Xerostomia atau yang dikenal sebagai sindroma mulut kering merupakan salah satu efek samping yang sering dialami pasien setelah menjalani radioterapi pada penderita kanker kepala dan leher. Paparan radiasi dapat merusak jaringan dan fungsi kelenjar ludah sehingga produksi saliva menurun drastis. Kondisi ini mempunyai dampak yang sangat besar terhadap kualitas hidup pasien. Mulut kering dapat menyebabkan bau mulut, sakit tenggorokan, lidah terasa terbakar, kesulitan menelan, hilangnya kemampuan mengecap rasa, hingga meningkatnya risiko infeksi dan kerusakan gigi.
Hingga saat ini pengobatan xerostomia masih terbatas pada terapi simptomatik atau paliatif, seperti penggunaan saliva buatan dan obat perangsang saliva. Sehingga diperlukan pendekatan alternatif baru yang lebih regeneratif dan efektif.
Salah satu inovasi yang kini menjadi perhatian dunia medis adalah penggunaan mesenchymal stem cells (MSCs) atau sel punca mesenkimal. Sel ini dikenal memiliki kemampuan luar biasa untuk membantu memperbaiki jaringan yang rusak. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa manfaat terbesar MSCs ternyata bukan hanya berasal dari selnya sendiri, melainkan molekul kecil yang disekresikan oleh sel tersebut yang dikenal sebagai secretome atau metabolit MSCs. Penelitian menunjukkan bahwa MSCs mensekresikan metabolit yang mengandung berbagai sitokin, kemokin, growth factors, protein, dan antioksidan, seperti glutathione, stromal-derived factor-1 (SDF-1), vascular endothelial growth factor (VEGF), dan interleukin-10 (IL-10). Faktor-faktor yang disekresikan tersebut secara signifikan meningkatkan kemampuan regeneratif MSCs.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi secretome yang berasal dari mesenchymal stem cells (MSCs), khususnya SDF-1, IL-10, dan VEGF, sebagai terapi alternatif untuk xerostomia atau gangguan lain akibat paparan radiasi ionisasi.
Penelitian ini merupakan studi analitik eksperimental berbasis laboratorium. Sampel penelitian berupa secretome yang berasal dari mesenchymal stem cells (MSCs) yang diisolasi dari tali pusat manusia. MSCs dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol (K) yang terdiri dari kultur MSC tanpa paparan sinar-X, dan kelompok perlakuan (P) yang terdiri dari kultur MSC yang dipapar sinar-X. Setiap kultur sel diinkubasi hingga hari ke-3 dan hari ke-7. Selanjutnya, kadar sekresi SDF-1, IL-10, dan VEGF diukur menggunakan metode sandwich ELISA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar sekresi SDF-1, IL-10, dan VEGF meningkat secara signifikan setelah paparan radiasi ionisasi sebesar 0,16 mSv, baik pada hari ke-3 maupun hari ke-7 dibandingkan kelompok kontrol tanpa paparan radiasi. Namun, rerata kadar sekresi SDF-1, IL-10, dan VEGF pada kelompok perlakuan hari ke-7 (P.7) lebih rendah dibandingkan pada hari ke-3 (P.3).
Secretome dari kultur MSCs memiliki potensi besar sebagai terapi alternatif untuk xerostomia maupun gangguan lain akibat radiasi ionisasi sebagai pendekatan terapi bebas sel (cell-free therapy). Secretome mengandung berbagai molekul bioaktif seperti sitokin, kemokin, antioksidan, dan growth factors yang berperan penting dalam regenerasi sel dan jaringan. Pendekatan ini tidak hanya berpotensi mengurangi gejala, tetapi juga membantu memperbaiki fungsi kelenjar ludah yang rusak secara lebih alami dan regeneratif.
Penulis: Sri Wigati Mardi Mulyani
Artikel bisa dilihat di: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/regenerative-potential-of-msc-derived-secretomes-in-radiation-ind/





