Artikel ilmiah berjudul “Patient Safety Culture, Infection Prevention, and Patient Safety in the Operating Room: Health Workers’ Perspective” menganalisis bagaimana budaya keselamatan pasien dan pencegahan infeksi berpengaruh terhadap keselamatan pasien di ruang operasi dari perspektif tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 143 tenaga kesehatan dengan kriteria inklusi telah bekerja minimal selama 6 bulan di ruang operasi rumah sakit. Setiap partisipan dari penelitian ini telah menunjukkan konfirmasi persetujuan dan penelitian ini telah disetujui oleh komite etik dari Fakultas Keperawatan Universitas Ailrangga No. 2796-KEPK.
Pengambilan data penelitian ini menggunakan kuesioner dari The Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) versi 2.0 yang disebar secara daring melalui media sosial, seperti Instragram dan WhatsApp. Kuesioner ini terdiri dari 42 item yang dibagi menjadi 12 dimensi budaya keselamatan pasien. Penelitian ini menggunakan skala likert untuk menilai sikap dan persepsi tenaga kesehatan terhadap budaya keselamatan pasien dan praktik pencegahan infeksi di ruang operasi. Analisis data penelitian menggunakan aplikasi IBM SPSS 29. Analisi statistik deskriptif dan analisis regresi digunakan untuk mengidentifikasi faktor yang dapat meningkatkan budaya keselamatan pasien dan praktik pencegahan infeksi di ruang operasi.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari 143 responden yang terlibat, 79% (113) dari mereka bekerja di rumah sakit milik pemerintah, 97,2% (139) bekerja di rumah sakit yang memiliki status akreditasi sangat baik, dan 97,9% (140) bekerja di rumah sakit umum. Mayoritas responden, sebanyak 67,1% (96), adalah laki-laki, dan 61,5% (88) berusia antara 26 hingga 40 tahun. Separuh dari responden (49,7% atau 71) memiliki gelar sarjana atau yang lebih tinggi. Mayoritas responden dalam penelitian ini (87,4% atau 125) bekerja sebagai perawat, 61,5% (88) telah bekerja di rumah sakit selama lebih dari sepuluh tahun, dan 48% (69) telah bekerja di unit-unit tertentu selama lebih dari sepuluh tahun. Sebanyak 52,4% (75) dari responden bekerja rata-rata 30-40 jam setiap minggunya. Sebagian besar responden, yaitu sebanyak 95,1% (136), bekerja langsung dengan pasien.
Penelitian ini merupakan penelitian pertama di Indonesia yang meneliti dampak budaya keselamatan pasien dan pencegahan infeksi terhadap keselamatan pasien di ruang operasi. Penelitian ini mengidentifikasi isu-isu penting dalam budaya keselamatan pasien di ruang operasi, terutama skor rendah dalam “Staffing and Work Pace,” “Reporting Patient Safety Events,” dan “Response to Errors,” yang menandakan bahwa tenaga kesehatan merasa sangat tertekan dalam hal jam kerja dan tekanan kerja. Selain itu, hal ini juga menandakan bahwa respons terhadap kesalahan cenderung menyalahkan individu daripada fokus pada masalah yang mendasarinya.
Sedangkan, pada dimensi “Organizational Learning – Continuous Improvement” mendapatkan skor yang tinggi yang berarti bahwa sebagian besar karyawan di bidang kesehatan meyakini bahwa rumah sakit seharusnya secara rutin mengevaluasi proses kerja. Selain itu, para pekerja di bidang kesehatan juga setuju bahwa rumah sakit seharusnya menganalisis perubahan dan melakukan modifikasi untuk mencegah terjadinya kesalahan yang sama kembali.
Rata-rata jawaban baik ada pada dimensi “Hospital Management Support for Infection Prevention Efforts” yang berarti bahwa daftar periksa, prosedur operasi standar, jalur klinis, program surveilans, kebijakan rumah sakit, koordinator infeksi lokasi bedah, umpan balik, dan sistem pendukung pengambilan keputusan berbasis komputer di OR sudah memuaskan.
Penelitian ini memiliki keterbatasan, seperti penggunaan self-reported questionnare yang menyebabkan kejenuhan karena waktu, bias individu terhadap perilaku sendiri. Selain itu, hal ini juga berpotensi untuk menyembunyikan pemikiran dan perspektif yang sebenarnya. Meskipun demikian, penelitian ini memberikan pengetahuan baru yang seharusnya memacu upaya peningkatan budaya keselamatan pasien dan langkah pencegahan infeksi di ruang operasi. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa budaya keselamatan pasien secara keseluruhan di ruang operasi masih lemah, sedangkan dimensi “Organizational Learning – Continuous Improvement”, dan “Hospital Management Support for Infection Prevention Efforts” berpengaruh signifikan pada persepsi keselamatan pasien di ruang operasi.
Penulis: Inge Dhamanti
Jurnal: Patient Safety Culture, Infection Prevention, and Patient Safety in the Operating Room: Health Workers’ Perspective





