Universitas Airlangga Official Website

PBA UNAIR Ajak Mahasiswa Baru Bangun Kedekatan dengan Al-Quran

KH Mujahid Abdul Jabbar Lc saat memaparkan materi enkripsi ujung ke ujung. (Foto: Istimewa)
KH Mujahid Abdul Jabbar Lc saat memaparkan materi enkripsi ujung ke ujung. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menggelar Grand Opening Pembinaan Baca Al-Quran (PBA) 2026 pada Sabtu (5/9/2026) bertempat di Masjid Nuruzzaman Kampus B. Kegiatan itu sebagai penanda dimulainya rangkaian pembinaan rutin bagi mahasiswa baru muslim. Panitia merancang acara itu untuk menjawab persoalan konsistensi dalam menghafal dan mentadaburi Al-Quran yang kerap dialami mahasiswa di tengah kesibukan perkuliahan. 

PBA 2026 bukan hanya sebagai kegiatan seremonial, melainkan rangkaian pembinaan yang rutin dilaksanakan setiap tahun dan dikhususkan bagi mahasiswa baru muslim. Beberapa fakultas bahkan menjadikan program ini sebagai media wajib belajar bagi mahasiswa. Kehadiran PBA menjadi bagian penting dalam mendampingi mahasiswa menjalani kehidupan kampus yang tetap dekat dengan Al-Quran.

Bangun Interaksi Mendalam dengan Al-Quran

Menghadirkan KH Mujahid Abdul Jabbar Lc sebagai pembicara, Grand Opening PBA menjadi titik awal membangun dan mempertahankan nilai Al-Quran di dalam diri mahasiswa. Al-Quran sebagai peta rute jiwa manusia menuju kebahagiaan abadi. Setiap majelis ilmu senantiasa membawa utusan Allah yang bertugas mengingatkan manusia akan Sang Pencipta. 

KH Mujahid mengingatkan bahwa mahasiswa agar tidak terjebak dalam kerancuan mendefinisikan target dan tujuan dalam mendalami Al-Quran. Menurutnya, seseorang perlu memiliki gambaran yang jelas sebagai ukuran sebelum berbicara tentang tujuan yang sifatnya lebih abstrak. 

“Capaian sekecil apa pun tetap bermakna selama benar-benar dikuasai dan diamalkan. Satu ayat yang mampu dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sudah menjadi sebuah prestasi tersendiri,” tambahnya.

Lebih lanjut, KH Mujahid memaparkan tahap penting interaksi mahasiswa dengan Al-Quran. Interaksi pertama dimulai dari membaca, yang diawali dengan memahami struktur huruf sebelum melangkah ke kata dan kalimat. Ia menyebut Al-Quran sebagai bahan riset yang tetap relevan sepanjang zaman dan mendorong mahasiswa membedah huruf, kata, hingga kalimatnya.

“Kemudian, pahami dengan tadabbur Al-Quran. Amalkan apa yang dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Paling akhir, jangan lupa untuk terus ajarkan kembali kepada orang lain,” pungkasnya.

KH Mujahid mengajak mahasiswa untuk turut menyadarkan masyarakat bahwa yang paling baik bukan jumlah banyaknya hafalan, tetapi seberapa banyak amalnya. Setiap orang membawa amanah yang tidak pernah diketahui kapan akan bermanfaat bagi kehidupannya maupun orang lain.

“Caranya adalah dengan menggunakan metodologi yang paling disukai masyarakat. Jangan sampai membebani masyarakat dengan sesuatu yang indikatornya terlalu tinggi,” jelasnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk menyampaikan ilmu dengan cara sederhana. Menyampaikan satu ayat yang memang dibutuhkan lebih baik daripada memaksa dengan beban yang terlalu tinggi.

Penulis: Qurrota A’yuni Latifa
Editor: Khefti Al Mawalia