Universitas Airlangga Official Website

SKK FIB UNAIR Hidup Kembali, Bangun Ruang Toleransi

FIB NEWS – Badan Semi Otonom Sie Kerohanian Katolik (BSO SKK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) kembali mengaktifkan kegiatannya pada 2026 setelah sempat vakum. Pengaktifan kembali ini melibatkan beberapa mahasiswa FIB sebagai pengurus sementara. Pengurus sementara tersebut terdiri dari mahasiswa FIB angkatan 2025, yaitu Thomas Julianto dari Program Studi Ilmu Sejarah, serta Gabriela Kartika Ratnasari, Aurelya Saurma Tiffany Br Gultom, dan Deborah Shayna Kasih Gayatri dari Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris. 

Kepada Humas Muda pada Selasa (15/9/2026), Aurelya mengungkapkan bahwa tujuan mereka adalah menghadirkan ruang kebersamaan bagi mahasiswa Katolik sekaligus memperkuat nilai toleransi di lingkungan fakultas. “Kami ingin membangkitkan SKK ini untuk membangun rumah bagi mahasiswa Katolik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga,” ungkapnya. 

BSO SKK Kembali Aktif

SKK FIB merupakan BSO yang berfokus pada kehidupan kerohanian mahasiswa Katolik. Namun, BSO ini juga membuka ruang bagi mahasiswa non-Katolik untuk mengikuti kegiatan tertentu sebagai bagian dari upaya membangun toleransi. “Kami berfokus kepada nilai-nilai toleransi, sehingga kami menerima mahasiswa non-Katolik juga,” jelas Aurelya.

Pengurus mulai mengaktifkan kembali SKK melalui pembukaan booth pada kegiatan Bradanaya dan pembukaan program magang. Gabriela menjelaskan bahwa proses tersebut berlangsung dalam beberapa bulan terakhir setelah pembina SKK FIB, Ibu Ika, mendorong mahasiswa untuk menghidupkan kembali organisasi. “Kami menghidupkan kembali sekitar bulan-bulan ini, dikarenakan atas perintah Bu Ika, yaitu menghidupkan kembali SKK,” ungkap Gabriela.

Menghadapi Tantangan

Pengaktifan kembali SKK memiliki tantangan seperti keterbatasan jumlah mahasiswa Katolik dan kesibukan anggota di berbagai kegiatan lain. Tantangan tersebut membuat pengurus perlu membagi sumber daya yang terbatas agar organisasi tetap berjalan. “Tantangannya itu karena kita kaum minoritas, kita itu benar-benar sedikit mahasiswa yang beragama Katolik,” tutur Aurelya.

Meski demikian, mahasiswa FIB menunjukkan respons yang beragam terhadap keberadaan SKK. Thomas melihat mahasiswa Katolik menunjukkan antusiasme, sementara sejumlah mahasiswa non-Katolik juga menunjukkan rasa ingin tahu terhadap organisasi tersebut. “Ada orang dari non-Katolik yang penasaran, ternyata ada ya SKK FIB,” kata Thomas.

Harapan Keberlanjutan

Pengurus menyiapkan sejumlah kegiatan untuk menjaga keberlanjutan SKK, seperti kunjungan ke panti asuhan, ibadah, Welcome Party, serta kegiatan sosial melalui World Day of the Poor. Pengurus juga berencana mengembangkan media sosial SKK dan menghadirkan konten keagamaan melalui kerja sama dengan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK). “Welcome Party akan kami usahakan konsisten dari tahun ke tahun karena itu menjadi awal kebersamaan kami,” ujar Aurelya.

Ke depan, pengurus berharap SKK FIB terus berkembang dan menjadi ruang yang aman bagi mahasiswa untuk saling terhubung tanpa memandang latar belakang. “I hope that the SKK FIB gets to be more active and that we get to connect all Catholics within the faculty together,” tutur Deborah. Thomas juga berharap keberadaan SKK tidak berhenti pada kepengurusan saat ini, melainkan berlanjut pada generasi berikutnya. “Semoga SKK FIB ini tidak hanya muncul di era kita saja, tapi bisa diteruskan ke generasi berikutnya,” ujarnya.

Pengaktifan kembali SKK FIB mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4, yakin Quality Education. 

Penulis: Kaisa Anindya Fitri

Editor: Gustyosih Chesta Pramesti

Teks foto 1: Welcome Party Magang BSO SKK FIB di Kapel Santo Agustinus Pastoran Youth Center Keuskupan, Surabaya pada Sabtu (12/9/2026) (Foto: Dok. Narasumber)