Universitas Airlangga Official Website

Povidone Yodium sebagai Antiseptik

Luka merupakan kerusakan spesifik pada komponen jaringan, substansi jaringan rusak atau hilang. Bentuk luka menurut penyebabnya adalah luka terbuka dan luka tertutup. Salah satu contoh luka terbuka adalah luka eksisi. Luka Eksisi (Excised Wound) Luka jaringan akibat pemotongan benda tajam. Penyembuhan luka merupakan proses bioseluler yang kompleks, terjadi secara berurutan, dan dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Proses yang terjadi pada penyembuhan luka adalah reepitelisasi yang terjadi bersamaan dengan jaringan parut di bawahnya, dengan hasil yang diperoleh berupa pembentukan kembali permukaan kulit yang terlihat sebagai garis yang menebal. Penyembuhan luka sangat dipengaruhi oleh re-epitelisasi, karena semakin cepat re-epitelisasi maka semakin cepat pula penutupan luka maka semakin cepat juga proses penyembuhan luka.

Banyak orang menggunakan povidone yodium 10% sebagai antiseptik. Penggunaan antiseptik mempunyai kelemahan yaitu bersifat iritasi dan toksik jika masuk ke pembuluh darah dan penggunaan yang berlebihan dapat menghambat proses granulasi luka. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk penyembuhan luka adalah dengan memanfaatkan limbah kulit udang sebagai bahan dasar pembuatan kitin, kitosan dan turunan keduanya. Kandungan kitin pada limbah udang mencapai 42%, limbah kepiting mencapai 50% – 60%, cumi 40% dan kerang 14% – 35%. Bahan baku udang lebih mudah diperoleh dibandingkan bahan lainnya, sehingga sintesis kitin dan kitosan banyak memanfaatkan limbah udang. Kitosan cenderung lebih besar menunjukkan re-epitelisasi dibandingkan kitin, selain itu kitosan mempunyai kemampuan memproses re-epitelisasi dan regenerasi lapisan granular dengan baik. Penelitian kitosan sebelumnya menunjukkan bahwa proliferasi fibroblas, peningkatan jumlah pembuluh darah, dan re-epitelisasi dapat mempercepat penyembuhan luka. Penggunaan kitosan juga lebih banyak digunakan karena memiliki sifat tidak beracun, aktivitas biologis, biokompatibilitas, biodegradabilitas, dan dapat dimodifikasi secara kimia dan fisik.

Penelitian ini menggunakan 20 ekor tikus jantan. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok : C- (luka eksisi + salep dasar tanpa kitosan udang), C+ (luka eksisi + povidone yodium 10%), T1 (luka eksisi + salep kitosan cangkang udang 1,5%), T2 (luka eksisi + udang salep kitosan cangkang udang 2,5%), dan T3 (luka eksisi + salep kitosan cangkang udang 5%). Terapi dilakukan satu kali sehari selama 14 hari. Hasil skor reepitelisasi dianalisis dengan Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p<0,05) dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney-U.

Hasilnya dari salep kitosan cangkang udang 5% menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kelompok lainnya, sedangkan kelompok perlakuan C-, C+, T1, T2 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian salep kitosan kulit udang konsentrasi 5% memberikan re-epitelisasi proses penyembuhan luka eksisi yang paling baik dibandingkan konsentrasi lainnya.

Penulis: Maya Nurwartanti Yunita, drh., M.Si

Permatasari, F. A., Yunita, M. N., Plumeriastuti, H., Arimbi, A., Fikri, F., & Wibawati, P. A. (2023, August). Effect of shrimp shell chitosan on re-epithelialization of healing processes of excision wounds in white rats (Rattus norvegicus). In AIP Conference Proceedings (Vol. 2431, No. 1).