Universitas Airlangga Official Website

Terapi Elastik Dinamis sebagai Alternatif Minim Invasif dalam Penanganan Fraktur Rahang Bawah pada Anak dan Remaja

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Fraktur mandibula atau patah tulang rahang bawah merupakan salah satu cedera pada daerah wajah yang paling sering terjadi, terutama akibat kecelakaan lalu lintas, olahraga kontak, maupun trauma akibat benturan langsung. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan nyeri, tetapi juga berdampak pada kemampuan mengunyah, berbicara, serta keseimbangan estetika wajah. Penanganan fraktur mandibula bertujuan untuk mengembalikan posisi anatomi rahang dan hubungan gigi atau oklusi seperti sebelum terjadinya cedera, sehingga fungsi rahang dapat pulih secara optimal.

Selama ini, tindakan pembedahan terbuka dengan pemasangan plat dan sekrup atau open reduction and internal fixation(ORIF) dikenal sebagai standar emas dalam penanganan fraktur mandibula. Meskipun efektif, metode ini memiliki sejumlah keterbatasan, terutama pada pasien anak dan remaja yang masih berada dalam masa pertumbuhan. Risiko cedera saraf, jaringan parut pada wajah, kemungkinan gangguan pertumbuhan tulang rahang, serta biaya perawatan yang relatif tinggi menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan terapi. Kondisi tersebut mendorong berkembangnya pendekatan alternatif yang lebih sederhana, aman, dan minim invasif.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah closed reduction dengan fiksasi intermaksiler menggunakan terapi elastik dinamis. Metode ini memanfaatkan karet elastik ortodontik yang dipasang pada arch bar rahang atas dan bawah untuk membimbing posisi rahang secara bertahap sesuai dengan prinsip biomekanika. Elastik dinamis bekerja dengan mengoreksi hubungan gigi sehingga rahang akan mengikuti posisi anatomi yang benar secara alami, tanpa memerlukan sayatan bedah.

Penerapan terapi ini ditunjukkan melalui dua kasus pasien usia remaja dengan fraktur mandibula yang berhasil ditangani tanpa pembedahan terbuka. Pada kasus pertama, seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun mengalami fraktur multipel mandibula akibat cedera saat berolahraga bela diri. Kondisi tersebut menyebabkan gangguan oklusi berupa open bite dan crossbite anterior yang menyulitkan pasien menutup mulut secara normal. Penanganan dilakukan dengan pemasangan arch bar pada rahang atas dan bawah yang kemudian dihubungkan dengan elastik dinamis berarah vertikal untuk memandu reposisi fragmen tulang. Setelah fase awal menggunakan elastik dinamis, fiksasi dilanjutkan dengan kawat untuk menjaga stabilitas selama proses penyembuhan. Hasil evaluasi klinis dan radiografis menunjukkan penyatuan tulang yang baik, dengan pemulihan fungsi buka mulut tanpa keluhan nyeri.

Kasus kedua melibatkan anak laki-laki berusia 13 tahun yang mengalami fraktur tunggal pada daerah simfisis mandibula akibat kecelakaan sepeda motor. Fraktur ini menyebabkan pergeseran fragmen tulang yang mengganggu fungsi mengunyah dan hubungan gigi. Terapi dilakukan dengan pemasangan elastik dinamis yang diarahkan secara lateral dan vertikal untuk mengoreksi pergeseran tersebut. Setelah sekitar dua setengah bulan perawatan, pasien menunjukkan perbaikan oklusi yang stabil, penyatuan tulang yang adekuat, simetri wajah yang baik, serta kembalinya fungsi rahang secara optimal tanpa tindakan bedah invasif.

Keberhasilan penanganan kedua kasus tersebut menunjukkan bahwa terapi elastik dinamis dengan fiksasi intermaksiler dapat menjadi alternatif yang efektif dan aman dalam penanganan fraktur mandibula, khususnya pada pasien anak dan remaja. Metode ini bersifat minim invasif, memiliki risiko cedera saraf dan jaringan lunak yang lebih rendah, serta relatif lebih terjangkau dari sisi biaya. Selain itu, elastik dinamis memungkinkan pergerakan fungsional ringan yang justru mendukung proses penyembuhan dan remodeling tulang secara alami. Namun demikian, keberhasilan terapi ini sangat bergantung pada pemilihan kasus yang tepat, pemahaman arah tarikan biomekanis, serta kepatuhan pasien dalam menjaga kebersihan mulut dan asupan nutrisi selama masa fiksasi.

Secara keseluruhan, penggunaan terapi elastik dinamis pada closed reduction terbukti mampu mengembalikan fungsi oklusi dan struktur anatomi mandibula mendekati kondisi sebelum cedera. Pendekatan ini dapat menjadi pilihan klinis yang relevan, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas atau pada pasien yang memiliki risiko tinggi terhadap komplikasi pembedahan. Dengan penerapan yang tepat, terapi ini tidak hanya memberikan hasil klinis yang baik, tetapi juga meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup pasien dengan fraktur rahang bawah.

Penulis: drg. Liska Barus, Sp.BM dan drg. Yuliana Merlindika Sembadani

Detail artikel ini bisa diakses di:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2210261225000987?pes=vor&utm_source=scopus&getft_integrator=scopus