Universitas Airlangga Official Website

Respon Latihan Fisik Interval pada Kadar Adiponektin sebagai Protektor Penyakit Metabolik

Foto by KlikDokterr

Sedenter merupakan gaya hidup kurang gerak sehingga energi yang digunakan untuk metabolisme tubuh tidak sebanding dengan energi yang masuk. Kelebihan energi mengakibatkan penyimpanan energi dalam bentuk lemak di jaringan adiposa yang berdampak pada penambahan berat badan (overweight).

Angka kegemukan pada wanita terus meningkat bahkan diprediksi pada tahun 2030 terjadi peningkatan sebesar 58% (Kelly et al., 2008; Santos et al., 2019). Peningkatan jaringan adiposa berkaitan dengan resiko sindrom metabolik yang lebih tinggi seperti penyakit kronis & progresif, menimbulkan resiko morbiditas dan mortalitas, resiko terkena diabetes dan memperburuk kontrol glikemik. Salah satu hormon yang bermanfaat untuk regulasi pencegahan penyakit metabolic adalah adiponectin. Kadar adiponektin berbanding terbalik dengan penambahan berat badan. Adiponektin juga dikenal sebagai hormon anti-inflamasi. Pada individu overweight adiponektin mengalami penurunan sehingga anti-inflamasi juga menurun dan manandakan sedang terjadinya sindrom metabolik.

Salah satu faktor yang dapat memperbaiki sintesis kadar adiponektin ialah melalui latihan fisik, karena terjadinya peningkatan kebutuhan energi dapat memperbaiki adipositokin yang menjadi salah satu protocol pencegahan dan pengobatan penyakit metabolik. Jenis aktivitas fisik yang dapat dilakukan oleh individu kelebihan berat badan diantaranya yaitu latihan fisik interval intenistas tinggi secara interval atau dikenal dengan high intensity interval exercise (HIIE). HIIE sebagai latihan singkat, berulang yang tidak memakan waktu lama serta efisien untuk meningkatkan kemampuan metabolisme karena diterapkan secara anaerobik singkat dengan intensitas tinggi dan volume latihan yang rendah. Dengan begitu HIIE menjadi salah satu latihan yang cukup popular. Hal ini dibuktikan bahwa HIIE menduduku peringkat ke 5 (lima) bentuk olahraga high intensity.

HIIE menggunakan ergocycle dinilai lebih efisien dan aman terhadap individu kelebihan berat badan sehingga dipilih sebagai intervensi pada penelitian ini. Jumlah subjek yang diikutsertakan pada berjumlah 22 orang dengan usia 20 – 26 tahun dengan IMT 23 -24,9 kg/m2 (overweight) yang tergolong pada perilaku sedenter. Subjek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, tanpa HIIE dan kelompok dengan intervensi HIIE. Pada kelompok intervensi HIIE, subjek menjalankan mengayuh pada ergocycle dengan cepat selama 60 detik (1 menit) hingga denyut nadi mencapai 80-90% HRmax dan diselingi istirahat dinamis dengan tetap mengayuh sepeda dengan pelan 40 rpm selama 60 detik (1 menit). Intervensi HIIE dilakukan sebanyak 10 set atau 10 pengulangan antara intensitas tinggi dan istirahat dinamis. Namun sebelum latihan inti responden melakukan pemanasan selama 3 menit dan setelah latihan inti responden melakukan pendinginan selama 2 menit. Total waktu yang digunakan selama intervensi yaitu 25 menit. Setelah 1 (satu) jam melakukan intervensi HIIE, dilakukan pengambilan sampel darah untuk dilakukan pemeriksaan kadar adiponektin dan juga dilakukan pada kelompok tanpa intervensi.

Hasil dari penelitian menunjukan bahwa HIIE yang dilakukan 1 kali ini dapat menghambat penurunan kadar adiponektin dibandingkan kelompok yang tidak melakukan HIIE. Oleh karena itu latihan high intensity dapat menjadi pertimbangan bagi individu yang tidak memiliki jadwal olahraga yang terencana. Namun demikian, penelitian lebih lanjut terkait dengan HIIE yang dilakukan dalam beberapa kali dalam seminggu, perlu dilakukan, untuk mengetahui manfaat HIIE terhadap kadar adiponectin.

Penulis: Yosnengsih, M.Kes.; Dr. Lilik Herawati, dr., M.Kes

Informasi detail bisa didapatkan pada hasil riset kami di link :

http://www.sportmont.ucg.ac.me/?sekcija=article&artid=1956

Yosnengsih., Purwanto, B., Devi, A.I., Ilmi, S. B. Z., Karimullah, A., Syamsudin, F., Ayubi, N., Callixte, C., Indika, P, M., Herawati, L. Single Bout High Intensity Intermitten Exercise Prevent Adiponectin Reduction In Sedentary Overweight Women. Sport Mont 21 (2023) 1:3-8.