Universitas Airlangga Official Website

Siapkah Pendidikan Akuntansi Indonesia Menghadapi Tantangan Keberlanjutan?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Isu keberlanjutan kini menjadi agenda global yang tak terpisahkan dari dunia bisnis. Perusahaan dituntut tidak hanya mengejar laba, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Di balik tuntutan tersebut, ada satu aktor penting yang sering luput dari perhatian publik: pendidikan akuntansi. Pertanyaannya, apakah pendidikan akuntansi di Indonesia sudah siap membekali lulusannya dengan perspektif keberlanjutan? Penelitian yang ditulis oleh Wika Harisa Putri, S.E., S.H., M.Sc., MEI dan Prof. Dr. Ardianto, SE., M.Si., Ak., CA., CMA., yang dipublikasikan di Journal of Global Responsibility mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menelaah kesiapan perguruan tinggi akuntansi di Indonesia dalam mengintegrasikan isu keberlanjutan ke dalam kurikulum.

Kurikulum Akuntansi Masih Minim Isu Keberlanjutan

Melalui penelusuran terhadap ratusan program studi akuntansi di Indonesia—baik jenjang sarjana, magister, maupun doktor—temuan utama riset ini cukup mengkhawatirkan. Hanya sebagian kecil program studi akuntansi yang menawarkan mata kuliah terkait keberlanjutan, seperti sustainability accounting, corporate social responsibility (CSR), atau sustainability reporting. Di tingkat sarjana, mata kuliah keberlanjutan masih sangat terbatas dan terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padahal, tantangan keberlanjutan tidak mengenal batas geografis. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa isu keberlanjutan belum menjadi arus utama dalam pendidikan akuntansi nasional.

Publikasi Dosen Masih Rendah

Indikator lain dari kesiapan pendidikan tinggi adalah produktivitas riset dosen. Sayangnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa publikasi dosen akuntansi terkait keberlanjutan masih relatif rendah, baik di jurnal nasional maupun internasional. Kondisi ini penting dicermati karena riset dosen berperan besar dalam memperkaya materi ajar. Tanpa riset yang kuat, pembelajaran keberlanjutan berisiko bersifat dangkal dan normatif, tidak kontekstual dengan tantangan nyata yang dihadapi dunia usaha.

Mengapa Ini Masalah Serius?

Akuntan masa depan tidak lagi hanya berhadapan dengan laporan laba rugi. Mereka harus memahami beberapa bagian penting seperti pelaporan keberlanjutan, pengukuran dampak lingkungan, dan integrasi aspek sosial dan tata kelola ke dalam keputusan bisnis. Jika pendidikan akuntansi tidak beradaptasi, lulusan berpotensi tertinggal dari kebutuhan pasar kerja global dan gagal berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan pendidikan berkualitas dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Pendidikan Akuntansi Butuh Perubahan Paradigma

Penelitian ini menekankan bahwa integrasi keberlanjutan bukan sekadar menambah satu atau dua mata kuliah. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma—dari pendidikan akuntansi yang semata-mata berorientasi teknis dan kepatuhan, menuju pendidikan yang menumbuhkan sustainability mindset. Pendekatan pembelajaran konstruktivis menjadi salah satu solusi. Melalui metode ini, mahasiswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi diajak berpikir kritis, memahami keterkaitan ekonomi–sosial–lingkungan, serta memecahkan masalah nyata berbasis keberlanjutan.

Peran Perguruan Tinggi dan Pembuat Kebijakan

Hasil riset ini memberikan pesan penting bagi berbagai pihak: pertama, Perguruan tinggi perlu meninjau ulang kurikulum akuntansi dan memastikan keberlanjutan terintegrasi secara sistematis, bukan bersifat tambahan. Kedua, Dosen didorong untuk lebih aktif melakukan riset dan publikasi di bidang akuntansi keberlanjutan agar materi ajar relevan dan mutakhir. Dan Asosiasi profesi dan regulator pendidikan perlu menetapkan standar atau panduan yang lebih tegas terkait integrasi keberlanjutan dalam pendidikan akuntansi. Tanpa dukungan kebijakan yang kuat, upaya individual perguruan tinggi akan sulit menghasilkan perubahan yang merata.

Menyiapkan Akuntan Masa Depan

Pada akhirnya, pendidikan akuntansi memegang peran strategis dalam membentuk profesional yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Keberlanjutan bukan lagi isu tambahan, melainkan kompetensi inti bagi akuntan masa depan. Penelitian ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju pendidikan akuntansi berkelanjutan di Indonesia masih panjang. Namun, dengan komitmen bersama dari akademisi, institusi, dan pembuat kebijakan, transformasi tersebut bukan hal yang mustahil.

Untuk mengakses lebih lanjut mengenai informasi dalam penelitian ini dapat menelusuri melalui tautan berikut: https://doi.org/10.1108/JGR-02-2024-0028

Oleh: Prof. Dr. Ardianto, SE., M.Si., Ak., CA., CMA.
Guru Besar Akuntansi Keperilakuan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga