Kanker kolorektal (CRC) merupakan salah satu jenis kanker paling umum dan menyebabkan kematian di dunia. Mutasi gen adenomatous polyposis coli (APC) pada sekitar 80% kasus kanker kolorektal mengganggu jalur sinyal Wingless-related integration site (Wnt)/β-catenin, yang merupakan faktor krusial dalam karsinogenesis. Gangguan ini dapat menyebabkan konsekuensi seperti segregasi spindle yang aberran dan katas-trofi mitosis.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas ekstrak etanol dari buah okra merah (Abelmoschus esculentus) dalam menginduksi apoptosis pada sel kanker kolorektal (SW480) dengan menghambat jalur sinyal Wnt/β-catenin. Kanker kolorektal menempati peringkat keempat sebagai kanker paling umum dan peringkat kedua sebagai penyebab kematian terkait penyakit di dunia, dengan jumlah kematian tahunan mencapai lebih dari 600,000 orang.
Meskipun perkembangan pengobatan untuk pasien dengan CRC telah berkembang pesat, banyak pasien masih rentan terhadap kekambuhan setelah menjalani operasi. Oleh karena itu, diperlukan adjuvan yang tepat untuk mengurangi angka kematian. Belakangan ini, banyak penelitian tertuju untuk menyelidiki penggunaan produk herbal untuk pencegahan dan terapi kanker.
Abelmoschus esculentus (okra merah) adalah tanaman dari famili Malvaceae yang mengandung komponen antioksidan seperti quercetin dan flavonoid. Beberapa studi telah menyelidiki potensi anti-inflamasi dan anti-kanker dari ekstrak kasar okra merah pada kanker payudara dan serviks. Namun, belum ada studi yang melaporkan aktivitas anti-kanker dari EEROP pada sel kanker kolorektal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki potensi aktivitas EEROP sebagai agen anti-kanker pada sel SW480 serta menginvestigasi jalur sinyal yang terpengaruh oleh perlakuan dengan EEROP.
Penelitian ini menunjukkan bahwa EEROP mampu menginduksi apoptosis pada sel SW480 dengan mengatur jalur sinyal Wnt/β-catenin. Perlakuan dengan EEROP selama 72 jam secara signifikan meningkatkan jumlah sel yang mengekspresikan protein caspase-3 dan tingkat pemotongan protein PARP1. Selain itu, perlakuan ini juga mengurangi ekspresi β-catenin dan mengubah fosforilasi GSK3β.
Terkait implikasi untuk pengobatan kanker, temuan dari penelitian ini menjanjikan karena beberapa alasan:
- Alternatif Alami: EEROP menawarkan alternatif alami untuk pengobatan CRC, yang berpotensi mengurangi ketergantungan pada kemoterapi tradisional beserta efek samping yang terkait.
- Terapi Terarah: Dengan menargetkan jalur sinyal Wnt/β-catenin secara khusus, EEROP dapat menawarkan pendekatan pengobatan yang lebih tepat dan efektif.
- Arah Masa Depan: Meskipun hasilnya menjanjikan, diperlukan studi lebih lanjut, terutama menggunakan model hewan dan uji klinis, untuk memvalidasi temuan ini dan mengeksplorasi efikasi serta keamanan EEROP pada manusia.
Secara kesimpulan, ekstrak etanol dari buah okra merah (EEROP) menunjukkan potensi signifikan sebagai agen anti-kanker untuk kanker kolorektal dengan menghambat jalur sinyal Wnt/β-catenin dan menginduksi apoptosis pada sel CRC. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya eksplorasi senyawa alami untuk terapi kanker dan menyoroti jalur yang menjanjikan untuk pengobatan di masa depan.
Untuk memvalidasi hasil studi in vitro ini, studi lanjutan menggunakan model hewan diperlukan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa EEROP memiliki potensi sebagai agen anti-kanker terhadap kanker kolorektal dengan menghambat jalur sinyal Wnt/β-catenin dan menginduksi apoptosis pada sel kanker. Meskipun demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut, terutama dengan menggunakan model hewan dan uji klinis, untuk memvalidasi temuan ini dan mengeksplorasi efikasi serta keamanan EEROP pada manusia. Dengan memanfaatkan kekuatan alam, peneliti dapat terus menemukan terapi baru yang dapat meningkatkan hasil bagi pasien yang berjuang melawan kanker kolorektal di seluruh dunia.
Penulis: Firli Rahmah Primula Dewi, S.Si., M.Si., Ph.D.





