UNAIR NEWS – Rangkaian hari ketiga konferensi internasional SDGs CONNECT 2026 menghadirkan pembahasan strategis pada sesi paralel Satellite Garda Ksatria Airlangga Mahagana IKA Airlangga. Konferensi itu berlangsung di Hall Amerta, Lantai 4 Gedung Rektorat Kampus MERR-C UNAIR, Jumat (16/10/2026).
Hadir sebagai pembicara, Kepala Departemen Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran UNAIR RSUD Dr Soetomo. Dr Teddy Heri Wardhana SpOT Subsp TLBM(K), memaparkan materi bertajuk Emergency Medical Team: Concept and Implementation. Dalam pemaparannya, ia menyoroti tingginya frekuensi bencana di Indonesia yang mencapai ribuan kejadian setiap tahunnya sehingga memerlukan penanganan medis darurat yang terstruktur.
Prinsip Kemandirian EMT
Dr Teddy mengungkapkan bahwa tantangan utama yang kerap berulang pada setiap peristiwa bencana adalah masalah koordinasi dan keterbatasan logistik di fase awal kejadian. Oleh karena itu, Emergency Medical Team (EMT) yang diterjunkan ke lokasi bencana wajib menerapkan prinsip kemandirian penuh tanpa membebani fasilitas lokal yang sedang lumpuh.
“Setiap kali berangkat ke lokasi bencana, tim bantuan medis harus bisa mandiri dan tidak boleh bergantung pada sistem lokal. Kami membawa logistik, obat-obatan, hingga peralatan medis sendiri agar bisa langsung bertindak pada periode emas penanganan,” ujar Dr Teddy.
Ia menambahkan bahwa selain kemandirian, pemilahan pasien (triage) dan asesmen keandalan struktur bangunan di lapangan merupakan langkah krusial sebelum tindakan medis eksekutif dilakukan.
“Asesmen lapangan dan triase di awal sangat krusial agar penanganan medis berjalan tepat dan mencegah tim medis menjadi korban susulan,” tegas Dr Teddy.
Integrasi Penanganan Medis
Lebih lanjut, Dr Teddy menjelaskan pentingnya penguatan wadah koordinasi melalui Emergency Medical Teams Coordination Cell (EMT CC). Wadah ini berfungsi mengoordinasikan seluruh sumber daya EMT, baik tingkat nasional maupun internasional di bawah kendali otoritas kesehatan setempat. Seperti, Dinas Kesehatan atau Kementerian Kesehatan.
“Setiap EMT yang hendak menerjunkan tim ke lokasi bencana wajib terlebih dahulu melapor dan mendaftar ke EMT CC. Hal itu bertujuan agar alokasi penugasan serta pemetaan kebutuhan medis di lapangan dapat terkoordinasi secara presisi,” jelasnya.
Di akhir pemaparannya, Dr Teddy mengapresiasi pembentukan Garda Ksatria Airlangga sebagai wadah sinergi antar spesialisasi medis, perawat, hingga tenaga pendukung. Ia berharap kolaborasi itu terus berkembang menjadi tim yang terstruktur dan siap berkontribusi secara nyata bagi masyarakat.
“Kami berharap kerja sama ini berjalan lebih luas sehingga tidak hanya menjadi tim yang spontan, tetapi menjadi tim yang terorganisasi demi memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa,” pungkas Dr Teddy.
Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy
Editor: Khefti Al Mawalia
