Pasien yang dirawat di intensive care unit (ICU) bedah merupakan kelompok dengan risiko tinggi mengalami infeksi serius, termasuk infeksi jamur invasif atau invasive fungal infections (IFI). Kondisi ini bukan sekadar komplikasi tambahan, melainkan dapat menjadi penentu hidup dan mati. Di antara berbagai patogen penyebab, spesies Candida merupakan penyebab tersering, dengan mortalitas yang tetap tinggi meskipun teknologi perawatan intensif terus berkembang.
Pasien ICU bedah menghadapi banyak faktor risiko sekaligus: penggunaan antibiotik spektrum luas yang mengganggu keseimbangan mikrobiota normal, prosedur operasi besar yang merusak barier alami tubuh, pemasangan kateter intravaskular, ventilasi mekanik, nutrisi parenteral, hingga kondisi imun yang menurun akibat penyakit dasar. Kombinasi faktor ini menciptakan “pintu masuk” ideal bagi infeksi jamur invasif.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa IFI di ICU bukan masalah kecil. Studi internasional EPIC II melaporkan bahwa infeksi jamur mencakup hampir 20% dari seluruh infeksi ICU. Di Indonesia sendiri, Candida dilaporkan menyumbang lebih dari 90% infeksi jamur di ICU, dengan angka kematian mencapai 50%. Pada beberapa laporan lain, mortalitas bahkan dapat mencapai lebih dari 80%. Angka ini menunjukkan bahwa pencegahan jauh lebih penting dibandingkan sekadar menunggu infeksi muncul.
Salah satu strategi yang banyak digunakan adalah profilaksis antijamur, yaitu pemberian obat antijamur sebelum infeksi benar-benar terjadi pada pasien berisiko tinggi. Tujuannya adalah menekan kolonisasi jamur sebelum berkembang menjadi infeksi invasif. Namun, strategi ini masih menjadi perdebatan karena kekhawatiran mengenai resistensi antijamur, toksisitas obat, interaksi antarobat, dan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Sebuah systematic review dan meta-analysis terbaru yang menganalisis 11 randomized controlled trials memberikan jawaban yang cukup kuat. Penelitian ini menunjukkan bahwa profilaksis antijamur secara signifikan menurunkan risiko IFI pada pasien ICU bedah dengan risk ratio sebesar 0,63. Artinya, risiko infeksi jamur invasif dapat berkurang sekitar 37% dibandingkan pasien tanpa profilaksis. Menariknya, manfaat ini paling jelas terlihat pada strategi profilaksis langsung, bukan pendekatan pre-emptive yang menunggu munculnya biomarker seperti β-D-glucan atau galactomannan.
Dari sisi jenis obat, golongan azole—terutama fluconazole—menunjukkan efektivitas paling konsisten dalam menurunkan risiko IFI. Sebaliknya, polyene dan echinocandin belum menunjukkan manfaat yang signifikan dalam analisis ini. Hal ini memperkuat posisi fluconazole sebagai pilihan utama profilaksis pada pasien dengan risiko tinggi, terutama bila tingkat resistensi lokal masih rendah.
Yang menarik, meskipun profilaksis antijamur berhasil menurunkan angka infeksi, penelitian ini tidak menemukan penurunan mortalitas secara bermakna. Hal ini bukan berarti terapi tidak bermanfaat. Kematian pada pasien ICU biasanya dipengaruhi banyak faktor lain seperti sepsis bakteri, gagal multiorgan, dan komplikasi pascaoperasi. Dengan kata lain, mencegah IFI tetap penting walaupun tidak selalu langsung tercermin pada angka kematian keseluruhan.
Dari sisi keamanan, hasil penelitian cukup meyakinkan. Tidak ditemukan peningkatan risiko efek samping berat maupun gangguan fungsi hati pada kelompok yang menerima profilaksis antijamur. Ini menunjukkan bahwa penggunaan profilaksis relatif aman bila diberikan secara selektif dan dengan pemantauan yang baik.
Namun demikian, profilaksis antijamur tidak boleh diberikan secara sembarangan. Penggunaan yang terlalu luas dapat mendorong munculnya spesies Candida non-albicans yang lebih resisten, seperti Candida glabrata dan Candida krusei. Selain itu, perubahan ekologi mikroba rumah sakit juga dapat memperumit terapi di masa depan. Oleh karena itu, pendekatan terbaik adalah penggunaan yang terarah pada pasien berisiko tinggi, seperti pasien dengan operasi abdomen kompleks, kebocoran anastomosis, pankreatitis nekrotikan, syok septik, atau pasien dengan nutrisi parenteral dan akses vena sentral jangka panjang.
Pada akhirnya, profilaksis antijamur bukan sekadar soal memberi obat lebih awal, tetapi tentang strategi memilih pasien yang tepat. Dalam era resistensi antimikroba yang semakin mengkhawatirkan, prinsip “tepat pasien, tepat waktu, tepat obat” menjadi jauh lebih penting daripada sekadar “memberi semua orang perlindungan.” Pencegahan IFI di ICU bedah memang perlu, tetapi harus dilakukan dengan cermat, berbasis bukti, dan tetap mempertimbangkan keberlanjutan terapi antijamur di masa depan.
Penulis:
Ika N. Kadariswantiningsih, dr., MMSc., Ph.D
Maulana A. Empitu, dr., MSc., Ph.D
Detail tulisan ini dapat dilihat di:
Ika N. Kadariswantiningsih et al. Biomedical Reports, https://doi.org/10.3892/br.2026.2135





