Osteoporosis merupakan kelainan tulang sistemik yang ditandai dengan penurunan massa tulang secara progresif yang mengakibatkan meningkatnya kerapuhan tulang dan risiko fraktur. Di Indonesia, prevalensi osteoporosis pada wanita pascamenopause mencapai 32,8%, menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga di Asia Tenggara dan kelima di dunia.
Fraktur akibat osteoporosis, terutama pada tulang belakang, panggul, dan pergelangan tangan, dapat menyebabkan disabilitas jangka panjang, menurunkan kualitas hidup, bahkan meningkatkan risiko kematian. Oleh karena itu, deteksi dini osteoporosis sangat penting untuk mencegah kerusakan tulang yang lebih berat dan memperbaiki kualitas hidup pasien.
Saat ini, pemeriksaan Dual-energy X-ray Absorptiometry atau DEXA masih menjadi standar utama dalam diagnosis osteoporosis melalui pengukuran kepadatan mineral tulang. Namun, pemeriksaan ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti biaya yang relatif mahal, ketersediaan alat yang terbatas. Kondisi ini mendorong perlunya metode skrining alternatif yang lebih sederhana, mudah diakses, dan dapat dilakukan secara luas.
Salah satu pemeriksaan yang berpotensi digunakan adalah radiografi panoramik yang umum digunakan dalam praktik kedokteran gigi. Berbagai parameter radiografik telah dikembangkan untuk mendeteksi penurunan kualitas tulang melalui radiografi panoramik . Salah satunya adalah analisis Fraktal Dimensi. Analisis ini menghasilkan nilai fractal dimension (FD), yaitu parameter yang menggambarkan kompleksitas pola trabekular tulang. Semakin rendah nilai FD, semakin besar kemungkinan terjadinya kerusakan mikroarsitektur tulang akibat osteoporosis. Karena radiografi panoramik sering dilakukan dalam pemeriksaan rutin gigi, pemeriksaan ini memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan sebagai metode skrining osteoporosis secara oportunistik.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola struktur tulang trabekular pada tulang kondilus mandibula melalui radiografi panoramik menggunakan analisis fractal dimension (FD), serta mengidentifikasi hubungan antara nilai FD dan bone mineral density (BMD) dalam menilai risiko osteoporosis pada wanita pascamenopause.
Penelitian ini melibatkan 150 radiograf panoramik wanita pascamenopause berusia 50 tahun yang telah didiagnosis sebagai normal, osteopenia, dan osteoporosis berdasarkan nilai BMD. Analisis FD dilakukan dengan metode box-counting menggunakan Image J pada tulang kondilus mandibula untuk menentukan nilai standar FD pada kondisi normal, osteopenia, dan osteoporosis.
Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan (p < 0,001) antara nilai FD dan BMD, dengan kekuatan korelasi sedang (r = 0,462 untuk ROI 1 dan r = 0,518 untuk ROI 2). Nilai BMD yang lebih tinggi berhubungan dengan nilai FD yang lebih tinggi, demikian pula sebaliknya.Nilai FD yang rendah menunjukkan densitas tulang trabekular yang rendah (osteoporosis), sedangkan nilai FD yang lebih tinggi mencerminkan densitas trabekular yang lebih baik (normal).
Analisis FD pada kondilus mandibula dapat digunakan sebagai indikator osteoporosis. Metode ini melengkapi pemeriksaan BMD dengan mengkuantifikasi perubahan struktur trabekular tulang, sehingga berpotensi menjadi metode deteksi dini osteoporosis.
Penulis: Sri Wigati Mardi Mulyani
Artikel bisa dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/assessing-osteoporosis-risk-on-panoramic-radiography-through-frac/fingerprints/





