UNAIR NEWS – Pada Minggu (13/9/2026) bertempat di Balai RW 10, Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran, tim Community Development (COMDEV) 2026 menggelar kegiatan Praktik 2 bertajuk pengenalan dan praktik budidaya hidroponik sistem Deep Flow Technique (DFT). “Praktik ini merupakan implementasi dari kegiatan kunjungan ke Kebun Sayur Surabaya yang kita laksanakan sebelumnya,” ujar Faiz Fadhila Widy Putra selaku Wakil Ketua COMDEV 2026 dalam sambutannya.
Kegiatan diawali dengan sesi edukasi menggunakan media poster hidroponik. Warga diperkenalkan pada konsep dasar hidroponik sebagai metode budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan larutan nutrisi tanpa media tanah sekaligus sistem DFT, yakni metode penanaman di mana akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi berkedalaman 3-5 senti yang terus bersirkulasi selama 24 jam melalui pompa dan pipa PVC.
Sistem Alternatif
Sirkulasi tanpa henti akan membuat tanaman tumbuh lebih cepat dan hasil panennya lebih optimal meski dibudidayakan di lahan sempit perkotaan. Selain memperkenalkan sistem DFT, warga juga diperkenalkan pada sistem alternatif yang lebih sederhana, yaitu wick system di mana air merambat ke akar tanaman melalui kain flanel yang berfungsi sebagai sumbu.
Sesi berikutnya diisi dengan edukasi cara penggunaan alat ukur, yaitu pH meter dan Total Dissolved Solids (TDS) meter. Warga dijelaskan fungsi dari kedua alat tersebut dalam memantau kualitas larutan nutrisi mulai dari kalibrasi, pengambilan sampel, pencelupan probe atau sensor, hingga pencatatan hasil pembacaan sebagai bahan pelacakan tren.

Warga juga diberi arahan mengenai kadar pH ideal untuk sebagian besar sayuran hidroponik yang berkisar antara 5,5-6,5. Sementara, nilai TDS atau ppm disesuaikan dengan kebutuhan spesifik tiap tanaman, seperti selada membutuhkan kisaran 560-840 ppm, sedangkan pakcoy dan kangkung membutuhkan kisaran yang lebih tinggi, yaitu 1.050-1.400 ppm.
Demonstrasi Penyemaian Bibit
Puncak kegiatan dilakukan dengan demonstrasi penyemaian bibit, pencampuran serta pemberian pupuk AB mix, dan tips perawatan tanaman yang ideal. Dalam praktik penyemaian, warga mempraktikan pemotongan rockwool, membasahinya hingga lembap, membuat lubang tanam, lalu menyimpan bibit di tempat gelap hingga benih pecah dalam 1-3 hari. Warga juga dihimbau apabila benih pecah, wadah wajib segera dipindahkan ke lokasi yang terkena sinar matahari minimal 6 jam per hari dan sebelum akhirnya dipindahkan ke instalasi hidroponik setelah tanaman berdaun empat.
Selain teknik menanam, warga turut dibekali pemahaman mengenai perawatan jangka panjang, termasuk pentingnya menggunakan air baku berkualitas dengan kriteria air PAM atau sumur dianjurkan diendapkan semalam sebelum digunakan serta menjaga rasio air tandon sebesar 1:2 terhadap jumlah lubang tanam. Jadwal pembersihan instalasi juga dilakukan secara bertahap, mulai dari pemeriksaan ringan harian, penggantian nutrisi tiap 1-2 minggu, hingga pembersihan menyeluruh jaringan pipa setelah masa panen selesai.
Melalui kegiatan ini, COMDEV 2026 turut mendukung SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities) dengan mengoptimalkan lahan terbatas perkotaan menjadi ruang produktif. Melalui bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, warga RW 10 diharapkan mampu mengembangkan budidaya hidroponik secara mandiri sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Penulis: Kayla Putri R & Anisa Nurjanah (Tim COMDEV)
Editor: Yulia Rohmawati





