Penggunaan DNA sebagai bahan pemeriksaan molekuler forensik, bukanlah tanpa kendala ataupun hambatan, melainkan terdapat hal yang dapat menyebabkan seorang ahli DNA forensik mengalami kesulitan, baik dalam pengerjaan sampel DNA, maupun ketika harus mengambil kesimpulan dari hasil pemeriksaan. Tidak tersedianya informasi yang berasal dari ayah dan ibu atau anak yang dapat digunakan sebagai pembanding pada proses pemeriksaan DNA forensik merupakan salah satu problem tersendiri dalam analisis DNA forensik.
Penerapan STR dalam menganalisis hubungan kekerabatan belum dilaksanakan di Indonesia. Penggunaan STR di Indonesia terhambat karena banyaknya suku bangsa yang tersebar di lokasi geografis dan budaya yang berbeda. Akibatnya, banyak waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan alat pendukung untuk identifikasi pribadi, pemetaan genetik, profil etnis, dan analisis kekerabatan.
Proses identifikasi yang menggunakan saudara kandung sebagai pembanding, akan dihadapkan pada kemungkinan adanya ketidakcocokan atau mismatch pada profil lokus DNA yang digunakan (Singh Negi et al., 2006). Persoalan yang terkait dengan penggunaan sibling DNA adalah tidak semua lokus pemeriksaan DNA forensik pada suspect identik dengan pembandingnya, sebagaimana jika menggunakan pembanding orang tua atau anak. Kondisi ini tentu saja menimbulkan kesulitan tersendiri dalam pengambilan kesimpulan pemeriksaan, ketika proses identifikasi dilakukan.

Suku Madura dapat dijumpai di berbagai wilayah Indonesia. Jiwa merantau serta desakan ekonomi telah menyebabkan suku Madura migrasi ke berbagai daerah di Indonesia. Migrasi yang dilakukan oleh suku Madura disebabkan karena keinginan untuk memperbaiki kehidupan sosial ekonomi dan pendidikan mereka. Salah satu tempat atau kota yang menjadi tempat migrasi permanen atau semi permanen oleh suku Madura yakni kota Surabaya, hal ini disebabkan kota yang terdekat serta saran trasportasinya lebih mudah. Tujuan penelitian ini mengetahui variasi genetic dan penurunan alel antar saudara kandung dari orang tua yang sama pada suku Madura di Surabaya.
Total varian alel 21 lokus STR pada suku Madura pada penelitian ini adalah 220 alel. Frekuensi alel setiap lokus tertera pada tabel 2. Rentang frekuensi alel : 0,0021-0,6042. Lokus TPOX memiliki varian alel terendah (5 varian alel), sedangkan lokus SE33 memiliki varian alel tertinggi (24 varian alel). Frekuensi alel digunakan untuk melihat keragaman genetik yang dimiliki oleh setiap populasi. Lokus yang polimorfik apabila jumlah alel dalam populasi pada lokus tersebut lebih besar dari satu dengan frekuensi alel kurang atau sama dengan 0,95.
Expected heterozigosity (He) pada 21 lokus STR suku Madura di Surabaya dapat dilihat di tabel 3. Nilai expected heterozigosity yang paling tinggi didapatkan pada lokus D19S433 (0,911) sedangkan yang paling rendah didapatkan pada lokus D22S1045 (0,607). Power of discrimination (PD) pada 21 lokus STR suku Madura di Surabaya dapat dilihat di tabel 3. Nilai power of discrimination yang tertinggi didapatkan pada 2 lokus yakni D5S818, D13S317 (0,968), sedangkan terendah pada lokus D2S1338 (0,857). Polymorphic Information Content (PIC) 21 lokus STR suku Madura di Surabaya dapat dilihat pada tabel 3. Nilai PIC tertinggi di lokus D22S1045 (0,765), rerata semua lokus memiliki nilai PIC > 0,5 menunjukkan bahwa semua lokus sangat polimorfis.
Tidak adanya allele sharing pada saudara kandung merupakan implikasi dari fakta bahwa tidak selalu saudara kandung berbagi alel yang dimilikinya dengan saudara kandungnya yang lain, sesuai dengan fakta teoritis hukum mendel tentang pewarisan. Sedangkan hasil Sibship index (SI) seperti pada tabel 4. Nilai SI suku Madura di Surabaya yakni 0,88-1,20.
Secara umum, nilai SI yang lebih besar (>1,0) sesuai dengan kemungkinan hubungan yang lebih tinggi. Semakin tinggi sibship index di atas 1,0, semakin tinggi kemungkinan kedua individu tersebut berkerabat sebagai saudara kandung. Demikian pula, SI yang lebih kecil (<1,0) sesuai dengan kemungkinan hubungan yang lebih rendah
Berdasarkan frekuensi alelik, Expected heterozygosity (He), power of discrimination (PD) and polymorphic information content (PIC) dan Sibship Index (SI) dapat disimpulkan bahwa 21 ini autosomal lokus STR dapat diterapkan dengan baik dalam identifikasi individu dan studi variasi genetik pada populasi Madura melalui pemeriksaan saudara kandung (Siblings).
Penulis : Prof.Dr.Ahmad Yudianto,dr.SpF.M.Subsp.S.B.M[K].,SH.,M.Kes
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2022/12/32-D22_1885_Ahmad_Yudianto_Indonesia1.pdf
Ahmad Yudianto, Agung Sosiawan, Nily Sulistyorini, Abdul Hadi Furqoni
Indah Nuraini Masjkur, Fery Setiawan [2022 Relationship Analysis of Sibling Pairs on Madurese Ethnicity in Surabaya, Using 12 STR Loci for The Paternity Test Process,J Int Dent Med Res 2022; 15(4): 1608-1613





