Yovie Widianto SH Int menyampaikan materi terkait tantangan industri musik dalam ekonomi kreatif. (Foto: Istimewa).

Staf Khusus Presiden Ungkap Tantangan Industri Musik dalam Perkembangan Ekonomi Kreatif

80 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Tantangan finansial digital di Indonesia tidak fokus pada satu sektor saja. Eksistensi ekonomi kreatif negara menjadi salah satu yang terkena dampak. Dalam kesempatan ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Studium Generale dalam Political Case Seminar 2026.

Peluang mengulik literasi dalam ekonomi digital mendorong Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) FEB UNAIR menghadirkan Yovie Widianto SH Int sebagai pembicara kunci. Yovie merupakan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif. Pada kesempatan ini, ia menyoroti literasi digital, khususnya eksistensi industri musik Indonesia di tengah tantangan kecerdasan buatan.

Yovie mengaku bahwa teknologi selalu membantunya berkarya. Namun, ia menyoroti adanya data latih dalam kecerdasan buatan. Susunan musik berasal dari berbagai sumber dan masuk ke pusat data.

“Bayangkan kalau adik-adik menciptakan lagu, lalu masuk ke data latih. Pengembang AI mendapat manfaat ekonomi, sedangkan penciptanya tidak,” ujarnya di Aula Soepoyo FEB Kampus Dharmawangsa-B, Jumat (23/10/2026).

Ia membantah anggapan bahwa asal data latih mustahil dilacak. Sebuah lagu tersusun dari banyak jalur suara, mulai piano, bas, drum, hingga puluhan pemain string. Hal ini memperlihatkan bahwa kontribusi setiap unsur bisa dikenali.

“Tantangan dan yang menjadi pertanyaan adalah, maukan para pengembang AI jujur menyampaikan dari mana data latihnya berasal?” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa hak cipta bukan urusan administratif, melainkan aset ekonomi. “Kepercayaan juga menjadi fondasi bisnis kreatif, sebab audiens, konsumen, brand, dan investor akan makin peduli apabila karya itu asli, datanya legal, dan penciptanya jelas,” tambahnya.

Yovie mengakui bahwa AI mampu menciptakan lagu dengan presisi. Ia juga menyampaikan banyak karyanya yang dinyanyikan ulang oleh AI. “AI mampu mempercepat proses dan produktivitas kreatif, tetapi kreativitas manusia lahir dari pengalaman hidup, keberanian, dan pergulatan batin,” paparnya.

Ia juga mengingatkan, penggunaan AI sebaiknya hanya menjadi mitra bukan malah pengganti manusia dalam berkarya. Menurutnya, AI beroperasi menggunakan mesin, sedangkan manusia memiliki nyawa dan kemampuan yang tidak sepenuhnya tergantikan teknologi.

Ia menilai adanya keterbatasan mampu menjadi arah bagi kreativitas. “Keterbatasan yang ada, entah waktu, medium, kemampuan bernyanyi, atau jumlah pemain bisa menggerakkan kreativitas manusia,” jelasnya.

Ia mencontohkan tantangan membuat lagu hanya dengan tiga kunci nada. Hal yang terasa sulit ini mampu menghasilkan karya yang tetap diingat masyarakat berkat kekuatan lirik dan melodi. Karya ini lahir dalam bentuk lagu berjudul Janji Suci oleh Yovie & Nuno.

Menurutnya, tantangan Indonesia bukan sekadar mengadopsi AI, melainkan memastikan teknologi memperkuat kreativitas, budaya, dan jati diri bangsa. “Teknologi tidak akan pergi, tetapi jangan bergantung padanya. Kekuatan hati manusia adalah kekuatan sejati,” pungkasnya.

Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top