Universitas Airlangga Official Website

Tim Ekspedisi Patriot 10 UNAIR Gagas Pengelolaan Sampah Sirkular Berbasis Komunitas di Prafi

Tim Ekspedisi Patriot 10 UNAIR merancang pendekatan baru dalam pengelolaan sampah di kawasan pemukiman transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat (Foto: Narasumber)

UNAIR NEWS — Tim Ekspedisi Patriot 10 Universitas Airlangga (UNAIR) merancang pendekatan baru dalam pengelolaan sampah di kawasan pemukiman transmigrasi Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Intervensi yang mereka hadirkan berfokus pada penguatan sistem pengelolaan sampah sirkular dan analisis rantai pasar, ketimbang sekadar memberikan bantuan teknologi fisik.

Tim yang diketuai oleh Ramayya PhD ini melakukan pemetaan awal pada Agustus. Pemetaan ini mereka lakukan karena tata kelola sampah di kawasan Prafi tergolong masih terbatas. Pengangkutan terorganisasi baru berjalan di SP4/Kampung Udapi Hilir melalui BUMDes dan mulai menjangkau sebagian wilayah SP3/Kampung Aimasi dengan pola pengumpulan sampah yang masih bercampur untuk langsung terbuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Rumayya dan tim melakukan pendekatan sirkular dengan berdasarkan temuan adanya mesin pencacah plastik bantuan pemerintah yang berujung mangkrak di lokasi. Alat tersebut tidak beroperasi akibat tingginya biaya operasional serta ketidakjelasan rantai pembeli (off-taker) sejak awal.

“Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi kami. Karena itu, kami tidak ingin memulai intervensi dari alat atau teknologi. Yang kami petakan lebih dulu adalah aliran sampah, aktor, biaya operasional, kapasitas pengelola, dan jalur pasar agar teknologi yang dipilih nanti benar-benar sesuai kebutuhan,” ujar Rumayya. 

Sebagai langkah nyata, tim mengarahkan perubahan alur pembuangan sampah dari sistem konvensional menuju rantai sirkular yang. Mulai dari pemilahan di sumber, pengumpulan terpisah, pemanfaatan sampah organik secara lokal, penyaluran material anorganik ke rantai pasar yang layak, hingga menyisakan residu minimal ke TPA.

Untuk pengolahan sampah organik, MAN Manokwari di SP4/Udapi Hilir mereka pilih sebagai lokus percontohan Green Lab. Pemilihan tersebut atas dasar kuatnya komitmen pihak sekolah dan ketersediaan lahan. 

“Green Lab nantinya tidak hanya menjadi tempat membuat kompos. Tetapi menjadi tempat belajar bagaimana sistem pemilahan hingga pemanfaatan akhirnya seharusnya berjalan,” tutur Rumayya.

Program Green Lab terintegrasi langsung dengan Kebun Pangan Sirkular sehingga siklus pemanfaatan sampah dapat disaksikan dan dirasakan manfaatnya secara konkret.

Penguatan dari sisi kelembagaan turut tim lakukan dengan memfasilitasi kerja sama antarkampung antara Udapi Hilir dan Aimasi melalui peluang pembentukan BUMDes bersama (BUMDesma). BUMDes Udapi Hilir yang telah memiliki pengalaman operasional dasar akan mendapatkan penguatan kapasitas dalam sistem yang lebih kompleks. Seperti pembukuan, pencatatan volume material, dan hubungan dengan pembeli daur ulang.

Seluruh rangkaian kegiatan pemetaan sosial, sosialisasi, hingga pembangunan komitmen bersama pemangku kepentingan telah rampung sepanjang Agustus 2026.

“Pendekatan tim adalah memperkuat sistem yang sudah tumbuh secara lokal, bukan menggantikannya dengan sistem baru. Agustus digunakan untuk pemetaan, sosialisasi, diskusi, MoU, dan membangun konsensus. Pelatihan dan uji coba teknis akan lebih intensif mulai September setelah kepadatan kegiatan Agustus-an di sekolah dan kampung berkurang,” jelas Rumayya.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon 

Editor: Yulia Rochmawati