Sejak pandemi Virus Corona pada bulan Desember 2019 ditambah dengan adanya kemajuan teknologi mengakibatkan tumbuhnya industri kesehatan berkonsep telemedicine. Telemedicine adalah aplikasi yang secara inovatif menyediakan konsultasi kesehatan daring dan sekaligus menjadi harapan untuk meminimumkan kontak langsung dengan dokter di fasilitas kesehatan. Keberadaan telemedicine juga selaras dan membantu pemerintah dunia dalam pencapaian Sustainable Development Goal (SDG), terutama poin ke-3 tentang kehidupan yang sehat dan sejahtera berbasis inovasi teknologi.
Faktanya, beberapa negara di ASEAN sudah memiliki industri telemedicine, seperti Halodoc (Indonesia), MyDoc (Singapura dan Vietnam), Doctoroncall (Malaysia), Medgate (Filipina), dan Raksa (Thailand). Telemedicine di kawasan ASEAN memiliki berbagai fitur layanan kesehatan seperti fitur konsultasi, toko kesehatan, layanan medis, dan sebagainya. Pasien yang ingin menggunakan layanan telemedicine dapat memilih tenaga kesehatan yang telah diklasifikasikan berdasarkan bidang spesialisasinya sesuai dengan keluhan pasien. Tenaga kesehatan yang siaga biasanya ditandai ‘online’ dan dapat dipilih untuk sesi konsultasi atau perawatan. Namun, pasien yang memerlukan tindakan medis lebih lanjut perlu datang ke titik layanan medis seperti rumah sakit, klinik, dan sebagainya. Bagaimana persepsi paramedis dan non-paramedis terkait telemedicine karena disisi lain ada tanggapan bahwa telemedicine akan mengganggu eksistensi industri medis non-digital.
Penelitian menggunakan tools metode statistik Structural Equation Modeling – Partial Least Square (SEM-PLS). SEM-PLS merupakan metode yang dapat menemukan hubungan kausal antara variabel endogen dan eksogen. Selain itu, metode ini menekankan prediksi dan estimasi model statistik yang mampu menjelaskan kausalitas tersebut. Dengan demikian, penggunaan SEM-PLS memberikan hasil yang fleksibel dan akurat terkait persepsi keberadaan telemedis.
Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah data primer dari survei yang tersebar di seluruh kawasan ASEAN. Kuesioner disebarkan melalui Instagram, Facebook, Telegram, dan WhatsApp mulai Agustus 2022 hingga Desember 2022 dengan bantuan kolega tim peneliti sebagai upaya pemerataan jumlah responden. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu memilih responden dengan pertimbangan tertentu. Syarat responden adalah pernah menggunakan layanan telemedicine. Penelitian ini melibatkan 500 responden yang terdiri dari paramedis dan non-paramedis di berbagai negara ASEAN. Penelitian ini terdiri dari satu variabel endogen dan lima variabel eksogen. Variabel endogennya adalah Kepuasan terhadap telemedicine. Variabel-variabel eksogen dalam penelitian ini terkait aspek Tangibel, Reliabilitas, Daya Tanggap, Jaminan dan Empati.
Perkembangan telemedicine di kawasan ASEAN menunjukkan dinamika yang menarik. Di Indonesia, Halodoc menjadi salah satu pionir yang sering digunakan masyarakat karena menyediakan layanan konsultasi, pembelian obat, dan berbagai layanan penunjang kesehatan lainnya. Sementara itu, di Singapura, MyDoc berkembang melalui kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan besar untuk menyediakan layanan kesehatan bagi karyawan.
Di Vietnam, telemedicine semakin dipilih masyarakat sejak pandemi karena dianggap membantu mempercepat proses konsultasi serta mempermudah akses ke dokter. Berdasarkan pengalaman tenaga kesehatan di Filipina, platform Medgate sering kali membantu menjangkau daerah terpencil yang sebelumnya sulit memperoleh layanan dokter spesialis. Informasi ini menunjukkan bahwa telemedicine berperan penting dalam memperluas akses layanan kesehatan di wilayah ASEAN.
Apa Temuan Penelitian?
Berdasarkan survei terhadap 500 responden di kawasan ASEAN, komposisi responden menunjukkan bahwa 88% merupakan non-paramedis (masyarakat umum) dan 12% paramedis. Kelompok paramedis terdiri atas perawat (47%), spesialis medis (17%), asisten medis (18%), dokter umum (12%), dan dokter gigi (6%). Responden juga berasal dari beberapa negara ASEAN, antara lain Timor Leste (28%), Singapura (9%), dan Kamboja (9%).
Meskipun telemedicine semakin dikenal, 81% responden masih lebih memilih layanan tatap muka, sedangkan hanya 19% yang lebih sering menggunakan telemedicine. Temuan ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan daring masih dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti layanan konvensional.
Faktor yang Memengaruhi Kepuasan Telemedicine
Hasil analisis menunjukkan bahwa tiga dari lima faktor yang diteliti memberikan pengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna telemedicine. Faktor yang paling dominan adalah reliabilitas dokter (78,2%), yang mencakup kejelasan jadwal konsultasi, ketepatan diagnosis, kompetensi profesional, dan tanggung jawab dokter selama proses perawatan. Faktor berikutnya adalah daya tanggap (39,2%), yang terdiri atas kecepatan dokter dalam merespons, kemudahan akses layanan, komunikasi yang efektif, serta kelengkapan informasi yang diterima pengguna. Semakin cepat dan efektif layanan diberikan, semakin tinggi pula kepuasan yang dirasakan. Sementara itu, variabel jaminan justru menunjukkan pengaruh negatif (-33,8%) terhadap kepuasan. Hal ini berkaitan dengan kurangnya keyakinan pasien terhadap jaminan kesembuhan yang diberikan dokter melalui diagnosis telemedicine. Banyak pengguna masih meragukan keakuratan diagnosis dan efektivitas hasil pengobatan yang dilakukan secara daring, sehingga aspek jaminan perlu diperkuat agar meningkatkan rasa percaya pasien. Dua faktor lainnya yaitu bukti fisik dan empati tidak menunjukkan pengaruh signifikan karena pengguna lebih menitikberatkan keandalan dokter, kecepatan layanan, dan rasa aman dibandingkan tampilan aplikasi atau perhatian emosional selama konsultasi.
Rekomendasi untuk Masa Depan Telemedicine di ASEAN
Berdasarkan temuan penelitian, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan telemedicine di kawasan ASEAN, antara lain:
- Meningkatkan kualitas dan kredibilitas dokter melalui verifikasi keterampilan dan kompetensi.
- Meningkatkan kecepatan dan responsivitas layanan, termasuk akses konsultasi dan waktu respon.
- Memperkuat sistem keamanan data serta transparansi hasil konsultasi untuk meningkatkan kepercayaan pengguna.
Penelitian juga merekomendasikan pengembangan sistem telemedicine yang terintegrasi di seluruh ASEAN. Dengan fitur seperti konsultasi daring, layanan laboratorium, pertolongan pertama, dan antarmuka yang ramah pengguna, layanan telemedicine dapat lebih mudah diterima dan digunakan oleh masyarakat luas.
Telemedicine telah berkembang menjadi salah satu inovasi kesehatan penting pascapandemi, namun keberhasilan penerapannya di kawasan ASEAN sangat bergantung pada tiga faktor utama, yaitu keandalan dokter, kecepatan serta responsivitas layanan, dan jaminan keamanan data beserta transparansi diagnosis. Apabila ketiga faktor tersebut dapat dipenuhi, telemedicine berpotensi menjadi layanan kesehatan yang lebih inklusif, mudah diakses, dan terjangkau bagi masyarakat luas. Selain memberikan kemudahan bagi pasien dalam memperoleh layanan medis, telemedicine juga membantu tenaga kesehatan bekerja lebih efisien di era digital. Dengan dukungan kebijakan yang kuat, kolaborasi lintas negara, dan keterlibatan aktif sektor pemerintah maupun swasta, telemedicine dapat berkembang menjadi salah satu pilar utama dalam sistem kesehatan masa depan di kawasan ASEAN.
Penelitian ini menunjukkan bahwa telemedicine memiliki potensi besar untuk meningkatkan akses layanan kesehatan di kawasan ASEAN, terutama dalam situasi pascapandemi. Meskipun sebagian besar masyarakat masih lebih nyaman dengan konsultasi tatap muka, faktor keandalan dokter, kecepatan pelayanan, serta jaminan keamanan dan keakuratan informasi menjadi penentu utama kepuasan pengguna telemedicine. Apabila ketiga aspek penting ini terus diperbaiki melalui teknologi dan kebijakan kesehatan yang tepat, telemedicine dapat berkembang menjadi layanan kesehatan yang lebih inklusif, cepat, dan mudah dijangkau oleh seluruh masyarakat ASEAN.
Penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua responden, khususnya tim peneliti Dr. Izyan Abdul Wahab dari Universiti of Malaya, Prof. Deshinta Arrova Dewi dari INTI International University Malaysia serta alumni Statistika Universitas Airlangga yang terlibat yaitu Naufal Ramadhan, M.Si, Anggara Teguh Previan, S.Stat, I Kadek Pasek Kusuma Adi Putra, S.Stat, Steven Soewignjo, S.Stat, Hadi Prayogi, S.Stat, Citra Imama, S.Stat, Zidni Ilmatun, S.Stat, dan Ferdiana Friska, S.Stat. Semua usaha yang panjang dapat berakhir dengan terealisasinya luaran SATU JRS, sebuah Penelitian Internasional yang telah dilakukan.
Link Artikel Ilmiah
View of Perceptions of Paramedics and Non-paramedics Related to Existence of Telemedicine in ASEAN Based on SEM-PLS https://dm.ageditor.ar/index.php/dm/article/view/732/1129





