Disregulasi sistem kekebalan tubuh dapat berdampak negatif pada kesehatan dan kualitas hidup. Berbagai faktor, termasuk penuaan dan penyakit, dapat membahayakan kinerja kekebalan tubuh sehingga menurunkan kekebalan. Sistem kekebalan tubuh sangat penting untuk memerangi patogen yang menyerang. Imunostimulan berkontribusi pada proses ini dengan merangsang beberapa mekanisme kekebalan tubuh, seperti fagositosis, pembentukan antibodi, dan respons limfosit T dan B.
Beberapa tanaman obat diketahui mengandung senyawa yang mempunyai aktivitas imunostimulan, meskipun agen tersebut juga dapat diproduksi secara sintetis. Salah satu tanaman yang banyak diteliti adalah pegagan (Centella asiatica L.) atau gotu kola, karena diketahui mempunyai aktivitas farmakologi yang sangat luas. Tanaman ini mengandung beberapa metabolit sekunder, antara lain alkaloid, saponin, tanin, triterpenoid, dan glikosida. Asiatikosida adalah senyawa utama dan diketahui mempunyai kemampuan untuk memodulasi respons kekebalan. Namun, senyawa tersebut memiliki kelarutan air yang rendah, sehingga menyebabkan rendahnya bioavailabilitas dan efektivitas terapeutiknya. Aplikasi nanoteknologi dalam produk farmasi telah dieksplorasi secara luas untuk meningkatkan efisiensi penghantaran bahan aktif. Dengan mengubah partikel menjadi berukuran skala nano, luas permukaannya meningkat, sehingga dapat meningkatkan kelarutan, disolusi dan pada akhirnya meningkatkan bioavailabilitas. Selain itu, sistem berbasis nanopartikel memungkinkan pelepasan obat yang terkontrol dan membantu meminimalkan efek samping yang tidak diinginkan selama pengobatan. Oleh karena itu, bahan yang digunakan sebagai pembawa nanopartikel harus memiliki biokompatibilitas yang baik dan toksisitas minimal. Salah satu polimer yang menarik perhatian adalah kitosan, suatu polimer polisakarida, terdiri dari unit berulang D-glukosamin dan N-asetil-D-glukosamin yang dihubungkan melalui ikatan glikosidik β-(1→4). Struktur molekul kitosan mengandung beberapa gugus reaktif, termasuk amina, hidroksil primer, dan gugus hidroksil sekunder, yang mudah dimodifikasi sebagai pembawa obat berukuran nano.
Nanopartikel ekstrak pegagan berbasis kitosan dikembangkan untuk meningkatkan aktivitas imunostimulan. Nanopartikel dipreparasi dengan metode gelasi ionik, diikuti dengan pengeringan beku. Formulasi yang dihasilkan menunjukkan karakteristik fisikokimia yang menguntungkan, termasuk ukuran partikel dalam kisaran nanometer dan indeks polidispersitas rendah (PDI < 0,3) dengan efisiensi enkapsulasi tinggi hingga mendekati 90 %. Evaluasi struktur kristal menunjukkan perubahan ekstrak dari bentuk kristal ke bentuk amorf yang berkorelasi dengan peningkatan disolusi dan bioavailabilitas. Uji aktivitas secara in vivo menunjukkan bahwa pemberian nanopartikel ekstrak pegagan-kitosan secara signifikan merangsang aktivitas fagositik makrofag pada tikus. Peningkatan respons imun bawaan ini juga tercermin dari peningkatan berat relatif organ yang berhubungan dengan kekebalan tubuh, terutama limpa dan hati, jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Nanopartikel ekstrak pegagan-kitosan secara efektif meningkatkan mekanisme pertahanan kekebalan yang dimediasi oleh makrofag.
Sistem nanopartikel berbasis kitosan tidak hanya meningkatkan sifat fisikokimia ekstrak tetapi juga meningkatkan aktivitas imunologisnya. Oleh karena itu, nanopartikel ekstrak pegagan-kitosan sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sediaan farmasi, produk nutraseutikal, dan makanan fungsional untuk mendukung fungsi kekebalan tubuh. Penelitian lebih lanjut direkomendasikan untuk menyelidiki stabilitas jangka panjang, pelepasan obat, dan efikasinya agar dapat dikembangkan menjadi suatu produk farmasi dan produk kesehatan lainnya.
Penulis: Retno Sari, Agus Pratiwi, Aty Widyawaruyanti
Detail tulisan ini dapat dilihat di: Development of chitosan-based Centella asiatica nanoparticles and their immunostimulatory activity through macrophage phagocytosis assay. J. Umm Al-Qura Univ. Med. Sci. 12, 19 (2026). https://doi.org/10.1007/s44361-026-00031-7
https://link.springer.com/article/10.1007/s44361-026-00031-7





