Universitas Airlangga Official Website

UNAIR First Aid Movement Bekali Mahasiswa Hadapi Kegawatdaruratan

Peserta UNAIR First Aid Movement (UFAM) 2026 mengikuti praktik penanganan tersedak, luka terbuka, dan Resusitasi Jantung Paru (RJP) bersama pemateri di GKB Ruang 3.09, Sabtu (29/8/2026). (Foto: Penulis)
Peserta UNAIR First Aid Movement (UFAM) 2026 mengikuti praktik penanganan tersedak, luka terbuka, dan Resusitasi Jantung Paru (RJP) bersama pemateri di GKB Ruang 3.09, Sabtu (29/8/2026). (Foto: Penulis)

UNAIR NEWS – Kementerian Kesehatan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Airlangga (BEM UNAIR) menyelenggarakan UNAIR First Aid Movement (UFAM) 2026 pada Sabtu (29/8/2026) di Gedung Nano Ruang 3.09. Kegiatan ini membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama melalui penyampaian materi, praktik langsung, serta simulasi kasus kegawatdaruratan.

Mengusung slogan “Pahami Teorinya, Kuasai Praktiknya, Selamatkan Nyawanya”, UFAM 2026 menghadirkan Palang Merah Indonesia (PMI) Surabaya sebagai mitra pembekalan. Kegiatan ini menghadirkan pemateri M. Putra Setya Pamungkas SKep Ns dan M. Mukmin, serta para peserta dari mahasiswa Universitas Airlangga, mahasiswa perguruan tinggi lain, dan remaja pada rentang usia 17–22 tahun.

Pemateri UFAM 2026 menjelaskan teknik back blow sebagai salah satu langkah penanganan awal pada kondisi tersedak kepada peserta kegiatan di GKB Ruang 3.09, Sabtu (29/8/2026). (Foto: Penulis)
Bekali Peserta dengan Pengetahuan Dasar Pertolongan Pertama

Rangkaian kegiatan berawal dengan pre-test untuk mengetahui pemahaman awal peserta mengenai kondisi kegawatdaruratan. Peserta kemudian memperoleh materi mengenai bantuan hidup dasar, Resusitasi Jantung Paru (RJP), penanganan tersedak, pingsan, luka, serta cedera jaringan lunak.

Dalam pemaparan mengenai RJP, Putra menjelaskan pentingnya kemampuan pertolongan pertama sebagai langkah awal dalam menghadapi kondisi darurat, terutama ketika seseorang mengalami henti jantung atau henti napas.

“Resusitasi Jantung Paru merupakan teknik penyelamatan nyawa yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi sirkulasi dan pernapasan pada korban henti jantung atau henti napas,” jelas Putra.

Selain membahas RJP, M. Mukmin memberikan pembekalan mengenai penanganan sumbatan jalan napas. Materi tersebut mencakup penyebab, tanda-tanda, serta tindakan awal yang berlaku untuk membantu korban sebelum mendapatkan pertolongan medis.

“Penting untuk mengenali tanda-tanda sumbatan jalan napas agar pertolongan dapat diberikan secara tepat,” jelas M. Mukmin.

Pemateri UFAM 2026 memberikan penjelasan mengenai penanganan luka terbuka sebagai bagian dari materi pertolongan pertama kepada peserta kegiatan. (Foto: Penulis) 
Latih Keterampilan melalui Simulasi Kegawatdaruratan

Setelah memperoleh materi, peserta mengikuti praktik langsung melalui simulasi penanganan tersedak dan cedera. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk menerapkan teori yang telah mereka pelajari dalam skenario kegawatdaruratan.

Selain praktik, peserta mengikuti kuis edukatif dan roleplay kasus secara berkelompok. Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan evaluasi dari pemateri untuk meningkatkan ketepatan tindakan saat memberikan pertolongan pertama.

Melalui UFAM 2026, Kementerian Kesehatan BEM UNAIR berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesiapsiagaan generasi muda dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan. harapannya, pengetahuan dan keterampilan yang peserta peroleh mampu meningkatkan kepercayaan diri dalam memberikan pertolongan awal secara aman dan tepat.

Penulis: Nabila Afifah Abida

Editor: Ragil Kukuh Imanto