Budidaya perairan ataua kuakultur merupakan salah satu sektor penting penghasil sumber protein pangan dan telah dikembangkan di berbagai negara termasuk Indonesia. Namun, pertumbuhan sector budidaya yang pesat juga disertai dengan masalah lingkungan termasuk limbah budidaya yang dibuang ke lingkungan. Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa teknologi budidaya telah dikembangkan diantaranya sistem resirkulasi/ Recirculating Aquaculture System (RAS) dan sistem bioflok/ Biofloc System (BFS).
Perbandingan performa kedua teknologi budidaya tersebut (RAS dan BFS) pada pendederan benih ikan nila belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan adanya sebuah kajian yang membandingkan performa kedua teknologi budidaya tersebut dalam pendederan benih ikan nila, Oreochromis niloticus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem RAS lebih baik daripada BFS dimana tingkat pemanfaatan nutrien (protein dan energi) jauh lebih baik sehingga pertumbuhan ikan nila yang dipelihara di dalamnya juga menjadi lebih baik. Selain itu parameter kualitas air seperti konsentrasi amoniak, dan nitrit jauh lebih stabil dan lebih rendah pada sistem budidaya menggunakan sistem RAS.
Penulis: Muhamad Amin, Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga.
Referensi: Amin M, Agustono A, Ali M, Prayugo P, Hum NNMF. 2022. Apparent nutrient utilization and metabolic growth rate of Nile tilapia, Oreochromis niloticus, cultured in recirculating aquaculture and biofloc systems. Open Agriculture2022; 7: 445–454 https://doi.org/10.1515/opag-2022-0109
Link: https://www.degruyter.com/document/doi/10.1515/opag-2022-0109/html





