Universitas Airlangga Official Website

Tuberkulosis Mata pada Anak: Laporan Kasus Manifestasi Klinis yang Kompleks

Sumber: RSUD Buleleng
Sumber: RSUD Buleleng

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis yang terutama menyerang paru, namun dapat pula menyebar ke organ lain termasuk mata, dalam bentuk yang dikenal sebagai tuberkulosis okular. Pada anak-anak, TB okular tergolong jarang namun memiliki risiko tinggi terhadap gangguan penglihatan permanen, terutama karena keterlambatan diagnosis dan pengobatan yang tidak adekuat. Anak-anak diketahui memiliki respon imun yang lebih reaktif terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis, yang dapat memicu inflamasi mata yang lebih berat dibandingkan dewasa. Laporan kasus ini mengilustrasikan pentingnya kewaspadaan klinis terhadap kemungkinan TB okular pada anak, bahkan ketika gejalanya tampak seperti peradangan mata biasa.

Seorang anak perempuan usia 10 tahun datang ke poliklinik mata dengan keluhan mata kiri yang merah intermiten selama satu bulan terakhir, disertai rasa tidak nyaman seperti berpasir, fotofobia, dan nyeri ringan. Awalnya, pasien sempat mengalami benjolan kecil di tepi kornea yang hilang dalam seminggu, namun keluhan tetap berulang. Dua minggu kemudian, pasien mengalami keluarnya cairan bening dari mata kiri dan penurunan tajam pada visus. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya fliktenul (nodul kecil inflamasi) di tepi kornea yang kemudian didiagnosis sebagai konjungtivitis fliktenular, dan diberikan pengobatan berupa kortikosteroid topikal, atropin, antibiotik topikal, dan air mata buatan.

Namun, dalam kunjungan lanjutan selama satu bulan ke depan, gejala semakin memburuk. Visus mata kiri turun menjadi hanya mampu menghitung jari dari jarak 3 meter, dan tekanan intraokular menurun drastis menjadi 6 mmHg. Pemeriksaan segmen anterior menunjukkan hiperemia konjungtiva berat, infiltrat kornea anterior dan stromal, edema kornea, fibrosis, neovaskularisasi, dan keratic precipitates jenis mutton-fat. Pemeriksaan segmen posterior menunjukkan edema saraf optik dan retina pucat dengan tortuositas vaskular, mengindikasikan neurorentinopati. Hasil Optical Coherence Tomography (OCT) menunjukkan penebalan lapisan serabut saraf retina dan makula, dengan hasil visual field menunjukkan adanya skotoma paracentral.

Pasien kemudian dirujuk ke bagian pediatri untuk evaluasi sistemik. Pemeriksaan Mantoux menunjukkan hasil positif, dan diketahui pasien memiliki riwayat kontak dengan tetangga yang terdiagnosis TB aktif. Dengan mempertimbangkan gejala mata dan hasil pemeriksaan, pasien didiagnosis mengalami tuberkulosis okular yang dikomplikasi oleh konjungtivitis fliktenular, keratitis interstisial, skleritis anterior difus, uveitis anterior, dan neurorentinopati pada mata kiri. Pasien langsung mendapatkan terapi anti-TB sistemik fase intensif (isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol), disertai metilprednisolon oral, terapi neuroprotektif, serta kortikosteroid dan antibiotik topikal.

Tindak lanjut dua minggu setelah terapi menunjukkan perbaikan signifikan dengan penurunan hiperemia dan visus meningkat menjadi 6/45. Setelah satu bulan, visus meningkat menjadi 6/7 dan tekanan intraokular menjadi stabil di 13 mmHg. Pemeriksaan menunjukkan resolusi infiltrat, penurunan vaskularisasi dan edema kornea, serta tidak ditemukan flare atau sel dalam bilik mata depan. Setelah dua bulan terapi, visus kembali normal menjadi 6/6 dengan tekanan intraokular stabil dan struktur mata tampak normal, hanya ditemukan nebula kecil berukuran 3 x 1 mm di kornea inferior.

Diskusi mengenai kasus ini menunjukkan bahwa TB okular dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk seperti konjungtivitis, keratitis, skleritis, uveitis, hingga neuropati optik, baik secara unilateral maupun bilateral. Bentuk manifestasi seperti uveitis granulomatosa anterior, nodul iris, dan keratic precipitates besar sering muncul sebagai reaksi hipersensitivitas terhadap antigen mikobakteri. Keratitis interstisial dan skleritis pada kasus ini diyakini juga muncul karena keterlibatan langsung maupun reaksi imun terhadap antigen TB. vaskularisasi tinggi sangat rentan terhadap penyebaran hematogen dari TB sistemik, dan dapat menyebabkan uveitis anterior maupun posterior.

Dalam kasus ini, keterlibatan posterior berupa neuroretinitis memperberat gambaran klinis, namun menunjukkan respon baik terhadap kombinasi terapi anti-TB dan steroid agresif. Berdasarkan pedoman CDC, terapi TB disarankan selama 6 bulan dengan 2 bulan awal terapi intensif diikuti 4 bulan terapi lanjutan. Pada kasus dengan respon buruk, perpanjangan terapi hingga 9–12 bulan dapat dipertimbangkan. Kortikosteroid digunakan untuk mengurangi kerusakan jaringan akibat inflamasi, dan pada anak-anak dosisnya perlu disesuaikan karena kecenderungan reaktivitas imun yang lebih tinggi.

Kesimpulan dari laporan ini menekankan pentingnya deteksi dini dan terapi agresif pada tuberkulosis okular pada anak. Penggunaan terapi kombinasi anti-TB sistemik dan kortikosteroid baik topikal maupun sistemik terbukti efektif dalam menangani komplikasi inflamasi berat. Penanganan yang cepat dan tepat memungkinkan pemulihan fungsi penglihatan secara optimal. Dengan meningkatnya kasus TB global, penting bagi tenaga medis, khususnya oftalmologis dan dokter anak, untuk mempertimbangkan TB sebagai diagnosis banding pada kasus peradangan mata yang tidak membaik dengan terapi standar..

Penulis: Affannul Hakim1,2, Evelyn Komaratih1,2*, Ismi Zuhria1,2

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.panafrican-med-journal.com/content/article/49/68/full