Universitas Airlangga Official Website

UNAIR Dorong Dosen dan Akademisi Tingkatkan Publikasi Ilmiah Melalui Konsorsium Riset Global 

Ketua LPJPHKI, Prof Ferry Efendi SKepNs MSc Ph.D saat memaparkan materi pada Workshop LPJPHKI (Foto: Istimewa)
Ketua LPJPHKI, Prof Ferry Efendi SKepNs MSc Ph.D saat memaparkan materi pada Workshop LPJPHKI (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Lembaga Pengembangan Jurnal, Publikasi, dan Hak Kekayaan Intelektual Universitas Airlangga (LPJPHKI UNAIR) percaya bahwa publikasi kuat akan membawa reputasi hebat untuk universitas. Mengupayakan penguatan, pengembangan, dan publikasi ilmiah tersebut, LPJPHKI hadirkan Workshop bertajuk Menembus Konsorsium Internasional dan Meningkatkan Dampak Publikasi. Kegiatan tersebut terlaksana pada Selasa (7/7/2026) di Ruang Bima Suci, Airlangga Convention Centre (ACC), Kampus MERR–C UNAIR.

Berkolaborasi dengan GBD

Pada Workshop kali ini, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Dr drg Arief Hargono MKes memaparkan materi terkait kolaborasi riset internasional melalui Global Burden of Disease (GBD). Kajian global berskala besar ini terkoordinasi oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Ia menyebut bahwa GBD mengukur beban penyakit berdasarkan periode seseorang mengalami disabilitas atau kematian dini akibat penyakit serta cedera. “Ada aplikasi di dalam tautan GBD yang bisa kita manfaatkan untuk kita olah datanya. Ya jadi data sekunder misalnya,” paparnya.

Lebih lanjut, Dr Arief menjelaskan bahwa dosen dan peneliti dapat memanfaatkan data GBD yang dapat publik akses. Portal visualisasi interaktif tersebut menyediakan perbandingan berbagai penyakit antarnegara dan tren dari waktu ke waktu. Ia juga menekankan bahwa menjadi kolaborator di GBD akan membuka peluang untuk me-review dan memberikan masukan pada artikel GBD sebelum terpublikasikan. “Selain mencantumkan nama kolaborator sebagai co-author di jurnal berdampak tinggi, data GBD ini juga bisa kita gali potensinya. Antara lain untuk menghasilkan luaran kajian lanjutan, mulai dari meningkatkan awareness masyarakat, memberi masukan ke penentu kebijakan. Selauin itu, hingga membuat kajian membahas regulasi dan lain sebagainya,” tegasnya. 

Sejalan dengan penjelasan Dr Arief, Ketua LPJPHKI, Prof H Hery Purnobasuki Drs MSi PhD menyebut pentingnya mempersiapkan strategi guna membangun kolaborasi publikasi internasional. Ia memaparkan empat poin penting strategi yang dapat dilakukan. Empat poin itu yakni pemanfaatan ekosistem rising scholars, korespondensi akademik efektif, sinergi lintas negara, hingga manajemen publikasi jurnal. “Kolaborasi global sangat penting untuk memperkuat kualitas ilmiah, meningkatkan peluang publikasi, serta membuka akses ke ekosistem riset seperti memperluas jaringan, fasilitas laboratorium canggih, dan peluang hibah internasional,” sebutnya. 

Peluang UNAIR Tingkatkan Dampak Publikasi

Selanjutnya, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Community Development UNAIR, Prof M Miftahussurur dr MKes SpPD KGEH PhD FINASIM menegaskan bahwa UNAIR memiliki kinerja dan capaian publikasi yang sangat baik, termasuk dalam upaya peningkatan peringkat dunia. Namun, tantangan yang ada bukan sekadar jumlah publikasi, melainkan bagaimana menghasilkan publikasi dengan dampak ilmiah yang kuat, relevan secara global, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Kolaborasi internasional secara konsisten menghasilkan dampak ilmiah yang lebih tinggi. Hal ini tecermin dari indikator seperti CNCI, FWCI, CPP, dan CPF, dibanding publikasi domestik atau non-kolaboratif,” ungkapnya.

Menurutnya, konsorsium internasional atau aliansi formal peneliti serta institusi dari berbagai negara dengan berbagai fokus. Beragam fokus tersebut ialah riset bersama, mobilitas sumber daya, hingga publikasi bersama dapat menjadi strategi efektif dan berkelanjutan. Prof Miftah menambahkan bahwa Konsorsium berguna untuk memperluas jejaring, menggabungkan sumber daya, meningkatkan peluang publikasi di jurnal bereputasi, serta memperkuat daya saing universitas dalam pendanaan dan reputasi akademik. Selain itu, Prof Miftah menekankan bahwa keberhasilan konsorsium memerlukan dukungan institusi yang nyata. “Institusi dapat mendukung melalui tata kelola yang jelas, kebijakan yang mendukung kolaborasi internasional, pendanaan internal, serta penguatan kapasitas peneliti dalam penulisan dan pengelolaan publikasi,” jelasnya. 

Penulis: Putri Andini

Editor: Ragil Kukuh Imanto