Candida albicans dapat menyebabkan infeksi kulit ringan hingga infeksi sistemik yang mengancam jiwa, terutama pada pasien dengan gangguan kekebalan tubuh, dan merupakan organisme paling umum yang menyebabkan kandidiasis oral dan kandidiasis vulvovaginal. Peningkatan insiden infeksi oportunistik perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko morbiditas dan mortalitas pada pasien imunokompromise. Dalam beberapa dekade terakhir, insiden resistensi Candida sp. terhadap beberapa terapi antijamur telah menjadi perhatian bagi tenaga kesehatan. Pengobatan umumnya menggunakan empat kelas utama yaitu: poliena, analog pirimidin, echinocandin, dan triazol. Obat kelompok azole, seperti Fluconazole, memiliki prosentase resistensi tinggi terhadap Candida albicans sebesar 35,3%, sedangkan Nystatin memiliki resistensi 5,33%.
Oleh karena itu diperlukan obat alternatif antijamur salah satunya adalah minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra) untuk mengatasi infeksi Candida albicans. Kayu putih adalah tanaman Indonesia yang dapat ditemukan di beberapa wilayah yaitu Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Bali, Papua, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
Masyarakat Indonesia mengakui minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra) sebagai salah satu obat tradisional yang dikenal dengan sifat antimikrobanya, yaitu antibakteri, antivirus, dan antijamur. Minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra) memiliki kemampuan antimikroba yang kuat, terbukti dengan mampu menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa, Candida albicans, Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek antijamur minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra) produksi UMKM Sendang Arum Lamongan Jawa Timur yang mempunyai kandungan senyawa aktif 1,8-cineole, sebanyak 72,30% dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans.
Metode penelitian menggunakan metode uji difusi sumuran. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan konsentrasi minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra) sebesar 20%, 40%, 60%, 80%, dan 90%. Isolat Candida albicans yang digunakan adalah isloat klinis yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi dan Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dengan kontrol positif Nystatin 100 IU dan kontrol negatif menggunakan etil asetat. Data yang diperoleh adalah dengan mengukur besarnya diameter zona hambat yang terbentuk di sekitar sumuran pada media perbenihan Sabouraud Dextrose Agar dan selanjutnya dianalisis menggunakan perangkat lunak IBM SPSS statistik 26.
Hasil penelitian menunjukkan besarnya diameter zona hambat yang terbentuk pada kontrol positif adalah 19,63 mm, kontrol negatif sebesar 0,00 mm, konsentrasi 20% sebesar 26,36 mm, konsentrasi 40% sebesar 41,15 mm, konsentrasi 60% sebesar 49,69 mm, konsentrasi 80% sebesar 56,09 mm, dan konsentrasi 90% sebesar 61,36 mm. Analisis statistik non-parametrik menggunakan uji Kruskal-Wallis diperoleh p<0,05, yang menunjukkan terdapat pengaruh antara minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra) terhadap kemampuan dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans. Sedangkan pada uji post-hoc dengan Dunnet T3 menunjukkan bahwa konsentrasi minyak kayu putih 40%, 60%, 80%, dan 90% memiliki perbedaan yang signifikan dari kontrol positif Nystatin 100 IU.
Berdasarkan pada Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) bahwa kontrol positif Nystatin 100 IU memiliki interpretasi sensitif jika terbentuk zona hambat ≥ 15 mm, intermediate jika diperoleh zona hambat sebesar 10-14 mm, dan resisten jika zona hambat yang terbentuk ≤ 10 mm. Dalam penelitian ini, diameter rata-rata zona hambat kontrol positif Nystatin 100 IU adalah 19,3 mm. Oleh karena itu, pada penelitian ini menunjukkan bahwa semua konsentrasi memiliki diameter hambat yang lebih tinggi daripada Nystatin 100 IU sehingga efektif untuk menghambat pertumbuhan Candida albicans.
Kesimpulan. Minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra) mampu menghambat pertumbuhan Candida albicans. Oleh karena itu, minyak kayu putih memiliki potensi besar sebagai obat alternatif untuk mengobati kandidiasis yang disebabkan oleh Candida albicans. Penelitian tentang kemampuan minyak kayu putih sebagai antimikroba khususnya antijamur perlu dikembangkan. Penelitian ini diharapkan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat setempat dan meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia sesuai dengan SDG’s nomer 3 (Good Health and Well-being) dan nomer 8 (Decent Work and Economic Growth).
Penulis: Wiwin Retnowati, Ichsan Abdillah, Ardiansah Bayu Nugroho
Berikut judul dan link artikel:
Judul: Antifungal Ability as an Antimicrobial of Eucalyptus Oil (Melaleuca leucadendra) in Inhibiting the Growth of Candida albicans
Link: https://indonesianjournalofclinicalpathology.org/index.php/patologi/article/view/2485
Link: https://www.scopus.com/pages/publications/105008712877?inward=





