Serangan jantung adalah penyebab kematian tertinggi di dunia. Serangan jantung biasanya dimulai dari penyumbatan pembuluh darah koroner sebagai akibat penumpukan plak aterosklerosis (penyakit jantung koroner), dan mampu menutup pembuluh darah koroner secara total atau subtotal oleh pembentukan bekuan darah (trombus). Dari berbagai penyebab kematian, serangan jantung tetap menjadi momok utama karena kejadiannya sangat sulit untuk diprediksi. Kematian akibat serangan jantung dapat terjadi secara mendadak dan tanpa keluhan sebelumnya. Bahkan kematian akibat serangan jantung semakin sering kita dengar pada pasien dengan usia yang relatif muda. Pasien usia produktif yang menjadi tulang punggung keluarga tak luput dari kematian akibat serangan jantung. Selain menyebabkan duka mendalam, juga menyebabkan ketidaksiapan secara ekonomi atau finansial bagi keluarga yang ditinggalkan.
Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memitigasi bahaya serangan jantung. Dalam 10 tahun terakhir, berbagai upaya pemerintah dan stakeholder seperti menambah jumlah dokter, tenaga kesehatan, rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang memiliki laboaratorium kateterisasi telah digalakkan secara masif. Meskipun perkembangan pengobatan dan teknologi kedokteran semakin maju, namun sayangnya angka kematian akibat serangan jantung masih sulit diturunkan. Salah satu penyebab sulitnya menurunkan angka kematian akibat serangan jantung adalah karena kurangnya alat dan modalitas untuk mengetahui serangan jantung yang berpotensi fatal.
Dalam dunia kedokteran, kita sepakat bahwa deteksi dini serangan jantung adalah hal yang terutama dan esensial dalam menjamin kelangsungan hidup pasien. Dalam kejadian gawat darurat serangan jantung, langkah penanganan yang cepat dan tepat seperti menjalankan prosedur kateterisasi jantung kurang dari 2 jam dan memasukkan obat pelancar bekuan darah kurang dari 30 menit paska serangan jantung bisa memperbaiki kelangsungan hidup pasien secara bermakna. Akan tetapi masalah selanjutnya akan muncul manakala keterbatasan fasilitas, dukungan finansial dan sumber daya manusia menyebabkan kita harus memilh secara efektif dan efisien seberapa ketat, seberapa lama, seberapa sering seorang pasien paska serangan jantung diobservasi di rumah sakit, khususnya di ruang intensive care (ICU)
Berbagai studi yang dilakukan di luar negeri, Amerika Serikat, Eropa, China, Jepang dan negara Asia lainnya belum berhasil menemukan skor risiko dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yang memuaskan untuk meyakinkan dokter dalam menentukan pasien-pasien paska serangan jantung yang harus lebih intensif dan lama dirawat di ICU atau rawat inap dibandingkan dengan pasien yang relatif stabil untuk menjalani pengobatan rawat jalan. Karena masih kurangnya skor prediktor yang memiliki sensitifitas dan spesifisitas memuaskan bagi pasien paska serangan jantung, maka Dr. dr. Rurus Suryawan, Sp.JP(K) sebagai kepala divisi intervensi jantung di RSUD dr. Soetomo bersama tim dokter spesialis jantung mencoba menciptakan sebuah skor klinis dengan menggunakan algoritma pemelajaran mesin Â(machine learning) dan data lokal dari 1.714 pasien serangan jantung yang dirawat di RSUD dr. Soetomo dan menjalani pemasangan stent selama 4 tahun (2021-2024.
Dari peneltian yang dilakukan oleh Dr. dr. Rurus Suryawan, Sp.JP(K) dan tim, didapatkan skor baru dengan angka sensitivitas 94,6% dan angka spesifisitas 97,3% untuk memprediksi kelangsungan hidup pasien paska serangan jantung yang menjalani kateterisasi jantung dan pemasangan stent. Nilai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi diharapkan membantu dokter yang merawat pasien serangan jantung untuk menatalaksana pasien dengan kendali mutu dan kendali biaya yang sesuai.
Skor ini terdiri dari 13 parameter yang mudah dan cepat diperoleh bahkan sebelum pasien masuk ke laboratorium kateterisasi jantung. Parameter tersebut antara lain berupa denyut nadi, berat badan dan tinggi badan, laju nafas, jumlah urine dalam 1 hari, saturasi oksigen, tekanan darah sistolik, kandungan urea atau nitrogen darah, ekokardiografi untuk fungsi pompa jantung, durasi waktu serangan jantung, usia, jenis kelamin, anemia dan enzim jantung (NT-pro BNP). Ketigabelas parameter tersebut mempunyai bobot poin 1 untuk tiap kelainan parameter, sehingga menghasilkan kemungkinan pasien mendapatkan skor 0 hingga 13. Jika pasien mendapat skor rendah (0-3), angka kemungkinan kematian pasien adalah kurang dari 1%. Jika pasien mendapat skor sedang (4-6), angka kemungkinan kematian pasien adalah 2–5%. Jika pasien mendapat skor tinggi (7-9), angka kemungkinan kematian pasien adalah 8–30%. Terakhir, jika pasien mendapat skor sangat tinggi (10-13), angka kemungkinan kematian pasien adalah lebih dari 50%. Dari kemungkinan tersebut, maka dapat ditentukan seberapa ketat, seberapa lama, seberapa sering seorang pasien paska serangan jantung diobservasi di rumah sakit, khususnya di ruang intensive care (ICU).
Meskipun sudah diteliti dan diuji validitas internal, akan tetapi skor RURUS SURYAWAN ini senantiasa membutuhkan uji validitas eksternal. Salah satu cara terbaik adalah menggunakan skor ini dalam praktis klinis menangani pasien serangan jantung dan membuat penelitian lanjutan untuk menentukan seberapa reliabel skor ini jika digunakan di luar RSUD dr. Soetomo. Hal ini diharapkan dapat mendorong setiap dokter, tenaga Kesehatan, rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk berlomba-lomba menurunkan angka kematian akibat serangan jantung. Upaya kesehatan berkelanjutan ini diharapkan dapat diintegrasikan dalam satu tujuan yakni tercapainya dukungan dalam SDGs (Sustainable Development Goals) nomor 3, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dengan target yang akan dicapai yaitu mengurangi sepertiga kematian akibat penyakit tidak menular seperti Hipertensi dan Penyakit Jantung.
Penulis : I Gde Rurus Suryawan, Yudi Her Oktaviono, Budi Baktijasa Dharmadjati, Aldhi Pradana Hernugrahanto, Mochamad Yusuf Alsagaff, David Nugraha, Made Edgard Rurus Surya Erlangga, Pandit Bagus Tri Saputra, Ricardo Adrian Nugraha
Link : https://doi.org/10.3390/jcm14051716





