Di Amerika, program sekolah dwibahasa cukup populer sebagai upaya untuk menampung siswa pendatang (generasi pertama dst.) yang tidak berbahasa Inggris. Dalam perkembangannya, sekolah ini juga dikemas sedemikian rupa agar dapat menarik siswa domestik untuk mengembangkan bahasa lainnya (Spanyol). Kebanyakan sekolah dwi bahasa di Amerika mengajarkan bahasa Inggris dan Spanyol dengan tujuan meningkatkan kompetensi linguistik dan budaya siswanya dengan penekanan pada kemampuan dwibahasa dan dwiliterasi, kesuksesan akademis, dan kompetensi sosial budayanya. Faktanya, sekolah dwibahasa ini identik sebagai sekolah yang cenderung mengabaikan kemampuan bahasa siswa minoritas (yang umumnya dari keluarga immigrant eks jajahan Spanyol dengan aksen masing-masing) dan mengagungkan kaum mayoritas yang melihat pembelajaran bahasa kedua ini sebagai aset masa depan. Sementara itu, para pengajar sekolah pun masih bingung memahami apa yang dimaksud dengan tujuan kompetensi sosial budaya dan bagaimana cara mencapainya. Mereka memiliki beragam pendapat dalam mengkonsepkan pengaruh bahasa dan budaya yang mewujudkan kompetensi sosial budaya dan inilah yang dibahas dalam studi ini.
Penelitian kolaborasi dengan peneliti Amerika ini menyajikan narasi dari dua guru sekolah dwibahasa di Amerika dan persepsi mereka tentang kedinamisan bahasa dan budaya di konteks pendidikan. Dengan memakai analisa wacana kritis, kami menemukan bahwa praktek mengajar kedua guru ini bergantung pada bagaimana mereka memahami peran unsur bahasa dan budaya dalam mencapai tujuan kompetensi sosial budaya di program sekolah dwibahasa. Salah satu dari mereka berkomentar bahwa hubungan bahasa dan budaya dalam meningkatkan kompetensi sosial budaya siswanya adalah hal yang “terlalu sulit” untuk dipikirkan. Ini menegaskan bahwa konsep bahasa, budaya dan kompetensi sosial budaya, yang menjadi salah satu tujuan program sekolah dwibahasa di Amerika ini, terkesan masih ambigu dan tidak mudah dipahami bagi para guru. Sehingga jika konsepnya saja masih tidak paham, maka akan sulit bagi para pendidik ini untuk mencapai target kompetensi sosial budaya dalam pengajaran di kelas mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru akan pentingnya unsur bahasa dan budaya dalam menentukan cara mereka mengajar dami mencapai tujuan kompetensi sosial budaya, beragam dan cenderung rendah sehingga perlu terus dibina. Untuk meningkatkan kesadaran akan bahasa dan budaya dalam konteks multibahasa dan multikultural, diperlukan setidaknya 3 hal. Pertama, menitikberatkan pada pemahaman kompetensi sosial budaya dalam program pengembangan profesi guru secara berkesinambungan. Kedua, meningkatkan kesadaran guru akan pentingnya kompetensi sosial budaya dengan tidak mengabaikannya. Ketiga, membuka wawasan guru agar jeli dan kritis dalam menyikapi relasi bahasa dan budaya dengan ideologi dan kekuasaan, yang dapat mempengaruhi proses pengajaran. Akhirnya, penelitian ini juga menyimpulkan bahwa para guru sekolah dwibahasa harus mengerti bahwa unsur budaya dapat tercermin melalui praktek translanguaging (praktek komunikasi yang dilakukan para pengguna multibahasa) yang sekaligus juga dapat berfungsi sebagai cara untuk mempertahankan identitas siswa (kaum minoritas) dari dinamika kekuasaan (kaum mayoritas) yang mendominasi. Lebih lanjut, praktek translanguaging dapat menjadi senjata pedagogis yang kuat dalam mendukung partisipasi siswa di“permainan bahasa” (dikenalkan oleh Gee tahun 2011) dalam berbagai situasi sosial karena translanguaging dapat membentuk identitas dan memberi akses kekuatan siswa minoritas.
Penulis: Noerhayati Ika Putri, S.S., M.A., Ph.D.





