Universitas Airlangga Official Website

Prospek Penggunaan Sel Punca sebagai Terapi yang Menjanjikan untuk Cidera Anyaman Saraf Brakialis

Foto by Alodokter

Cidera anyaman saraf brakialis adalah salah satu cidera yang dapat membuat kecacatan berat pada pasien. Berbagai usaha telah dilakukan untuk menyelamatkan motor neuron yang cidera dari proses degenerasi dan untuk mengembalikan inervasi dari otot, termasuk usaha nonoperatif berupa farmakologi dan juga tindakan operasi mikro, selama beberapa tahun terakhir. Namun tetap terdapat keterbatasan dari daya tahan jangka panjang motor neuron dan hasil keluaran secara fungsional. Hilangnya persarafan untuk otot membuat otot mengecil. Pengembalian fungsi otot ini dapat dicapai secara optimal jika inervasi dikembalikan secepatnya. Kebalikannya, jika terdapat interupsi yang cukup lama untuk pengembalian inervasinya, maka akan menyebabkan pengecilan otot yang tidak dapat kembali seperti semula.

Baru-baru ini, terdapat strategi untuk penggantian sel yang telah diimplementasikan untuk terapi dari degenerasi motor neuron. Sel punca mesenkimal telah menjadi focus utama untuk perbaikan saraf karena sel tersebut memiliki jalur diferensiasi menjadi fenotip saraf – sel progenitor saraf. Sel progenitor saraf yang telah ditanam dapat memunculkan sejumlah besar protein penting untuk penyembuhan saraf setelah transplantasi pada area ventral horn 2 minggu setelah terjadi avulsi atau cidera. Hal ini menunjukkan bahwa 2 minggu setelah avulsi, area ventral horn mendukung diferensiasi saraf dan menyediakan lingkungan yang kondusif untuk memunculkan regio spesifik untuk pertumbuhan saraf. Transplantasi dari sel progenitor saraf pada area ventral horn sebagai terapi untuk cidera anyaman saraf brakialis dapat menjadi terapi yang menjanjikan. Sebagai modalitas yang cukup baru, maka dibutuhkan kajian sistematis dari studi preklinis terbaru untuk memastikan keamanan dan efektifitasnya. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi kembali penggunaan sel punca untuk terapi cidera anyaman saraf Brakialis secara sistematis.

Studi ini merupakan kajian sistematis dengan kriteria inklusi adalah studi desain yang dilakukan baik in vivo maupun in vitro, kelompok studi termasuk hewan dan manusia dengan cidera anyaman saraf brakialis, kelompok studi mendapat perlakuan pemberian sel punca, evaluasi hasil keluaran berupa fungsional, biomekanika, atau keamanan, dan studi yang menggunakan Bahasa Inggris. Dari hasil kaijan sistematis ini, didapatkan bahwa kebanyakan studi dilakukan di Cina (70%), dan 70% studi adalah studi pada hewan, sisanya pada manusia. Sel punca pada studi kebanyakan berasal dari sumsum tulang (4 studi). Semua studi merupakan studi in vivo. Terdapat 5 studi yang melakukan penelitian pada anyaman saraf brakialis bagian atas, 2 studi pada bagian bawah, dan 3 studi pada anyaman saraf brakialis secara total.

Studi ini menunjukkan bahwa penggunaan sel punca pada cidera anyaman saraf brakialis memiliki peran penting yang menjanjikan untuk proses penyembuhan, regenerasi saraf dan otot yang telah mengalami denervasi, seperti yang ditunjukkan pada studi preklinis dan klinis. Sel yang ditransplantasikan dapat mengeluarkan faktor pertumbuhan, sitokin, dan hormon yang memiliki banyak keuntungan untuk regenerasi dan penyembuhan saraf. Protein-protein ini  memiliki efek parakrin setelah ditransplantasikan, dan ini termasuk neuroproteksi, panduan untuk pertumbuhan aksonal, dan kontrol dari pertumbuhan jaringan parut glia. Pada fase awal cidera pada saraf akan terjadi inflamasi akut dalam 24 jam pertama, dimana akan terjadi peningkatan dari Interleukin-1, Interleukin-6, dan Tumor Necrosis Factor-α, yang membuat lingkungan sekitar area cidera menjadi tidak kondusif untuk transplantasi sel. Pada fase kronis, terjadi pertumbuhan jaringan parut glia, adanya molekul inhibisi, dan kurangnya faktor pertumbuhan yang juga membuat transplantasi sel tidak optimal. Transplantasi sel progenitor saraf pada fase subakut, yaitu 2 minggu setelah cidera, memiliki hasil yang lebih baik karena lingkungan sekitar yang dapat meningkatkan diferensiasi sel yang ditranplantasikan dan mempromosikan restorasi saraf secara optimal. Penggunaan sel punca pada cidera anyaman saraf brakialis ini tidak hanya menunjukkan perkembangan yang baik untuk regenerasi saraf, namun juga dapat memperbaiki sel otot. Dari hasil biopsi otot pada pasien dengan cidera anyaman saraf brakialis, didapatkan penurunan jaringan fibrosis pada otot, dan peningkatan pada diameter serat otot, serta sel satelit sehingga pada akhirnya juga dapat mengembalikan kekuatan otot.

Penulis: Dr. Heri Suroto, dr. Sp.OT(K)

Artikel jurnal : Prospect of Stem Cells as Promising Therapy for Brachial Plexus Injury : A Systematic Review. Stem Cells and Cloning: Advances and Applications 2022:15 29–42

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9234311/