Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan isu keberlanjutan atau sustainability mendorong perubahan perilaku konsumen (Shao et al., 2017). Salah satu wujud nyata dari perubahan ini adalah meningkatnya penggunaan kemasan ramah lingkungan atau yang biasa dikenal dengan green packaging. Menumpuknya sampah, terutama sampah plastik yang sulit terurai menyebabkan pencemaran lingkungan baik di darat maupun laut.
Dampaknya bukan hanya lingkungan menjadi tercemar, bahkan binatangpun seperti ikan paus sperma di Wakatobi meninggal karena terdapat 6 kg sampah plastik (Dislhk, 2019). Dengan berbagai dampak negatif yang terjadi memunculkan berbagai gerakan-gerakan untuk mengurangi penggunaan plastik dan beralih ke kemasan yang lebih berkelanjutan.
Komitmen Keberlanjutan
Perusahaan global, misalnya Coca-cola telah menggunakan kurang lebih 90% bahan ramah lingkungan dalam kemasannya (Simões-Coelho et al., 2023). Hal ini menjadi bukti komitmen terhadap keberlanjutan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi bisnis perusahaan. Selain Coca-cola, Uber Eats juga melakukan kampanye untuk mendorong penggunaan kemasan daur ulang dalam pengiriman makanan secara online (Yue et al., 2024).
Langkah-langkah untuk mengurangi pencemaran limbah plastik ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang semakin ketat dalam penggunaan plastik sekali pakai. Salah satu contohnya yaitu mengeluarkan kebijakan pengenaan biaya dua ratus rupiah bagi konsumen yang ingin menggunakan kantong plastik untuk belanja. Pemerintah bekerja sama dengan berbagai swalayan untuk mendukung program tersebut misalnya dengan Indomaret dan Alfamart (Hidayat et al., 2019). Program ini sukses untuk mengurangi 60% penggunaan kantong plastik. Selanjutnya pada tahun 2020 pemerintah juga meluncurkan program “Indonesia bebas plastik” dengan cara mengurangi sampah sebesar 70%. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kemasan yang tidak merusak lingkungan (Dislhk, 2019).
Branding Perusahaan
Penggunaan green packaging bukan hanya semata-mata untuk menarik konsumen, namun hal ini juga berperan penting dalam strategi branding perusahaan. Dengan semakin meningkatnya kesadaran konsumen akan isu lingkungan, perusahaan dapat menggunakan hal tersebut untuk meningkatkan citra positif merek mereka (Ramadhanti et al., 2024). Konsumen saat ini, terutama di negara-negara maju memiliki kecenderungan untuk memilih produk memiliki kepedulian akan isu-isu keberlanjutan. Di Indonesia, tren serupa mulai terlihat. Perusahaan-perusahaan di Indonesia semakin banyak beralih menggunakan green packaging untuk mengikuti tren ini.
Teh Botol Sosro, merupakan salah satu merek minuman terkemuka di Indonesia telah menerapkan penggunaan botol kaca yang dapat digunakan kembali dalam jangka panjang (Soedarmadji et al., 2015). Selain untuk menjaga kualitas produk, strategi ini dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan plastik sekali pakai. Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya menjadi alat pemasaran, namun juga menjadi bagian dari inovasi produk yang lebih bertanggung jawab kepada lingkungan.
Efek Kemasan Ramah Lingkungan
Meskipun banyak penelitian telah dilakukan untuk melihat dampak green packaging terhadap perilaku konsumen secara umum, penelitian yang mengkaji efek dari kemasan ramah lingkungan di kalangan anak muda di negara berkembang masih terbatas. Sebagai respons terhadap keterbatasan ini, sebuah studi dilakukan terhadap 276 responden di Indonesia untuk melihat bagaimana perbedaan gender dalam hal niat membeli produk dengan kemasan ramah lingkungan.
Dalam penelitian ini terdapat temuan menarik. Wanita secara umum memiliki niat pembelian yang lebih tinggi terhadap produk green packaging dibandingkan dengan pria. Alasannya: pertama, kepedulian terhadap lingkungan sering kali mendorong wanita untuk lebih teliti dalam memilih produk yang mereka beli, termasuk mempertimbangkan aspek kemasan yang ramah lingkungan. Kedua, wanita cenderung memikirkan mengenai pendapat orang lain mengenai tindakan yang dilakukan.
Dalam hal ini, membeli produk yang menggunakan green packaging merupakan suatu inisiatif yang baik dalam mendukung keberlanjutan oleh karenanya hal ini pasti akan didukung oleh lingkungan sosial. Ketiga, wanita cenderung melihat green packaging sebagai sebuah solusi yang baik dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Sedangkan pria, cenderung cuek terhadap pandangan sosial dan kurang peduli terhadap isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan.
Penelitian ini tentunya membawa implikasi bahwa perusahaan perlu mempertimbangkan strategi komunikasi yang berbeda berdasarkan demografi gender ketika memasarkan produk yang menggunakan green packaging. Wanita cenderung lebih terpengaruh oleh faktor eksternal seperti norma sosial dan kepedulian lingkungan, sehingga pesan-pesan yang menekankan pentingnya isu keberlanjutan seperti yang tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) mungkin lebih efektif untuk menarik konsumen wanita daripada pria.
Tantangan dan Peluang di Masa Depan
Meskipun banyak perusahaan yang sudah menggunakan green packaging, namun masih terdapat beberapa tantangan besar terutama untuk negara-negara berkembang. Tantangan tersebut mencakup biaya produksi yang lebih tinggi terhadap green packaging, kurangnya infrastruktur daur ulang yang memadai, serta kesenjangan kesadaran di kalangan masyarakat tentang pentingnya penggunaan kemasan yang berkelanjutan.
Namun, dengan dukungan dari pemerintah, inisiatif perusahaan, dan meningkatnya kesadaran konsumen, peluang untuk memperluas penggunaan green packaging tetap sangat besar. Perusahaan yang mampu memanfaatkan tren ini tidak hanya akan berkontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik, tetapi juga akan memperkuat citra merek mereka di mata konsumen yang semakin peduli dengan isu keberlanjutan.
Penulis: Dr Tuwanku Aria Auliandri
Sumber: Gender and Green Packaging among University Student in Developing Country, terbit pada jurnal terindex Scopus Q2, yaitu Revista de cercetare și intervenție socială, edisi sept 2024, vol. 86, pp. 127-139, https://doi.org/10.33788/rcis.86.10





