Perawatan saluran akar yang gagal dapat menjadi masalah yang menantang bagi dokter gigi dan membuat pasien merasakan keluhan pada gigi yang sebelumnya telah dirawat. Ketika perawatan saluran akar (Root Canal Treatment/RCT) tidak berhasil, pilihan terbaik biasanya adalah melakukan retreatment atau perawatan ulang. Prosedur ini dimulai dengan membuka restorasi lama, kemudian mengangkat bahan pengisi saluran akar (Endodontic Filling Material/EFM) secara mekanis sebelum proses pembersihan, pembentukan ulang, dan irigasi dilakukan kembali.
Penelitian menunjukkan bahwa angka kegagalan RCT terutama pada kasus dengan kerusakan jaringan periapikal masih cukup tinggi. Rao dan koleganya (2023) melaporkan prevalensi kegagalan dapat mencapai 30,4%. Penyebab utamanya berasal dari kualitas restorasi yang buruk (58,4%), obturasi yang tidak memadai (36,8%), pengisian kurang panjang (underfilling 17,8%), hingga pengisian berlebih (overfilling 1,5%). Secara klinis, pasien sering datang dengan keluhan nyeri menetap pada gigi yang sebelumnya dirawat, disertai gambaran lesi pada daerah periapikal.
Meskipun menjadi pilihan terbaik, retreatment juga tidak lepas dari risiko. Bago et al. (2021) menemukan bahwa tingkat kegagalan retreatment dapat mencapai 55%, terutama karena EFM tidak terangkat secara sempurna. Selama ini, pengangkatan bahan pengisi dilakukan dengan alat mekanis seperti rotary instrument, K-file, H-file, alat pemanas, atau bur khusus. Namun cara ini masih menyisakan bahan pengisi sekitar 10% di sepertiga koronal dan hingga 90% di sepertiga apikal saluran akar — bagian yang paling sulit dijangkau.
Untuk mengatasi keterbatasan metode mekanis, teknologi Passive Ultrasonic Irrigation (PUI) atau Ultrasonic Activated Irrigation (UAI) mulai dikembangkan sebagai prosedur tambahan. Alat ini menggunakan getaran ultrasonik untuk menghasilkan aliran akustik yang membantu melepaskan EFM secara lebih efektif. Namun, keberhasilannya masih bergantung pada kemampuan instrumen menjangkau dinding saluran akar. Lebih jauh lagi, osilasi cepat dengan frekuensi 25–40 kHz berpotensi menyebabkan mikroretakan pada dentin. Karena itu, PUI/UAI tidak cocok untuk gigi dengan bentuk saluran akar yang kompleks seperti saluran oval, panjang, melengkung, atau klasifikasi Vertucci kelas IV–V.
Perkembangan teknologi kedokteran gigi kemudian mengarah pada penggunaan laser, terutama Laser-Activated Irrigation (LAI) berbasis Er:YAG seperti PIPS dan SWEEPS. PIPS mampu menghantarkan gelombang pulsa pendek ke dalam saluran akar, namun tekanan yang dihasilkan masih sering dianggap kurang kuat untuk mengangkat bahan pengisi secara optimal. Dari sinilah kemudian dikembangkan SWEEPS, teknologi dengan pulsa ultrasingkat (25 µs) yang menghasilkan gelombang tekanan tinggi di sepanjang saluran akar. Efeknya, SWEEPS dapat mengangkat EFM lebih efektif bahkan pada bagian apikal yang sulit dijangkau oleh instrumen mekanis atau ultrasonik.
Dengan potensi kemampuan membersihkan saluran akar secara lebih menyeluruh dan minim risiko terhadap struktur gigi, SWEEPS menjadi salah satu teknologi yang menarik untuk dievaluasi lebih lanjut dalam prosedur retreatment. Inilah yang menjadikan SWEEPS menonjol sebagai alternatif modern dalam meningkatkan keberhasilan perawatan ulang saluran akar.
Penulis: Prof. Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., Sp.KG. Subsp, KE(K)
Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Brian Limantoro, Mohammad Iqbal, Sherina Fatwa Imanu, Dian Agustin Wahjuningrum, Kurnia Dwi Wulan, Jovan Dewanta Natanael, Andi Ayodhya Chandra Dirawan, Putri Alfa Meirani Laksanti, Chanaya Miranda Riveira. [2025] Evaluating SWEEPS as Alternative Method for Endodontic Filling Material Removal Procedure
During Retreatment: Systematic Review.





