Universitas Airlangga Official Website

Pola Asuh Ibu dan Depresi Remaja: Dampak Tersembunyi Perceraian Orang Tua

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Perceraian orang tua sering kali dipahami sebagai peristiwa hukum antara dua orang dewasa. Namun bagi remaja, perceraian adalah pengalaman emosional yang kompleks dan berjangka panjang. Di balik perubahan struktur keluarga, remaja harus beradaptasi dengan rasa kehilangan, konflik, serta perubahan relasi dengan orang tua—terutama dengan ibu, yang dalam banyak kasus menjadi pengasuh utama pascaperceraian.

Sebuah penelitian terbaru di Indonesia mengungkapkan bahwa bukan perceraian itu sendiri yang paling menentukan kesehatan mental remaja, melainkan bagaimana ibu menjalankan pola asuh setelah perceraian. Penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh ibu yang bersifat menolak atau terlalu mengontrol secara psikologis dapat meningkatkan risiko depresi pada remaja, melalui mekanisme psikologis tertentu yang sering kali tidak disadari (Dianovinina, Surjaningrum, & Wulandari, 2025).

Penelitian ini melibatkan 227 remaja berusia 12–19 tahun dari berbagai wilayah di Indonesia yang orang tuanya telah bercerai dan tinggal bersama ibu. Dengan menggunakan pendekatan analisis jalur, peneliti menelusuri bagaimana pola asuh ibu berhubungan dengan depresi remaja melalui dua jalur utama: cara berpikir remaja tentang diri, dunia, dan masa depan (cognitive triad) serta kemampuan mengelola emosi (emotion regulation).

Hasilnya menunjukkan dua pola yang berbeda namun sama-sama berisiko. Pertama, penolakan ibu —misalnya sikap dingin, kurang perhatian, atau kritik berlebihan— berdampak kuat pada cara remaja memandang dirinya. Remaja yang merasa ditolak cenderung mengembangkan pikiran negatif: merasa tidak berharga, melihat dunia sebagai tempat yang tidak aman, dan memandang masa depan secara pesimistis. Pola pikir inilah yang menjadi pintu masuk utama munculnya depresi. Bahkan, pengaruh tidak langsung melalui cara berpikir ini lebih kuat dibandingkan pengaruh langsung penolakan ibu terhadap depresi.

Kedua, kontrol psikologis ibu —seperti menyalahkan anak secara emosional, memanipulasi perasaan bersalah, atau mengancam menarik kasih sayang— berdampak terutama pada kemampuan remaja mengelola emosinya. Remaja menjadi kesulitan mengenali, menerima, dan menenangkan emosi negatif seperti marah, sedih, atau takut. Ketika emosi tidak terkelola dengan baik dan terus menumpuk, risiko depresi pun meningkat.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa jalur kognitif (cara berpikir) memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap depresi dibandingkan jalur emosional. Artinya, pikiran negatif yang menetap tentang diri dan masa depan merupakan faktor kunci yang perlu mendapat perhatian serius. Cara berpikir ini tidak muncul begitu saja, tetapi terbentuk dari pengalaman relasional sehari-hari dengan orang tua—terutama ibu sebagai figur utama setelah perceraian.

Temuan ini penting dalam konteks Indonesia, di mana perceraian sering kali diikuti oleh tekanan ekonomi, beban pengasuhan tunggal, serta stigma sosial terhadap ibu. Dalam kondisi stres berkepanjangan, ibu mungkin tanpa sadar menunjukkan perilaku pengasuhan yang kurang responsif atau terlalu mengontrol. Sayangnya, niat untuk “melindungi” atau “mengendalikan agar anak tidak salah jalan” justru dapat memperburuk kesehatan mental remaja.

Penelitian ini memberikan pesan yang jelas: intervensi kesehatan mental remaja dari keluarga bercerai tidak cukup hanya berfokus pada anak, tetapi juga perlu menyasar orang tua, khususnya ibu. Program edukasi pengasuhan positif, pelatihan regulasi emosi bagi remaja, serta intervensi berbasis kognitif seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) menjadi sangat relevan. Dengan membantu remaja membangun cara berpikir yang lebih sehat dan keterampilan mengelola emosi, risiko depresi dapat ditekan secara signifikan.

Perceraian memang bukan pilihan ideal, tetapi dampaknya terhadap kesehatan mental remaja dapat diminimalkan. Kunci utamanya terletak pada relasi yang hangat, penerimaan emosional, dan pengasuhan yang memberi ruang bagi remaja untuk tumbuh sebagai individu yang berdaya.

Penulis: Oleh: Endang Retno Surjaningrum

Artikel ini disarikan dari penelitian:

Dianovinina, K., Surjaningrum, E. R., & Wulandari, P. Y. (2025). Maternal Parenting Style and Depression in Adolescents with Divorced Parents: The Mediating Roles of Cognitive Triad and Emotion Regulation Difficulties. Journal of Educational, Health and Community Psychology, 14 (4), 1466–1485.