Pemberontakan Zapatista di Chiapas, Meksiko, pada 1994 selama ini dikenal sebagai gerakan bersenjata masyarakat adat melawan pemerintah. Namun, perjalanan gerakan Ejército Zapatista de Liberación Nacional (EZLN) ternyata tidak berhenti pada perlawanan dengan senjata. Setelah menghadapi kekuatan militer pemerintah, Zapatista justru mengembangkan cara baru untuk mempertahankan perjuangannya: menggunakan simbol, komunikasi, dan kehidupan komunitas sebagai bagian dari perlawanan.
Perubahan strategi tersebut menjadi perhatian Lalu Ary Kurniawan Hardi dan tim mahasiswa Mata Kuliah Gerakan Sosial dan Politik Identitas dalam sebuah penelitian mengenai perubahan cara perjuangan EZLN. Penelitian ini secara khusus melihat bagaimana Zapatista beralih dari pemberontakan bersenjata menuju politik simbol dan perlawanan tanpa kekerasan.
Untuk menelusuri perubahan tersebut, para peneliti menggunakan metode kualitatif. Mereka mengkaji berbagai sumber, mulai dari literatur akademik, pernyataan resmi Zapatista, dokumenter, arsip digital, hingga berbagai sumber daring yang merekam perkembangan gerakan tersebut. Informasi kemudian dibandingkan dan disusun berdasarkan perkembangan EZLN dari masa ke masa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol bukan sekadar atribut dalam gerakan Zapatista, tetapi menjadi bagian dari strategi perjuangan. Salah satu yang paling dikenal adalah pasamontaña, topeng hitam yang menutupi wajah anggota EZLN. Topeng tersebut tidak hanya melindungi identitas, tetapi juga menggambarkan kelompok masyarakat yang selama ini tidak terlihat dan tidak didengar. Bintang merah, bandana merah, dan atribut lainnya juga digunakan untuk menyampaikan pesan tentang perlawanan dan solidaritas.
Perlawanan itu kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Zapatista membangun sekolah, layanan kesehatan, sistem peradilan, dan pemerintahan komunitas sendiri melalui Caracoles dan Juntas de Buen Gobierno. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengatakan bahwa kehidupan masyarakat dapat diatur secara berbeda, tetapi juga mencoba menjalankannya dalam komunitas mereka sendiri.
Penelitian tersebut menemukan bahwa perubahan ini membantu EZLN mempertahankan dukungan ketika ruang untuk perjuangan bersenjata semakin terbatas. Jaringan masyarakat sipil, aktivis, akademisi, dan media internasional ikut memperluas suara Zapatista. Perlawanan pun bergeser dari medan perang menuju perebutan perhatian, dukungan, dan legitimasi publik.
Temuan ini menunjukkan bahwa kekuatan gerakan sosial tidak selalu ditentukan oleh kemampuan menggunakan kekerasan. Dalam kasus Zapatista, topeng, narasi, media, dan cara mengatur kehidupan masyarakat justru menjadi bagian dari cara mereka mempertahankan perjuangan. Perubahan tersebut membuat Zapatista tetap relevan, bahkan setelah pemberontakan bersenjata mereka berakhir.





