UNAIR NEWS – Gaya hidup konsumtif dan minimnya pemahaman finansial kerap menjadi gerbang utama bagi generasi muda terperosok ke dalam jurang pinjaman online atau pinjol ilegal. Berangkat dari keresahan tersebut sekaligus sebagai langkah preventif, Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menginisiasi edukasi masif melalui gelaran SmartFin Day (Smart Financial Day) bertajuk Preparing Long-Term Assets Now! pada Rabu (12/8/2026).
Berlangsung di Auditorium Ternate, Gedung ASEEC Tower Kampus Dharmawangsa-B UNAIR, acara ini menghadirkan pakar finansial dan tokoh inspiratif. Hadir sebagai narasumber adalah Tirta Mandira Hudhi (dr Tirta) dan Direktur AXA Mandiri, Atta Alva Wanggai. Turut hadir pula jajaran perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Literasi Keuangan, Kunci Kelola Risiko
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya UNAIR, Prof Dr Ardianto SE Ak MSi menegaskan bahwa tugas universitas bukan sekadar mencetak lulusan yang unggul secara akademik, melainkan juga membekali mahasiswa dengan kecakapan hidup. Literasi finansial menjadi salah satu pilar utama bagi seorang sarjana yang kelak akan memasuki kehidupan nyata dengan berbagai keputusan ekonomi. Mulai dari mengelola pendapatan hingga merencanakan masa depan.
“Banyak pemuda terjerat pinjol akibat minimnya literasi keuangan. Memiliki penghasilan bukan jaminan sehat finansial, esensinya terletak pada kebijaksanaan mengelola uang dan membedakan kebutuhan dengan keinginan,” terang Prof Ardianto.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keuangan, asuransi, dan investasi pada dasarnya adalah konsep fundamental tentang pengelolaan risiko. “Kita tidak dapat memprediksi masa depan secara pasti karena risiko seperti sakit, kecelakaan, atau kehilangan pekerjaan akan selalu ada. Oleh karena itu, generasi muda perlu memiliki cara pandang yang sehat terhadap risiko guna mengatasi berbagai tantangan di masa depan,” jelas Prof Ardianto.
Menghadapi derasnya arus informasi di era digital, mahasiswa juga dituntut lebih cerdas menyaring tren. Dengan harapan mereka tidak terjebak dalam kesesatan informasi dan terhindari dari bias pengambilan keputusan.
“Kita harus mampu menyaring informasi dengan sebaik-baiknya agar mendapatkan data yang akurat, tidak terjebak kesesatan informasi, dan terhindar dari bias dalam mengambil keputusan,” imbuh Prof Ardianto.
Simulasi Anggaran Sejak Dini
Direktur AXA Mandiri, Atta Alva Wanggai, menyoroti persaingan kerja yang semakin ketat akibat kondisi ekonomi global dan efisiensi Artificial Intelligence (AI). Ironisnya, di saat yang sama, generasi muda justru kerap tergoda gaya hidup konsumtif seperti FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once) akibat masifnya paparan media sosial.
Tingginya gaya hidup konsumtif ini semakin memprihatinkan. Mengingat tingginya inklusi perbankan (70 persen) belum seimbang dengan pemahaman literasi yang memadai (65,5 persen).
“Muncul keinginan tapi kemampuannya tidak ada, terjadilah gap kemampuan ekonomi. Paling gampang akhirnya lari ke judi online atau utang digital. Padahal itu semua adalah jebakan (trap),” papar Atta.
Untuk memutus rantai tersebut, Atta mengajak mahasiswa menjadikan uang saku bulanan sebagai sarana simulasi mengelola keuangan sebelum memasuki dunia kerja. “Coba mulai belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kalau dikirim uang sama orang tuanya, jangan sampai kiriman itu langsung dipakai habis tanpa di-manage,” pesannya.
Selain harus disiplin menyusun anggaran (budgeting) setiap bulannya, mahasiswa juga kiranya mulai menyisihkan dana pada aset produktif serta menyiapkan dana darurat dan asuransi sebagai proteksi finansial.
“Paling simpel, dana yang disisihkan bisa lari ke reksa dana atau cicil emas untuk membangun aset. Kalau risiko tidak bisa dikelola sendiri melalui dana darurat, kami sarankan masuk ke asuransi agar risiko tersebut bisa ditransfer,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.
Editor: Yulia Rohmawati





