Tungkai yang tersisa biasanya berubah bentuk dan volumenya selama periode pemulihan pasca operasi, yaitu antara 12 dan 18 bulan setelah operasi amputasi. Bahkan setelah 18 bulan setelah operasi amputasi (fase dewasa), anggota tubuh yang tersisa terus mengalami fluktuasi volume harian. Beberapa faktor dapat berkontribusi pada fluktuasi volume ekstremitas residual ini, seperti komorbiditas, aktivitas sehari-hari, dan suspensi prostesis. Fluktuasi volume harian ini bervariasi sesuai dengan individu dan dapat berkontribusi pada kesulitan dalam melakukan pemasangan soket prostesis. Memantau dan mengelola volume ekstremitas residual pada ekstremitas bawah sangat penting karena dokter dan pembuat prostesis bergantung pada faktor-faktor ini untuk menentukan waktu yang optimal dan jenis prostesis yang terbaik untuk pasien yang diamputasi. Mengingat keteraturan pengukuran volume ekstremitas residual dan signifikansinya dalam resep prostetik, maka sangat penting bagi dokter dan pembuat prostetik untuk memiliki akses ke teknik yang memungkinkan evaluasi volume ekstremitas residual ekstremitas bawah.

Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis teknik yang tersedia untuk mengukur volume residu tungkai bawah yang dapat digunakan dalam pengaturan klinis, sebagaimana didokumentasikan dalam karya yang diterbitkan selama empat dekade sebelumnya. Pencarian komprehensif artikel di PubMed, ScienceDirect, Web of Science, dan Google Scholar mengidentifikasi 904 artikel, dan analisis lebih lanjut menghasilkan hanya 39 artikel yang dipilih untuk dianalisis. Berdasarkan temuan tersebut, ada sembilan teknik yang tersedia untuk mengukur volume tungkai residual: perpindahan air, pengukuran antropometrik, probe kontak, pemindaian optik, tomografi terkomputasi sinar-X spiral (SXCT), pencitraan resonansi magnetik (MRI), ultrasonografi, pemindaian laser, dan bioimpedansi.
Bioimpedansi ditemukan memiliki hasil terbaik karena teknik ini memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi dan dapat mengukur fluktuasi volume tungkai yang tersisa di dalam soket. Akan tetapi, publikasi tersebut terbatas pada amputasi transtibial saja. Sebagai alternatif, teknik pemindaian laser dapat digunakan untuk menentukan volume tungkai yang tersisa untuk amputasi transfemoral dan transtibial untuk pengukuran volume pasca-pelepasan. Pemindai genggam yang biasanya digunakan dalam teknik pemindaian laser mudah ditangani, dan dengan demikian, pemindaian cepat dapat dilakukan dengan cara yang mengurangi efek pasca-pelepasan. Pergerakan subjek, distorsi bentuk tungkai yang tersisa, efek pasca-pelepasan, serta akurasi dan resolusi perangkat pengukuran adalah empat sumber utama kesalahan yang perlu dipertimbangkan selama sesi pengukuran. Lebih jauh, langkah pencegahan perlu diambil untuk menghindari kesalahan interpretasi volume tungkai yang tersisa. Dengan mengidentifikasi potensi kesalahan dan tindakan pencegahan yang diperlukan dalam teknik tersebut, peneliti dapat meningkatkan teknologi masa depan, yang berpotensi membuatnya lebih mudah, lebih cepat, dan bebas kesalahan. Penentuan fluktuasi volume tungkai yang tersisa yang benar akan membantu meningkatkan kualitas prostesis, terutama soket prostetik, dan meningkatkan kualitas hidup pasien yang diamputasi pada saat yang sama. Mengingat beragamnya teknik untuk menentukan volume tungkai yang tersisa, penting untuk memilih teknik yang paling sesuai dengan tujuan klinis, dan setiap teknik memiliki potensi sumber kesalahan yang harus dihindari dengan mengambil tindakan pencegahan.
Penulis: Suryani Dyah Astuti dan Dezy Zahrotul Istiqomah Nurdin
Link: https://www.mdpi.com/2076-3417/14/6/2594
Baca juga: Protokol Silent Acoustic Noise Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada Citra Kepala





