Kajian ini ingin mengembangkan model pengelolaan pangan darurat berbasis bencana dengan menggunakan produk lokal yaitu tepung mocaf. Kegiatan tersebut merupakan upaya implementasi dari kerangka Sendai Framework for Action 2015-2030 yaitu investasi pengurangan risiko bencana untuk ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. Produk pangan yang mampu memenuhi kebutuhan korban bencana tersebut biasa dikenal dengan istilah pangan darurat.
Pangan darurat sengaja dirancang agar mampu memenuhi kebutuhan energi harian manusia dalam keadaan darurat dan dapat segera dikonsumsi. Pangan darurat merupakan pangan olahan yang secara khusus dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi harian manusia dan dikonsumsi dalam situasi darurat. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi, manusia membutuhkan pangan darurat sebesar 2.100 kkal/hari. Menurut Zoumas et al., untuk mencapai total kalori tersebut, jumlah makronutrien yang dianjurkan adalah protein, lemak, dan karbohidrat masing-masing sebesar 10-15%, 35-45%, dan 40-50%. Kandungan tersebut dapat diperoleh dengan memanfaatkan komoditas lokal di daerahnya masing-masing.
Komoditas unggulan di Desa sangat beragam, yaitu singkong, ubi jalar, talas, dan jagung. Namun, komoditas unggulan di Desa adalah singkong karena produksinya melimpah, murah (500/kilogram), dan mengikuti selera masyarakat setempat. Menurut Jarwoto, hampir setiap rumah warga di Desa menanam singkong, baik di pekarangan rumah maupun di lahan pertaniannya. Masyarakat sering memanfaatkan singkong untuk diolah menjadi Tepung Mocaf (Modified Cassava Fluorine) yang dapat menggantikan tepung terigu. Seratus gram tepung Mocaf mengandung karbohidrat 82,90%, lemak 0,83%, protein 3,32%, dan serat 2,30%. Kandungan nilai gizi tepung Mocaf sangat baik dimanfaatkan untuk bahan dasar pembuatan makanan darurat dengan kandungan karbohidrat yang tinggi.
Pengembangan makanan darurat berbahan tanaman pangan lokal menjadi salah satu alternatif penguatan masyarakat dalam menghadapi bencana. Menurut Sutton dan Tierney, kegiatan kesiapsiagaan harus didasarkan pada pengetahuan tentang potensi dampak bahaya bencana terhadap kesehatan dan keselamatan. Faktor kesiapsiagaan kritis untuk mengantisipasi bencana alam adalah pengetahuan dan sikap terhadap risiko bencana. Pengetahuan merupakan faktor penting dan kunci kesiapsiagaan. Pengetahuan yang dimiliki biasanya dapat mempengaruhi sikap dan perhatian untuk siap siaga dalam mengantisipasi bencana.
Berdasarkan kajian ini mengusulkan untuk mengembangkan produk pangan darurat dari Tepung Mocaf dengan tujuan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. Metode penelitian kuantitatif dengan desain pra-eksperimen one group pretest-posttest design. Hasil penelitian karakteristik demografi desa, dan uji perilaku sebelum dan sesudah diberikan berupa pelatihan pangan darurat lokal. Sebelum diberi perlakuan, pengetahuan kesiapsiagaan responden memiliki skor rata-rata 33,92, dan setelah diberi perlakuan menjadi 40,80, dengan selisih skor rata-rata 6,88 yang berarti terjadi peningkatan nilai rata-rata pengetahuan kesiapsiagaan responden setelah diberi perlakuan. Uji t-paired sample menghasilkan taraf signifikansi 0,000 < 0,05, bahwa ada pengaruh pengembangan pangan darurat bencana berbasis sumber pangan lokal tepung mocaf dalam meningkatkan pengetahuan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana.
Hasil kajian menemukan pengaruh pengembangan pangan darurat bencana berbasis sumber pangan lokal tepung mocaf terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat dan pengetahuan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana dengan membuat produk pangan darurat bencana berbasis pangan lokal.
Penulis: Moses Glorino Rumambo Pandin & Christrijogo Sumartono Waloejo
Baca juga: Dampak Bencana Alam terhadap Energi Terbarukan di Asia





