UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan Non Governmental Organization (NGO) menyelenggarakan Webinar Series IUHPE–South West Pacific (IUHPE-SWP). Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (19/8/2026) via Zoom Meeting tersebut mengkaji isu ketahan iklim lewat promosi kesehatan.
Kegiatan internasional tersebut menghadirkan tiga pakar dari berbagai negara. Yakni Selandia Baru yang diwakili oleh Sione Tu’itahi, Direktur Eksekutif IUHPE Kanada Katia Pharand Dinardo sebagai, serta Dr Sriwidati SSos MSi selaku Wakil Presiden IUHPE Wilayah Pasifik Barat Daya, Indonesia.
Kerangka Piagam Ottawa dan Pengurangan Risiko Bencana
Katia Pharand Dinardo mengungkapkan bahwa ancaman iklim seperti gelombang panas dan banjir baru bisa dijuluki bencana alam apabila berdampak pada kerentanan sosial.
“Bencana bukanlah sekadar bencana alam. Bahaya baru menjadi bencana ketika bertemu dengan kerentanan masyarakat. Di sinilah promosi kesehatan berperan untuk menangani kerentanan tersebut sebelum bencana terjadi,” tuturnya.
Ia juga menyebutkan beberapa langkah preventif yang dinilai dapat meminimalisir risiko bencana. Seperti penguatan literasi kesehatan, partisipasi aktif generasi muda, serta keterlibatan komunitas lokal berbasis kerangka kerja Piagam Ottawa guna membuat peta jalur evakuasi. Pasalnya, risiko bencana alam akan semakin meluas apabila tidak selaras dengan kesadaran risiko bencana, keterampilan kesiapsiagaan darurat, serta kemampuan mengatasi tekanan psikologis.
“Penanggap pertama dalam keadaan darurat iklim kemungkinan besar bukanlah petugas pemadam kebakaran. Melainkan tetangga, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita,” imbuhnya.
Dorong Peran Gen Z dan Mahasiswa
Senada dengan Katia, Dr Sriwidati SSos MSi, dosen dan peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR menekankan pentingnya perspektif laboratorium hidup (living lab) yang ada di lingkungan kampus. Mahasiswa akan mendapatkan edukasi terkait kebijakan kampus hijau nan sehat lewat teropong laboratorium hidup, termasuk juga sosialisasi perilaku hidup sehat.
“Kita bisa mendidik mahasiswa tentang kebijakan kampus hijau dan sehat. Selain itu, kampus berperan sebagai ruang pembiasaan mereka untuk menerapkan pola perilaku hidup sehat,” ujarnya.
Sebagai agen perubahan, ia berharap gen-Z dapat berkontribusi dalam upaya promosi kesehatan. Melalui platform digital, perkembangan teknologi memegang peranan penting dalam mengkampanyekan aksi perubahan iklim. Sehingga, nantinya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan antara aksi iklim dengan kesetaraan kesehatan.
Lewat sinergi berbagai pihak, kegiatan ini turut mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya, poin SDG 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan), SDG 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim.
Penulis: Amelia Farah P.I
Editor: Yulia Rohmawati





