Vaksin virus yang dilemahkan (inactivated virus) merupakan jenis vaksin utama yang digunakan otoritas Indonesia pada awal vaksinasi. Salah satu vaksin SARS-CoV-2 inaktif, CoronaVac, yang digunakan dalam program vaksinasi nasional, menunjukkan tingkat perlindungan yang sangat baik terhadap COVID-19 yang parah, rawat inap, dan kematian. Namun, data yang dipublikasikan baru-baru ini menunjukkan berkurangnya tingkat antibodi dan perlindungan setelah vaksinasi COVID-19 dari waktu ke waktu.
Telah dibuktikan bahwa dosis ketiga (booster) meningkatkan imunitas humoral dan seluler tanpa memandang jenis dosis dasar dan jenis dosis booster itu sendiri. Selain itu, efek samping dari dosis booster tampaknya dapat ditoleransi. Seperti yang dilaporkan dalam publikasi sebelumnya, efek samping yang terjadi relatif tidak parah pada orang yang menerima vaksin booster
Dalam penelitian ini, kami melakukan analisis terhadap kelompok petugas kesehatan yang menerima dosis booster vaksin SARS-CoV-2 pada 5 bulan setelah dosis awal. Sebagian besar peserta menerima vaksin mRNA-1273 (Moderna) sebagai dosis booster sesuai dengan rekomendasi dari Otoritas Kesehatan Indonesia, sementara beberapa dari mereka memilih untuk menerima dosis booster menggunakan vaksin virus yang dilemahkan (CoronaVac). Namun, dalam analisis ini, kami hanya memasukkan petugas kesehatan yang belum pernah terinfeksi SARS-CoV-2 dan memiliki tingkat serum IgG yang tidak terdeteksi terhadap domain pengikatan reseptor (RBD) SARS-CoV-2 sebelum vaksinasi dosis pertama.
Temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa dosis booster heterolog dari vaksin mRNA-1273 menginduksi respons antibodi yang kuat pada individu yang telah divaksinasi dengan vaksin virus yang tidak aktif. Data kami saat ini sejalan dengan laporan sebelumnya yang menunjukkan respons antibodi yang kuat terhadap vaksin mRNA sebagai booster, apa pun jenis vaksin primernya.
Salah satu temuan baru dari penelitian ini adalah bahwa respons antibodi terhadap dosis booster secara signifikan lebih rendah pada peserta dengan hipertensi (tekanan darah ≥ 140/90) dan mereka yang memiliki riwayat diabetes melitus (DM) dibandingkan dengan subyek tanpa penyakit penyerta tersebut. Pengamatan sebelumnya menunjukkan adanya penurunan respons antibodi setelah pemberian vaksin COVID-19 pada subjek penderita hipertensi dan DM. Fenomena ini dilaporkan pada subjek yang menerima vaksin virus yang dilemahkan, vaksin mRNA dan vaksin adenoviral sebagai dosis awal. Data kami saat ini menunjukkan bahwa (i) subjek dengan hipertensi dan DM juga menunjukkan penurunan respons antibodi setelah dosis ketiga atau booster, dan penurunan respons terjadi setelah vaksinasi booster heterolog dengan vaksin mRNA. Hal ini semakin mendukung gagasan bahwa hipertensi dan DM mungkin memainkan peran yang sangat penting dalam menentukan respon antibodi terhadap vaksinasi.
Temuan penting lainnya dari penelitian ini adalah respons antibodi terhadap dosis booster menurun seiring berjalannya waktu. Analisis kami menunjukkan bahwa titer antibodi pada 5 bulan setelah dosis booster menurun lebih dari 70% dibandingkan dengan titer antibodi pada 1 bulan pasca booster. Bukti yang menunjukkan berkurangnya kekebalan setelah pemberian dosis awal vaksin COVID semakin banyak, dan ini telah menjadi salah satu alasan utama pentingnya mendapatkan dosis booster.
Vaksin mRNA telah banyak dikaitkan dengan lebih banyak efek samping dibandingkan jenis vaksin lainnya. Data kami sejalan dengan penelitian sebelumnya, di mana kami menemukan efek samping yang lebih sering, baik sistemik maupun lokal, setelah vaksinasi menggunakan vaksin mRNA dibandingkan dengan efek setelah vaksinasi dengan vaksin virus yang dilemahkan. Namun, penting untuk dicatat bahwa sebagian besar efek samping dalam kelompok kami bersifat sementara, dan tidak ada satupun yang memerlukan rawat inap. Hal ini menunjukkan bahwa vaksinasi booster dengan menggunakan vaksin mRNA secara umum aman bagi orang yang pernah menerima vaksin virus inaktif sebelumnya.
Penulis: Prof. Dr. Gatot Soegiarto, dr., Sp.PD, K-AI
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Soegiarto, G.; Mahdi, B.A.; Wulandari, L.; Fahmita, K.D.; Hadmoko, S.T.; Gautama, H.I.; Prasetyaningtyas, D.; Prasetyo, M.E.; Negoro, P.P.; Arafah, N.; et al. Evaluation of Antibody Response and Adverse Effects following Heterologous COVID-19 Vaccine Booster with mRNA Vaccine among Healthcare Workers in Indonesia. Vaccines 2023, 11, 1160. https://doi.org/10.3390/vaccines11071160





