Universitas Airlangga Official Website

Profil Klinikopatologi Limfadenitis Tuberkulosis Leher di Rumah Sakit Universitas Airlangga

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri gram-positif Mycobacterium Tuberculosis. Limfadenitis tuberkulosis merupakan bentuk tuberkulosis ekstrapulmoner yang paling umum dan lokasi tersering adalah kelenjar getah bening pada leher. Indonesia berada dalam daftar 30 negara dan menempati peringkat tertinggi kedua di dunia setelah India, diikuti China dengan kasus tuberkulosis terbanyak.

Diagnosis limfadenitis tuberkulosis masih merupakan tantangan yang cukup besar. Gambaran klinis disertai dengan beberapa pemeriksaan modalitas tuberkulosis, seperti pemeriksaan mikrobiologi, histopatologi, sitologi melalui biopsi aspirasi jarum halus (Fine needle aspiration biopsy/ FNAB), ataupun tes molekuler cepat (TCM) dapat menegakkan diagnosis tuberkulosis, sehingga penatalaksanaan dan terapi dapat lebih akurat dan tepat sasaran.

Penelitian obeservasional deskriptif ini menggunakan 147 pasien dengan diagnosis klinis limfadenitis tuberkulosis sebagai populasi berdasarkan kode ICD 10-CM A18.2. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah semua pasien dengan diagnosis klinis Limfadenitis Tuberkulosis periode Januari 2022- Desember 2023 dan dilakukan FNAB dilanjutkan pemeriksaan BTA, selain itu juga dilakukan pemeriksaan USG leher, TCM (GeneXpert MTB/RIF) dan pemeriksaan histopatologi. Analisis deskriptif pada penelitian ini berupa karakteristik klinikopatologi pasien limfadenitis tuberkulosis, termasuk usia, jenis kelamin, pola gambaran FNAB, pemeriksaan histopatologi, hasil BTA dari pewarnaan Ziehl Neelsen (ZN), dan pemeriksaan tambahan lainnya seperti USG leher dan uji GeneXpert MTB/RIF.

Distribusi usia dan jenis kelamin limfadenitis tuberkulosis berbeda dengan tuberkulosis paru. Penelitian kami menunjukkan bahwa mayoritas pasien dengan limfadenitis tuberkulosis adalah perempuan (n = 90, 61,22%), sedangkan distribusi usia pasien dalam penelitian ini berada dalam kisaran 21-30 tahun (n = 53, 36,05%). Gambaran klinis limfadenitis tuberkulosis pada setiap pasien bervariasi, sebagian besar pasien menunjukkan benjolan di area leher, pada salah satu leher (n = 133, 90,48%), dengan lokasi yang paling banyak ditemukan pada leher kanan (n = 88, 66,17%), berjumlah tunggal (n = 92, 62,59%) ataupun berkelompok (n = 38, 67,27%), tanpa rasa sakit (n = 90, 61,22%), terasa nyeri atau sensitif (n = 57, 38,78%), dan skrofuloderma (n = 8, 5,44%), dengan durasi dalam 1-3 bulan (n = 74, 50,34%), hingga 1-3 cm (n = 111, 75,51%). Beberapa kasus, limfadenitis tuberkulosis dapat ditemukan bersama dengan tuberkulosis paru, meskipun sebagian besar kasus sering terjadi tanpa tuberkulosis paru. Pada penelitian ini, 15 pasien (10,2%) memiliki riwayat batuk, di mana 10 (66,66%) di antaranya sedang menjalani pengobatan untuk tuberkulosis paru, dan 3 pasien (20%) memiliki riwayat tuberkulosis paru.

Fine needle aspiration biopsy (FNAB) digunakan sebagai pemeriksaan lini pertama untuk membantu mengkonfirmasi diagnosis limfadenitis tuberkulosis leher. Hasil temuan FNAB pada penelitian ini didapatkan gambaran sitomorfologi terbanyak adalah granuloma dengan nekrosis kaseosa (n = 50, 34,01%), yang dengan pewarnaan ZN ditemukan BTA (n = 60, 41%), sebagian tidak ditemukan BTA (n = 87, 59%). Pemeriksaan histopatologi merupakan standar emas untuk diagnosis limfadenitis tuberkulosis, hasil penelitian kami menunjukkan hasil limfadenitis tuberkulosis (88%), limfadenitis kronis non-spesifik (8%), dan proses peradangan supuratif (4%).

Pemeriksaan penunjang lain seperti USG leher memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tidak signifikan secara statistik. Beberapa pasien dalam penelitian ini juga melakukan pemeriksaan USG leher dengan hasil limfadenitis non-spesifik (n = 15, 51,72%), dan hanya sebagian kecil menunjukkan limfadenitis tuberkulosis (n = 10, 34,48%), sisanya menunjukkan proses keradangan suppuratif/abses (n = 2, 6,9%) dan curiga keganasan (n = 2, 6,9%).

Baru-baru ini, WHO merekomendasikan uji kepekaan mycobacterium tuberculosis terhadap OAT dengan metode GeneXpert MTB/Rif untuk membantu mendiagnosis Extra Pulmonal Tuberculosis (EPTB) secara cepat dan efektif, dikenal sebagai tes cepat molekuler (TCM). Metode ini merupakan metode deteksi molekuler berbasis nested real-time PCR, dimana hanya dalam 2 jam, hasil sudah dapat diketahui. Pada penelitian ini, dari 147 pasien, hanya 85 pasien yang menjalani pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF di Laboratorium Mikrobiologi Rumah Sakit Universitas Airlangga dan menunjukkan hasil positif pada setengah kasus (n = 43, 50,59%). Hasil positif dari pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF didapatkan pada 24 pasien dengan hasil FNAB limfadenitis tuberkulosis, dan 8 pasien dengan curiga limfadenitis tuberkulosis,  sedangkan hasil negatif dari pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF sebagian besar didapatkan pada hasil FNAB dengan limfadenitis kronis non-spesifik (reactive lymphoid hyperplasia). Dari hasil positif pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF, didapatkan 27 pasien dengan hasil positif BTA pada hapusan FNAB dengan pewarnaan ZN, sedangkan hasil negatif pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF didapatkan pada 29 pasien dengan hasil negatif BTA.

Kombinasi pemeriksaan patologi (sitologi/FNAB dan histopatologi), TCM dengan metode GeneXpert MTB/RIF, dan USG leher didasarkan pada parameter klinikopatologi dengan kecurigaan limfadenitis tuberkulosis leher, dapat memandu dokter klinisi untuk menegakkan diagnosis dan terapi yang tepat di era meningkatnya resistensi mycobacterium tuberculosis.

Penulis: Dewi Sartika Ari Wanda, Anny Setijo Rahaju, Aditya Sita Sari

Judul artikel:  Clinicopathological Profile of Cervical Tuberculous Lymphadenitis: Experience from Universitas Airlangga Hospital

Link artikel: https://doi.org/10.24293/ijcpml.v32i1.2436