Berpikir Mahasiswa

Sekretaris Pusat Inovasi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran (PIPTP) UNAIR, Yuni Sari Amalia SS MA PhD saat menyampaikan materi dalam AUN-SAN Meeting (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan peran aktifnya dalam kancah internasional melalui partisipasi pada gelaran 7th AUN Student Affairs Network Meeting (AUN-SAN) and 2nd VOX Meeting 2026, Kamis (3/9/2026). Dalam forum tersebut, Sekretaris Pusat Inovasi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran (PIPTP) UNAIR, Yuni Sari Amalia SS MA PhD mengulas integrasi teknologi, literasi digital, dan kecerdasan buatan (AI) pada platform kemahasiswaan.

Yuni menyoroti pergeseran masif di kawasan Asia Tenggara yang kini bertransformasi menjadi wilayah dengan intensitas penggunaan AI yang sangat tinggi. Berdasarkan data yang ia paparkan, minat konsumen di Asia Tenggara terhadap topik AI tercatat tiga kali lebih tinggi daripada rata-rata global.

Kehadiran AI tidak hanya mengubah pola kerja profesional, tetapi juga merestrukturisasi gaya hidup dan metode belajar mahasiswa. Yuni menjelaskan bahwa sebanyak 79 persen pekerja yang disurvei telah mempelajari pemanfaatan AI. Dengan 43 persen di antaranya menggunakan AI untuk kebutuhan personal sekaligus profesional. Selain itu, 45 persen pengguna mengandalkan AI untuk menghemat waktu riset serta mempercepat pengambilan keputusan.

Sekretaris PIPTP, Yuni Sari Amalia SS MA PhD saat menyampaikan materi dalam AUN-SAN Meeting (Foto: Istimewa)

“Kawasan ASEAN tengah berkembang pesat menjadi wilayah yang sangat intensif dalam adopsi AI. Bagi dunia kemahasiswaan dan pembelajaran, fenomena ini sangat krusial karena AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu studi. Melainkan telah bertransformasi menjadi instrumen pengelolaan kehidupan sehari-hari,” ujar Yuni.

Meski menawarkan efisiensi tinggi, Yuni memberikan catatan terkait bahaya ketergantungan pada AI tanpa bekal pikiran kritis (critical thinking). Akses informasi yang serba cepat berisiko menurunkan kualitas analisis mahasiswa jika tidak disikapi dengan bijak.

“Kecepatan AI dalam memberikan jawaban berpotensi mengikis ketajaman berpikir dan kualitas penalaran mahasiswa apabila mereka tidak dilatih untuk memverifikasi, mempertanyakan, dan memahami konteks AI. Di sinilah peran penting literasi digital agar teknologi tetap menjadi penguat, bukan pengganti daya kritis manusia,” tegasnya.

Melalui forum AUN-SAN dan VOX Meeting ini, UNAIR menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan platform kemahasiswaan berorientasi masa depan yang adaptif terhadap perkembangan AI, sekaligus menjaga kualitas akademis serta kedalaman berpikir para mahasiswanya.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Yulia Rohmawati