Universitas Airlangga Official Website

Pengajian Rutin Pegawai UNAIR, KH. Ma’ruf Khozin Ajak Pegawai Membersihkan Jiwa

Potret Foto Bersama Jajaran Dosen FPK UNAIR, Direktur SDM UNAIR dan Ustadz KH Ma’ruf Khozin dalam Agenda Pengajian Rutin pada Kamis (24/11/22) (Foto: Wahyu Saputro)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) adakan pengajian rutin untuk sivitas akademika. Pada kesempatan kali ini tema yang diangkat adalah “Tasawuf membersihkan Jiwa”. Bertempat di Gedung Cakalang Lantai 5 Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) UNAIR, pada Kamis Siang (24/11/22), pengajian rutinan tersebut diisi oleh Ustadz KH Ma’ruf Khozin Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Prof Amin Alamsjah Ir MSi PhD, mengatakan bahwa pengajian rutin digelar agar kita dapat meningkatkan iman taqwa serta pengajian rutin ini wujud silaturahmi bagi pegawai UNAIR. 

Pada awal ceramahnya, Ustadz Ma’ruf mengatakan dalam surat Asy Syams: 7-10, menjelaskan bahwa jiwa itu bisa membawa manusia untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Agar hati dapat mengarahkan jiwa untuk berbuat kebaikan, lanjutnya, maka hendaknya kita mempraktikan ilmu tasawuf atau menyucikan jiwa.

“Pembersihan jiwa ini berarti kita berusaha untuk menyusun niat berbuat baik untuk Allah SWT. Kita melatih jiwa kita untuk bisa sembuh dari penyakit-penyakit hati. Penyakit hati itu seperti apa? Iri hati bila seseorang mendapatkan limpahan nikmat, tidak mau bersyukur atas apa yang kita punya, dan merasa bahwa kita yang paling tahu,” ujar Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur itu.

Selanjutnya, Ustadz Ma’ruf mengatakan bahwa tasawuf ini dapat menjadi obat hati dari penyakit seperti tamak’, iri hati, sombong, gosip dan ujub dengan bertasawuf dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui berperilaku jujur, baik kepada diri sendiri maupun orang lain sehingga tutur kata selaras dengan perbuatan. 

“Bagi seorang pegawai UNAIR, menjadi seseorang yang cekatan dan kompeten terhadap tupoksinya juga merupakan bentuk tasawuf,” jelasnya.

Tak hanya itu, Ustadz Ma’ruf menjelaskan bahwa seorang muslim harus tawadhu, yang merupakan tengah-tengah dari sikap rendah diri dan sombong. Hal ini berarti bahwa orang muslim tidak boleh minder atau pemalu akan kemampuannya yang dimiliki, tapi juga jangan merasa yang paling baik atau ujub

“Kebaikan karena tasawuf akan kembali lagi ke kita sendiri, sebagaimana yang telah dicantumkan pada dalam al Quran dan hadist,” pungkasnya.

Penulis: Langgeng Widodo

Editor: Nuri Hermawan