Universitas Airlangga Official Website

Prediksi Dini Penyumbatan Ulang Pasca Pemasangan Stent Jantung Lewat Tes Darah yang Mudah dan Terjangkau

Waspada Penyakit Jantung Koroner di Usia Muda dan Faktor Resiko Keturunan, Apa Saja yang Mungkin Menjadi Penyebab nya ?
Ilustrasi orang dengan penyakit jantung koroner (sumber: CNN)

Meskipun teknologi intervensi kardiovaskular telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, masalah in-stent restenosis (ISR) atau penyempitan kembali pembuluh darah setelah pemasangan stent masih menjadi tantangan klinis yang signifikan. ISR dapat menyebabkan kambuhnya gejala, perlunya prosedur tambahan, serta meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular serius. Dalam upaya meningkatkan prediksi dan pencegahan kondisi ini, rasio neutrofil-terhadap-limfosit (neutrophil-to-lymphocyte ratio/NLR), sebuah parameter inflamasi yang sederhana dan murah, mulai mendapat perhatian sebagai biomarker potensial.

Penelitian berupa tinjauan sistematis dan meta-analysis terhadap 15 studi dengan total 3.889 sample yang menjalani prosedur pemasangan stent baik di arteri koroner maupun non-koroner dan dialkukan pemeriksaan biomarker berupa rasio neutrofil-terhadap-limfosit (neutrophil-to-lymphocyte ratio/NLR, yang berpotensi dapat memprediksi terjadinya ISR. Studi ini mengevaluasi peran dari NLR dalam memprediksi terjadinya ISR. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien dengan nilai NLR yang tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami ISR, sebesar 1,60 untuk stent koroner dan 1,69 untuk stent non-koroner. Stent non-koroner Setiap peningkatan satu unit NLR dikaitkan dengan peningkatan risiko ISR sebesar 30% hingga 44%. Dalam hal akurasi prediksi, NLR menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas yang cukup baik untuk mendeteksi ISR, baik pada stent koroner (sensitivitas 70,5%, spesifisitas 74,1%) maupun non-koroner (sensitivitas 77,7%, spesifisitas 66,4%). Analisis lebih lanjut juga menunjukkan bahwa NLR lebih akurat dalam memprediksi ISR yang terjadi dini (≤1 tahun) dibandingkan dengan ISR yang terjadi lebih lambat (>1 tahun) setelah pemasangan stent.

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa NLR adalah biomarker yang menjanjikan untuk digunakan dalam praktik klinis guna mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi mengalami ISR. Penggunaan NLR dalam evaluasi pasca pemasangan stent dapat membantu dokter dalam melakukan stratifikasi risiko yang lebih tepat, memandu keputusan klinis secara lebih personal, serta memungkinkan intervensi dini yang dapat meningkatkan prognosis pasien.

Dalam konteks perkembangan teknologi medis, temuan ini menunjukkan potensi besar integrasi biomarker inflamasi sederhana seperti NLR ke dalam praktis klinis sehari-hari. Selain efisien secara biaya, pemanfaatan NLR sangat relevan di fasilitas layanan kesehatan dengan sumber daya terbatas, menjadikannya solusi inovatif dalam memperluas akses terhadap perawatan kardiovaskular yang lebih baik secara global dan komprehensif.

Penulis: Rendra Mahardhika Putra, dr., Sp.J.P.

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0322461